Croissant, ikon kuliner khas Prancis, belakangan ramai diperbincangkan di TikTok. Tren ini memicu rasa penasaran banyak orang terhadap karakter croissant yang renyah di luar namun lembut di dalam, sekaligus mendorong keinginan untuk mencoba membuatnya sendiri di rumah tanpa harus mencari di tempat tertentu.
Di tengah kepopuleran croissant ala TikTok, Louis Tanuhadi, Direktur sekaligus Executive Pastry Chef APCA Indonesia, menekankan bahwa pemilihan lemak menjadi faktor penting untuk menghasilkan croissant yang baik. Menurutnya, shortening dan korsvet bisa memberi efek kenyal, tetapi untuk rasa gurih serta lapisan yang renyah, mentega tetap menjadi pilihan utama.
Selain bahan, proses pembuatan croissant juga menuntut ketelitian dalam teknik menggiling dan melipat adonan. Louis menjelaskan, adonan perlu digiling dengan ketebalan yang tepat, lalu dilipat bergantian antara adonan dan lapisan mentega agar terbentuk lapisan-lapisan khas croissant.
Faktor lingkungan turut memengaruhi hasil akhir. Suhu ruangan yang terlalu hangat dapat mengganggu tekstur, sehingga pembuatan croissant disarankan dilakukan di ruangan yang dingin. Kelembapan adonan juga perlu dijaga agar tetap stabil selama proses berlangsung.
Louis juga mengingatkan pentingnya mengistirahatkan adonan secara berkala. Tahap ini membantu meningkatkan elastisitas adonan sebelum dibentuk dan dipanggang, sehingga tekstur croissant bisa lebih maksimal saat disajikan.
Pada tahap akhir, pemanggangan menjadi penentu. Suhu oven sekitar 180–200 derajat Celsius disebut ideal, meski durasi pemanggangan dapat berbeda tergantung jenis oven. Pemantauan yang cermat diperlukan agar croissant matang merata, berwarna keemasan, dan menghasilkan aroma yang khas.

