BERITA TERKINI
Budaya Minuman Manis di Kalangan Mahasiswa Kian Menguat, Risiko Kesehatan Mengintai

Budaya Minuman Manis di Kalangan Mahasiswa Kian Menguat, Risiko Kesehatan Mengintai

Minuman manis kian lekat dengan keseharian mahasiswa di sejumlah kampus di Indonesia. Kopi susu gula aren, boba, es teh dengan berbagai varian kekinian, hingga minuman kemasan kerap terlihat menemani aktivitas kuliah maupun nongkrong. Kebiasaan ini tidak lagi sekadar dianggap sebagai selingan, melainkan bagian dari rutinitas harian yang berpotensi membawa risiko kesehatan tanpa disadari.

Fenomena tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap penyakit tidak menular di Indonesia. Dalam penelitian Octaviana dkk. (2022), penyakit tidak menular dijelaskan sebagai penyakit yang tidak berpindah dari satu orang ke orang lain. Salah satu faktor pemicunya adalah gaya hidup tidak sehat, termasuk konsumsi minuman manis yang dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan serius pada usia produktif.

Studi Institute for Internasional Life Sciences (I3L) terhadap 150 mahasiswa di Jakarta menunjukkan tingginya konsumsi minuman manis. Dalam temuan itu, 80% mahasiswa mengonsumsi setidaknya satu minuman manis setiap hari, bahkan ada yang mengonsumsi gula melebihi batas yang dianjurkan.

Dalam satu gelas minuman kemasan, kandungan gula disebut berada pada kisaran 30–40 gram atau setara 7–10 sendok teh. Jumlah tersebut mendekati, bahkan dapat melampaui, batas konsumsi gula yang dianjurkan Kementerian Kesehatan RI, yakni maksimal 50 gram per hari. Kondisi ini menggambarkan bahwa konsumsi satu minuman saja dapat menghabiskan hampir seluruh “jatah gula” harian.

Dampak konsumsi gula berlebih dinilai tidak selalu langsung terasa pada usia mahasiswa. Namun, risiko dapat menjadi lebih nyata pada usia 30-an ke atas seiring penurunan fungsi metabolisme secara alami dan akumulasi dampak jangka panjang dari kebiasaan mengonsumsi gula pada usia muda.

Tren minuman manis juga dipengaruhi gaya hidup serba instan dan tekanan akademik. Sebagian mahasiswa menganggap minuman manis sebagai cara cepat memperbaiki suasana hati. Meski konsumsi makanan dan minuman manis dapat memberi rasa nyaman sementara, konsumsi gula berlebih disebut dapat mendorong perilaku agresif, kecemasan, kelelahan, hingga memicu berbagai penyakit. Kurangnya pemahaman mengenai dampak ini membuat sebagian mahasiswa mudah terpengaruh strategi pemasaran yang menampilkan minuman manis seolah aman dikonsumsi kapan saja.

Dalam konteks ini, peran kampus dan pemerintah dinilai strategis untuk menekan risiko. Langkah yang disoroti antara lain memperbanyak edukasi yang menarik dan mudah dipahami, menyediakan pilihan minuman rendah gula, serta mengadakan kampanye literasi gizi, misalnya bertema “7 hari tanpa minuman manis.”

Secara keseluruhan, kebiasaan mengonsumsi minuman manis di kalangan mahasiswa dipandang sebagai hasil interaksi faktor budaya, sosial, ekonomi, dan psikologis. Mahasiswa diharapkan mulai membatasi frekuensi dan porsi konsumsi minuman manis, serta menggantinya dengan pilihan yang lebih sehat seperti air putih, teh tanpa gula, atau infused water. Upaya ini juga perlu dibarengi dengan gaya hidup sehat lain, seperti rutin berolahraga, menerapkan pola makan bergizi seimbang, menjaga kualitas tidur, dan mengelola stres.

Mahasiswa kerap disebut sebagai agen perubahan, sehingga diharapkan dapat menjadi contoh penerapan gaya hidup sehat yang berkelanjutan. Dengan dukungan kampus, kebijakan pemerintah, dan kesadaran individu, budaya konsumsi minuman manis dinilai dapat dikendalikan tanpa harus menghilangkan aspek kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari.