SEMARANG – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner didorong memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan omzet. Pengelolaan data pelanggan dan optimalisasi WhatsApp dinilai menjadi strategi penting untuk membangun hubungan dengan konsumen serta mendorong transaksi.
Topik tersebut mengemuka dalam talkshow UMKM Naik Level Bareng Polytron bertema “Dari Chat Jadi Omzet: Optimasi Data CRM & WhatsApp untuk Bisnis Kuliner” yang digelar di Aroem Restaurant & Ballroom, Semarang, Selasa (27/10). Kegiatan ini diikuti sekitar 100 pelaku UMKM yang tergabung dalam komunitas Polypreneur.
Head of Public Communications Polytron, Vina Julita Wijaya, mengatakan program tersebut merupakan komitmen perusahaan untuk mendampingi UMKM berkembang melalui edukasi dan penguatan kapasitas usaha. “Kami ingin membangun komunitas agar bisa berbagi edukasi dan menyelenggarakan kegiatan yang bermanfaat bagi pelaku UMKM,” ujarnya.
Menurut Vina, program yang dimulai sejak awal tahun itu telah digelar di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Semarang. Kegiatan serupa direncanakan berlangsung di Yogyakarta pada November mendatang.
Ia menjelaskan materi edukasi disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha, mulai dari pengelolaan keuangan, penguatan merek, pengemasan produk, hingga distribusi digital. Polytron juga membagikan hasil riset UMKM 2026 bersama lembaga riset Populix sebagai bahan untuk memahami tantangan pengembangan usaha.
Vina menyebut komunitas Polypreneur saat ini memiliki sekitar 600 anggota. Selain mengikuti kegiatan edukasi, para anggota dapat bertukar pengalaman dan memperoleh materi pengembangan usaha melalui grup komunitas. Pembelajaran juga tersedia secara hibrida agar dapat diikuti peserta secara daring.
Dalam sesi pemaparan, Senior Business Development Mekari Qontak, Grace Amazia, menjelaskan bahwa Customer Relationship Management (CRM) dapat membantu pelaku usaha mengelola hubungan dengan pelanggan melalui data yang tersimpan secara terpusat.
Dengan sistem CRM, pelaku usaha dapat mengenali produk yang diminati, waktu transaksi tersibuk, hingga pelanggan yang sudah lama tidak berbelanja. Informasi tersebut dapat menjadi dasar penyusunan promosi sesuai karakteristik konsumen.
Grace menambahkan, optimalisasi WhatsApp juga memungkinkan komunikasi pemasaran dilakukan lebih terarah. Pelanggan lama, misalnya, dapat dijangkau kembali melalui penawaran khusus atau informasi produk terbaru.
Melalui pendekatan tersebut, komunikasi digital diharapkan tidak berhenti pada percakapan, melainkan dapat diarahkan untuk membangun loyalitas pelanggan dan meningkatkan penjualan.