Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia menjalankan misi pengenalan budaya Indonesia melalui lini usaha yang dikelolanya. Salah satu upaya itu dilakukan lewat pembukaan Warung Soto Lamongan (Wasola), yang tidak hanya diposisikan sebagai bisnis kuliner, tetapi juga sarana diplomasi kuliner di Malaysia.
Ketua Majelis Ekonomi (MEK) PCIM Malaysia, Fauzi Fatkhur, mengatakan gerakan ekonomi yang dibangun secara bersama atau berjamaah tersebut membawa misi memperkenalkan kuliner khas Indonesia. Meski diprakarsai MEK PCIM Malaysia, Fauzi menekankan berdirinya Wasola juga tidak terlepas dari peran Pekerja Migran Indonesia (PMI) anggota Muhammadiyah. Menurutnya, model gerakan ekonomi jamaah memungkinkan realisasi usaha meski dengan modal terbatas.
Dukungan juga datang dari Atase Politik KBRI Kuala Lumpur, Agus Badrul Jamal. Ia menilai keberadaan Wasola dapat memacu semangat wirausaha para PMI, sekaligus menjadi sarana wisata kuliner dan diplomasi kuliner di Malaysia. Ia menyatakan KBRI Kuala Lumpur menyambut baik inisiatif Muhammadiyah dalam menggerakkan perekonomian melalui usaha-usaha yang dirintis.
Wasola berlokasi di Wisma Sabarudin, Jalan Raja Alang, Kampung Baru, Kuala Lumpur. Fauzi menyebut sejak diresmikan pada 2020, Wasola menarik perhatian warga negara Indonesia (WNI) di Malaysia. Selain itu, warga lokal Malaysia juga disebut ikut menjadi pelanggan setelah diajak oleh rekan-rekan WNI.
Dalam operasionalnya, Wasola disebut tetap berjalan untuk memenuhi kerinduan WNI terhadap cita rasa Nusantara. Fauzi menyampaikan pendapatan harian Wasola dapat mencapai lebih dari RM1000 atau lebih dari Rp3 juta. Pada akhir pekan, pendapatan disebut bisa meningkat hingga tiga kali lipat, dengan kisaran yang menurutnya dapat mencapai RM1500 sampai RM3000 pada hari-hari tertentu.
Wasola kerap menjadi tujuan WNI di Malaysia, bukan hanya untuk makan, tetapi juga sebagai tempat bernostalgia dengan kampung halaman. Fauzi menyebut hal itu didukung oleh lokasinya yang berada di tengah komunitas WNI serta menu yang menghadirkan cita rasa Indonesia.
Ketua PCIM Malaysia, Sony Zulhuda, saat peresmian Wasola menyatakan usaha tersebut menjadi catatan sejarah bagi Muhammadiyah karena disebut sebagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang bisnis pertama di luar negeri yang berdiri secara formal. Ia juga menyebut inisiatif ini sebagai bagian dari eksistensi jamaah Muhammadiyah di Malaysia, dengan nilai pemberdayaan, pembebasan, menggembirakan, dan mencerahkan yang melekat dalam gerakan tersebut.
Konsep bisnis jamaah juga dinilai membentuk jaring pengaman, termasuk pada masa pandemi Covid-19 ketika sektor ekonomi, termasuk usaha kuliner, terdampak. Wasola disebut tetap bertahan karena adanya rasa memiliki dari warga Muhammadiyah yang mendorong pembelaan untuk menghidupi AUM tersebut.
Selain Wasola, Fauzi menyebut terdapat dua rumah makan lain yang dikelola sepenuhnya oleh jaringan Muhammadiyah di Malaysia, yakni rumah makan milik Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) Pandan dan PRIM Sungai Way di Kampung Pecalah, Kuala Lumpur. Keduanya dikelola secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan kuliner WNI yang bekerja maupun menempuh studi di Malaysia.
Ke depan, Fauzi berharap gerakan ekonomi PCIM Malaysia semakin bergeliat setelah beroperasinya Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM).