Ramadan selalu menghadirkan cerita yang akrab: orang-orang mengejar waktu, menahan lapar, lalu mencari tempat berbuka yang terasa “paling pas”.
Tahun ini, dua kata kunci ramai dibicarakan: nasi biryani khas Timur Tengah di Ampel, Surabaya, dan aneka seafood di Makassar.
Keduanya bukan sekadar menu. Keduanya menjadi percakapan publik, terekam sebagai tren, karena menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari urusan rasa.
Di Surabaya, sebuah resto di kawasan Ampel jadi tujuan berbuka. Di sana, nasi biryani dimasak oleh juru masak dari Afghanistan.
Rempah seperti cengkeh, jintan, kayu manis, dan ketumbar menjadi ciri. Daging kambing dan ayam berpadu dengan irisan kurma serta kismis.
Di hari biasa, resto itu menghabiskan 650 hingga 700 porsi. Pada Ramadan, pesanan bisa mencapai 800 hingga 900 porsi per hari.
Sementara itu di Makassar, olahan seafood menjadi favorit berbuka. Ikan bakar bumbu rica dan udang bakar jadi buruan warga.
Menu-menu itu disajikan dengan sayuran pelengkap. Sederhana, namun terasa “ramai” di meja makan, seperti suasana kota saat senja Ramadan.
Pertanyaannya: mengapa cerita kuliner ini menjadi tren? Mengapa publik begitu tertarik pada biryani Ampel dan seafood Makassar?
-000-
Isu yang Membuatnya Menjadi Tren
Tren bukan hanya soal banyaknya orang mencari informasi. Tren sering lahir dari pertemuan antara kebutuhan, identitas, dan momentum.
Dalam konteks Ramadan, momentum itu datang setiap hari. Menjelang magrib, orang mencari jawaban cepat: berbuka di mana, makan apa.
Namun, ada lapisan lain yang membuat kisah ini menonjol. Ia menyentuh lintasan budaya, ekonomi, dan kebiasaan sosial yang luas.
-000-
Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Ramai Dibicarakan
Pertama, ada daya tarik lintas budaya yang nyata. Biryani di Ampel dimasak juru masak dari Afghanistan, menghadirkan rasa “otentik” yang dicari banyak orang.
Di bulan yang identik dengan kebersamaan, kuliner Timur Tengah terasa seperti jembatan. Ia menghubungkan imajinasi publik pada tradisi Islam global, tanpa harus pergi jauh.
Kedua, ada cerita ekonomi yang konkret. Lonjakan porsi dari 650 sampai 700 menjadi 800 sampai 900 per hari memberi gambaran tentang denyut usaha saat Ramadan.
Angka-angka itu membuat berita mudah menempel di ingatan. Publik melihat bukti: Ramadan mengubah ritme konsumsi dan menggerakkan roda dagang.
Ketiga, ada kedekatan emosional pada ritual berbuka. Seafood Makassar dan biryani Ampel sama-sama menempel pada momen yang sangat personal.
Orang tidak sekadar membaca menu. Orang membayangkan aroma, antrean, tawa, dan rasa lega setelah seharian menahan diri.
-000-
Ampel, Makassar, dan Peta Rasa yang Membentuk Kota
Ampel dikenal sebagai kawasan yang hidup dengan jejak sejarah dan perjumpaan. Kuliner Timur Tengah di sana terasa selaras dengan karakter kawasan.
Ketika biryani menjadi favorit berbuka, yang terjadi bukan hanya peningkatan penjualan. Ada penguatan citra tempat, seolah Ampel berbicara lewat piring.
Makassar memiliki relasi lama dengan laut. Ketika seafood menjadi pilihan utama berbuka, itu seperti pengingat bahwa identitas kota sering dibangun dari bahan pangan sekitar.
Di dua kota ini, kita melihat bagaimana makanan berfungsi sebagai penanda ruang. Ia menegaskan siapa kita, dan bagaimana kita hidup bersama.
-000-
Kaitan dengan Isu Besar Indonesia: Ketahanan Pangan, UMKM, dan Kebinekaan
Di balik berita kuliner, ada isu besar yang relevan bagi Indonesia. Pertama adalah ketahanan pangan, terutama pada momen permintaan meningkat seperti Ramadan.
Ketika pesanan naik ratusan porsi per hari, rantai pasok diuji. Bahan baku, tenaga kerja, dan distribusi harus bergerak lebih cepat.
Kedua adalah daya tahan usaha kuliner dan UMKM. Ramadan sering menjadi musim panen, tetapi juga musim tekanan karena kebutuhan produksi melonjak.
Berita tentang omzet yang naik memberi sinyal peluang. Namun peluang selalu berpasangan dengan tantangan pengelolaan kualitas, layanan, dan konsistensi rasa.
Ketiga adalah kebinekaan yang hidup dalam keseharian. Biryani yang dimasak juru masak Afghanistan di Surabaya menunjukkan perjumpaan budaya yang damai.
Indonesia kerap membicarakan kebinekaan dalam slogan. Dalam kuliner, kebinekaan hadir dalam tindakan sederhana: duduk bersama, memesan, lalu berbagi makanan.
-000-
Kerangka Konseptual: Makanan sebagai Memori Sosial
Para peneliti budaya sering menempatkan makanan sebagai bagian dari memori sosial. Makanan tidak berhenti pada zat gizi, tetapi menjadi arsip pengalaman.
Ramadan memperkuat fungsi itu. Karena dilakukan berulang setiap tahun, momen berbuka membentuk pola ingatan yang stabil dan mudah dipanggil kembali.
Di titik inilah tren kuliner bekerja. Orang mencari bukan hanya rasa enak, tetapi rasa yang “tepat” untuk menutup hari puasa.
Biryani dengan rempah kuat, kurma, dan kismis menghadirkan sensasi hangat. Seafood bakar dengan rica memberi rasa tegas yang akrab bagi banyak lidah.
Keduanya memicu imajinasi yang sama: perayaan kecil setelah disiplin panjang. Ini menjelaskan mengapa percakapan tentang menu bisa meluas begitu cepat.
-000-
Riset yang Relevan: Musiman Konsumsi dan Ritual Berbuka
Berita ini selaras dengan pengetahuan umum dalam studi perilaku konsumsi: permintaan makanan cenderung musiman, dan dipengaruhi ritual sosial.
Ramadan adalah contoh kuat. Ada jam-jam tertentu yang mengonsentrasikan pembelian, terutama menjelang berbuka.
Dalam situasi seperti itu, yang dicari publik biasanya dua hal: kepastian rasa dan kepastian pengalaman. Tempat yang dianggap “teruji” cepat menjadi rujukan.
Lonjakan porsi biryani di Ampel memperlihatkan pola itu. Ia menunjukkan bagaimana reputasi dan momentum dapat mengubah skala produksi harian.
Di Makassar, favorit pada ikan bakar rica dan udang bakar menunjukkan kekuatan menu yang mudah dikenali, mudah dibagi, dan cocok untuk makan bersama.
-000-
Referensi Luar Negeri yang Menyerupai: Tren Kuliner Ramadan di Kota-Kota Besar
Fenomena kuliner Ramadan bukan milik Indonesia saja. Di banyak negara, bulan puasa juga melahirkan pusat-pusat makanan yang ramai diburu menjelang magrib.
Di kota-kota besar, kawasan tertentu sering menjadi magnet karena menawarkan menu khas dan pengalaman komunal. Polanya mirip: orang mencari rasa, suasana, dan cerita.
Tren itu biasanya menguat ketika ada identitas yang jelas. Misalnya, hidangan yang dianggap merepresentasikan tradisi tertentu, atau dibuat oleh koki dari asalnya.
Kisah biryani Ampel memiliki unsur tersebut: juru masak Afghanistan, rempah yang disebutkan, dan komposisi yang khas.
Seafood Makassar juga demikian: ia bertumpu pada karakter lokal, pada kedekatan dengan laut, dan pada menu yang mudah menjadi simbol kota.
-000-
Mengapa Cerita Ini Menggugah: Antara Lapar, Harapan, dan Kebersamaan
Ramadan mengajarkan jeda. Ketika jeda itu berakhir, berbuka menjadi momen yang sarat emosi, meski sering dinyatakan lewat hal sederhana.
Orang tidak selalu punya kata-kata untuk menjelaskan rasa syukur. Kadang, kata-kata itu digantikan oleh suapan pertama dan percakapan singkat di meja.
Karena itu, berita tentang tempat berbuka favorit mudah viral. Ia menempel pada pengalaman massal yang terjadi serentak, di ribuan rumah dan warung.
Di Ampel, biryani menjadi semacam penanda: ada orang-orang yang bekerja keras di dapur, ada pelanggan yang kembali, ada ritme kota yang berubah.
Di Makassar, seafood menjadi penanda lain: laut yang memberi, bara yang menyala, dan kebiasaan makan bersama yang memulihkan tenaga setelah puasa.
-000-
Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, publik dapat menanggapi tren kuliner dengan kesadaran yang tenang. Menikmati berbuka tidak harus berubah menjadi kompetisi tempat paling populer.
Jika sebuah lokasi padat, pertimbangkan alternatif waktu atau tempat. Tujuannya sederhana: menjaga kenyamanan bersama, terutama pada jam-jam menjelang magrib.
Kedua, pelaku usaha perlu menjaga konsistensi kualitas saat permintaan naik. Lonjakan pesanan mudah menggoda untuk mempercepat proses, tetapi rasa dan kebersihan harus tetap utama.
Ketiga, pemerintah daerah dan pengelola kawasan dapat melihat ini sebagai sinyal ekonomi musiman. Keramaian perlu diimbangi pengaturan lalu lintas dan ruang publik yang manusiawi.
Keempat, media dan warganet sebaiknya merawat percakapan yang sehat. Kuliner dapat menjadi ruang perjumpaan budaya, bukan bahan saling mengejek selera.
Ketika biryani Timur Tengah dan seafood lokal sama-sama dicari, itu pertanda baik. Indonesia punya ruang luas untuk rasa yang beragam dan hidup berdampingan.
-000-
Penutup: Yang Tersisa Setelah Piring Kosong
Pada akhirnya, tren ini mengingatkan bahwa makanan adalah bahasa yang dipahami banyak orang. Ia menyampaikan kerja, tradisi, dan kerinduan akan kebersamaan.
Biryani di Ampel dan seafood di Makassar memperlihatkan dua wajah Indonesia. Satu merayakan perjumpaan lintas budaya, satu merayakan kedekatan dengan alam sekitar.
Di tengah hiruk-pikuk tren, ada pelajaran yang lebih sunyi: berbuka bukan sekadar mengisi perut, tetapi mengembalikan kita pada rasa cukup.
Dan mungkin, seperti kutipan yang sering diulang dalam berbagai bentuk, kita diingatkan: “Kebahagiaan sederhana sering lahir dari hal yang kita syukuri bersama.”

