Tren melakukan rangkaian skincare di dalam pesawat ramai dibagikan di TikTok. Sejumlah pelancong mengaku mengalami kulit kering hingga jerawat setelah penerbangan panjang, sehingga rutinitas perawatan kulit di kabin dianggap sebagai solusi. Namun para dermatolog menilai, hubungan antara kondisi di pesawat dan kesehatan kulit lebih kompleks, dan tidak semua langkah skincare perlu dilakukan selama perjalanan.
Dermatolog bersertifikat sekaligus pendiri Metropolis Dermatology, Dr. James Y. Wang, menjelaskan bahwa kabin pesawat umumnya memiliki tingkat kelembapan di bawah 20%. Angka ini jauh lebih rendah dibanding kondisi yang biasa diterima kulit. Menurutnya, lingkungan yang sangat kering dapat meningkatkan kehilangan air transepidermal, sehingga kulit lebih cepat mengalami dehidrasi.
Dr. Wang menambahkan, paparan kelembapan serendah itu dapat membuat skin barrier kurang optimal dalam mencegah kekeringan, kulit kusam, dan iritasi. Meski begitu, ia menegaskan udara pesawat tidak menyebabkan kerusakan permanen. Karena itu, rutinitas skincare saat bepergian sebaiknya bersifat terarah, bukan sekadar menyalin ritual perawatan kulit di rumah.
Menurut para dermatolog, prioritas utama perawatan kulit di pesawat adalah menjaga skin barrier dan mempertahankan hidrasi. Dr. Wang menyarankan agar rutinitas dibuat sesederhana mungkin, serta menghindari bahan aktif yang keras seperti retinoid. Ia menilai kulit sudah berada dalam kondisi tertekan selama penerbangan, sehingga menambah terlalu banyak langkah atau produk justru berisiko merugikan.
Selain faktor kelembapan, aspek kebersihan juga menjadi perhatian. Dermatolog bersertifikat dan ahli bedah kosmetik Melanie Palm mengingatkan bahwa pesawat adalah ruang tertutup dengan udara yang terus bersirkulasi dan banyak orang di sekitar. Ia menekankan pentingnya kehati-hatian saat menyentuh wajah, karena mengaplikasikan produk dengan tangan yang belum bersih atau terlalu sering menyentuh wajah dapat memasukkan bakteri dan meningkatkan risiko jerawatan.
Di sisi lain, dermatolog bersertifikat Dr. Ryan Turner menilai maraknya tren skincare di pesawat di media sosial tidak selalu didorong kebutuhan kesehatan kulit. Ia menyebut tren tersebut bisa terkait dengan dorongan estetika “clean girl” yang visual dan mudah dibagikan: kulit tampak segar, penggunaan under-eye patches, dan tampilan akhir dewy yang memberi kesan rapi serta effortless, terutama di tengah konteks perjalanan yang kerap identik dengan stres dan kelelahan.
Dalam lanskap kecantikan saat ini, skincare dinilai semakin bersifat visual. Berbagai produk seperti eye patches dan face mask tidak hanya dipakai untuk mengatasi masalah kulit, tetapi juga menjadi simbol gaya hidup dan budaya populer. Namun para ahli menekankan, saat berada di pesawat, langkah paling aman adalah menjaga rutinitas tetap simpel, fokus pada hidrasi, mendukung skin barrier, serta menghindari langkah yang tidak perlu.

