Rasa cinta kepada Allah Swt dipandang sebagai fondasi penting dalam kehidupan spiritual seorang hamba. Dalam kajian yang dikutip dari jurnal Makna Cinta Dalam Qs. Al-Baqarah [2]: 165 Perspektif Hamka karya Muhammad Tomar dkk. (2024), dijelaskan sejumlah alasan mengapa cinta kepada Allah perlu dimiliki dan dijaga.
Pertama, cinta kepada Allah disebut menjadi penyebab utama kebahagiaan dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Hati yang dipenuhi kecintaan kepada Allah akan senantiasa berharap pada rahmat, ampunan, dan pertolongan-Nya. Kecintaan ini juga digambarkan sebagai cahaya yang membimbing seseorang agar tetap berada di jalan yang benar meski menghadapi godaan dan ujian. Sebaliknya, ketika cinta kepada selain Allah ditempatkan sejajar dengan cinta kepada-Nya, hal itu dinilai dapat menimbulkan kesengsaraan karena hati lebih mudah terikat pada hal-hal yang sementara dan duniawi.
Kedua, cinta dipandang sebagai kendali utama sekaligus penggerak aktivitas yang benar. Rasa cinta memiliki kekuatan besar dalam mengarahkan perilaku manusia. Seseorang yang mencintai Allah akan berupaya melakukan hal-hal yang diridhai-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Cinta kepada Allah juga disebut mendorong seseorang memperbanyak ibadah, menjaga akhlak, dan memberi manfaat kepada sesama. Selain menjadi penggerak amal, cinta berfungsi sebagai kendali hidup agar seseorang tidak menyimpang dari petunjuk Allah, sehingga aktivitas yang dijalani memiliki tujuan yang jelas dan bernilai ibadah.
Ketiga, cinta kepada Allah dipaparkan sebagai esensi dari kebutuhan jiwa dan nilai kehidupan itu sendiri. Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan spiritual yang dinilai hanya dapat dipenuhi melalui kedekatan dengan Allah. Dari sudut pandang ini, cinta kepada Allah menjadi sumber ketenangan, kedamaian, dan makna hidup. Semakin besar rasa cinta seorang hamba kepada Tuhannya, semakin kuat pula semangat hidup serta kualitas spiritual yang dimilikinya. Kehidupan pun tidak dipandang semata perjalanan duniawi, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan meraih kebahagiaan yang abadi.
Keempat, cinta kepada Allah disebut berperan menjaga keutuhan tauhid dan iman. Seorang muslim dapat mencintai keluarga, sahabat, harta, pekerjaan, maupun tanah air, namun seluruh bentuk cinta itu ditempatkan di bawah cinta kepada Allah. Ketika cinta kepada Allah menjadi prioritas, keimanan dinilai lebih terjaga dan seseorang tidak mudah terjerumus pada sikap yang dapat merusak tauhid. Sebaliknya, jika kecintaan kepada selain Allah melebihi atau menyamai kecintaan kepada-Nya, fondasi keimanan dapat melemah dan kualitas hubungan seorang hamba dengan Tuhannya berkurang.
Secara keseluruhan, kajian tersebut menekankan bahwa cinta kepada Allah dipahami sebagai sumber kekuatan yang membimbing manusia menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya.