SEMARANG — Strategi pemasaran berbasis data pelanggan dan optimalisasi platform WhatsApp dinilai menjadi kunci untuk mendorong program UMKM naik level di Semarang, khususnya bagi pelaku usaha kuliner. Melalui pengelolaan Customer Relationship Management (CRM) yang lebih presisi, pelaku usaha didorong menggeser pola promosi massal menjadi interaksi personal yang dinilai lebih efektif memicu pembelian berulang tanpa bergantung pada diskon besar.
Penguatan kapasitas pemasaran digital tersebut diprakarsai Polytron melalui program “UMKM Naik Level Bareng Polytron” yang digelar di Semarang, Selasa (27/10/2026). Lebih dari 100 pelaku usaha kuliner mengikuti pembekalan mengenai pemetaan data konsumen, komunikasi personal, peningkatan kualitas layanan, hingga strategi membangun mesin repeat order.
Dalam agenda itu, Polytron berkolaborasi dengan platform riset Populix meluncurkan “UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level”. Peluncuran panduan tersebut ditujukan untuk meluruskan sejumlah persepsi yang dinilai keliru dalam pemasaran dan pengembangan usaha yang kerap membatasi ruang gerak pelaku usaha lokal.
Head of Public Communications Polytron, Vina Julita Wijaya, menyampaikan hasil riset yang mencatat 80 persen pelaku UMKM merupakan perintis usaha, dengan 65 persen di antaranya didominasi generasi Z dan milenial. Menurutnya, tingginya minat membangun usaha perlu diimbangi dengan pengelolaan bisnis yang baik, mulai dari pencatatan keuangan, pengaturan operasional, hingga pemanfaatan teknologi untuk pengembangan usaha.
Riset yang sama juga menekankan ekspansi usaha tidak seharusnya dilakukan terburu-buru sebelum sistem operasional dan pemasaran digital tertata. Disebutkan, 25 persen pelaku usaha masih terkendala standar operasional prosedur (SOP), sementara 48 persen masih mencatat transaksi secara manual tanpa dukungan data.
Vina menegaskan, naik level tidak semata berarti memperbesar skala usaha atau membuka banyak cabang, melainkan membangun sistem yang kuat agar bisnis dapat bertumbuh berkelanjutan. Untuk itu, Polytron merumuskan empat pilar utama yang dinilai penting bagi keberhasilan bisnis, yakni penguatan konsep, perbaikan sistem, pemilihan aset jangka panjang, serta rencana ekspansi yang terukur.
Dalam konteks pemasaran, pendekatan modern menekankan pentingnya mempertahankan pelanggan lama karena dinilai lebih efisien dibandingkan terus-menerus mencari pelanggan baru. Pada sesi “Membangun Engine Repeat Order Bisnis Kuliner”, pemateri Grace Amazia membahas perlunya mengolah basis data pelanggan untuk membangun program loyalitas yang relevan.
Melalui pendekatan CRM, pesan promosi lewat WhatsApp diarahkan agar tidak dikirim secara acak atau menyerupai spam, melainkan disesuaikan dengan riwayat transaksi dan preferensi pelanggan. Cara ini membuat komunikasi pemasaran lebih personal dan terasa eksklusif.
Selain itu, respons terhadap suara konsumen juga disoroti sebagai bagian dari strategi pemasaran sekaligus reputasi merek. Pemilik Moaci Gemini, Stefania Catharine, menekankan pentingnya keterbukaan terhadap evaluasi pelanggan. Ia menyebut keluhan pelanggan dapat menjadi masukan untuk memahami kebutuhan dan ekspektasi konsumen, sekaligus membantu pelaku usaha mengetahui aspek yang perlu diperbaiki agar kualitas produk dan layanan meningkat.
Sinergi antara pembenahan operasional internal, penguasaan alat produksi yang efisien, serta penerapan strategi pemasaran berbasis data diharapkan menjadi fondasi bagi pelaku usaha kuliner di Semarang untuk meningkatkan omzet dan daya saing.