BERITA TERKINI
Bisnis Kuliner Artis: Popularitas Jadi Pintu Masuk, Kualitas Penentu Bertahan

Bisnis Kuliner Artis: Popularitas Jadi Pintu Masuk, Kualitas Penentu Bertahan

Sejumlah artis Indonesia kini merambah dunia bisnis sebagai bentuk ekspansi karier, dengan sektor kuliner menjadi salah satu pilihan yang paling diminati. Mulai dari kedai kopi, dessert kekinian, hingga restoran berkonsep unik, keterlibatan para figur publik ini menunjukkan bahwa popularitas dapat menjadi modal awal, tetapi tidak otomatis menjamin keberhasilan.

Fenomena artis berbisnis kuliner dinilai bukan sekadar tren sesaat. Di balik produk yang dijual, ada proses membangun merek, mencari keunikan rasa, serta membentuk tim yang solid. Nama-nama seperti Sherina Munaf, Arief Muhammad, hingga Nicholas Saputra disebut turut mencoba peruntungan di industri ini.

Kehadiran artis dalam bisnis kuliner juga dinilai mampu mengangkat citra produk lokal dan meningkatkan daya tarik pasar. Konsumen kerap datang karena penasaran pada nama besar, namun dapat kembali jika kualitas makanan dan konsistensi pelayanan terpenuhi. Hal ini memperlihatkan bahwa daya tarik awal perlu ditopang mutu produk agar bisnis bisa bertahan.

Pertanyaan apakah bisnis kuliner artis hanya menjual nama tidak selalu bisa dijawab dengan satu kesimpulan. Banyak yang memanfaatkan ketenaran untuk membangun awareness di awal, tetapi bisnis yang tidak diiringi kualitas produk maupun layanan umumnya sulit bertahan. Konsumen dinilai semakin kritis: ketertarikan bisa muncul karena figur pemiliknya, tetapi keputusan untuk kembali ditentukan oleh rasa dan pengalaman layanan.

Sejumlah artis bahkan disebut terlibat langsung dalam pengembangan menu, konsep merek, hingga operasional. Salah satu contoh yang disorot adalah Teuku Wisnu melalui Malang Strudel. Ia disebut terjun langsung dalam pengelolaan toko hingga promosi, dan bisnis tersebut tetap eksis selama lebih dari 10 tahun sebagai salah satu pilihan oleh-oleh khas.

Di tengah banyaknya artis yang menjalankan bisnis kuliner—bahkan menjadikannya sebagai usaha utama—tidak semua mampu bertahan. Kondisi ini mempertegas bahwa nama besar saja tidak cukup untuk memastikan keberlanjutan usaha.

Beberapa contoh bisnis kuliner artis yang disebut antara lain Nicholas Saputra yang memiliki Fas.a.Fas Bakery & Cafe di Ubud, Bali. Kafe dan toko roti ini menawarkan suasana estetik dengan pilihan menu seperti quiche, pain au chocolat, serta salad.

Arief Muhammad juga dikenal memiliki beragam lini bisnis, termasuk kuliner. Di antaranya RM Padang Payakumbuah dan Baso Aci Akang. RM Padang Payakumbuah disebut mengusung konsep rumah makan Padang dengan tiga tingkatan—restoran, rumah makan, dan warung biasa—serta masih beroperasi dan telah membuka beberapa cabang, termasuk di Malang, Jawa Timur.

Sementara itu, Zaskia Adya Mecca menjalankan usaha kuliner bernama Mamahke Jogja. Bisnis ini bermula sebagai toko oleh-oleh khas Yogyakarta yang menjual aneka kue dan camilan, lalu berkembang menjadi kafe dengan beragam pilihan makanan dan minuman. Mamahke Jogja juga mengusung filosofi tersendiri: “mamah” dalam bahasa Jawa berarti mengunyah, dengan harapan menghadirkan keistimewaan Yogyakarta lewat setiap hidangan yang disajikan.

Adapun Malang Strudel milik Teuku Wisnu disebut tetap bertahan sejak berdiri pada 2014 dan telah memiliki beberapa gerai, termasuk di rest area tol Malang-Pandaan. Keunikan rasa dan ciri khas produk menjadi salah satu faktor yang membuatnya terus diminati sebagai oleh-oleh.