Dapur kerap dipandang sebagai ruang paling sederhana di rumah: tempat memasak, mencuci, lalu selesai. Namun bagi sejumlah ibu di Nagari Cupak, Kabupaten Solok, dapur justru menjadi ruang belajar yang membuka cara pandang baru terhadap bahan-bahan yang selama ini dianggap biasa.
Kelapa, beras, dan minyak bekas selama ini umumnya dimanfaatkan sebatas kebutuhan sehari-hari. Sebagian bahkan berakhir sebagai limbah tanpa dipikirkan ulang. Melalui kegiatan belajar bersama yang berlangsung di nagari tersebut, para peserta diajak melihat potensi bahan dapur yang bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai tambah.
Kegiatan ini disusun bukan sebagai pelatihan yang kaku, melainkan ruang berbagi pengalaman. Peserta berdiskusi, mencoba, dan meninjau kembali dapur rumah tangga sebagai bagian dari proses pembelajaran yang dekat dengan keseharian mereka.
Dalam sesi praktik, minyak bekas diperkenalkan bukan semata sebagai limbah, melainkan bahan yang masih bisa dimanfaatkan. Kelapa dan beras juga diposisikan kembali sebagai komoditas lokal yang dapat diolah lebih lanjut jika masyarakat memiliki pengetahuan yang memadai.
Berbagai contoh pengolahan bahan rumah tangga diperkenalkan, mulai dari pembuatan minyak tanak, VCO secara spontan, hingga sabun ramah lingkungan dan sabun beras. Selain praktik, peserta juga diajak memahami konsep nilai tambah produk yang menjadi dasar dari proses belajar tersebut.
Salah seorang peserta mengaku baru menyadari peluang itu setelah mengikuti kegiatan. “Selama ini minyak bekas dan beras hanya digunakan seadanya. Setelah ikut kegiatan ini, kami jadi tahu kalau bahan-bahan tersebut bisa diolah lebih lanjut,” tuturnya.
Proses belajar berlangsung santai dan partisipatif. Mahasiswa pendamping, Muhammad Faruqi Aidi dan rekan-rekannya, membantu peserta memahami praktik sederhana tanpa kesan menggurui. Diskusi dan praktik berjalan beriringan sehingga suasana kegiatan terasa cair dan mudah diikuti.
Di balik pelaksanaan kegiatan, terdapat dukungan dari dosen pembimbing, Wellyalina dan rekan-rekannya, yang mendorong pentingnya meninjau ulang potensi bahan-bahan rumah tangga. Peserta diajak memahami bahwa nilai tambah tidak selalu bergantung pada teknologi besar, tetapi juga dapat muncul dari hal-hal yang paling dekat dengan keseharian.
Pengalaman di Nagari Cupak menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat dapat tumbuh dari ruang sekecil dapur rumah tangga. Ketika pengetahuan kampus bertemu dengan kebutuhan warga, kegiatan belajar menjadi lebih relevan, alami, dan bermakna.
Muhammad Faruqi Aidi, mahasiswa Kimia Universitas Andalas, bersama tim.

