Tren sosial yang tidak biasa muncul di kalangan remaja di Argentina. Melalui berbagai unggahan di media sosial, sejumlah remaja menyatakan mengidentifikasi diri mereka sebagai hewan, baik secara mental, spiritual, maupun psikologis.
Fenomena ini sempat menyita perhatian ketika suasana sebuah taman berubah bak “hutan kecil”. Seorang remaja bernama Sofia terlihat mengenakan topeng anjing beagle lalu berlari dengan kedua tangan dan kakinya menyentuh tanah.
Tak jauh dari Sofia, remaja lain bernama Aguara melompati rintangan sambil menirukan gerakan presisi seekor anjing ras Belgia. Aguara mengatakan dirinya adalah anjing Belgian Malinois, dengan usia yang ia sebut setara dua tahun dua bulan dalam hitungan umur anjing.
“Aku akan bangun layaknya orang normal dan menjalani hidup seperti biasa tapi aku memiliki waktu-waktu saat menjadi anjing,” ujar Aguara kepada AP.
Di area yang sama, sejumlah remaja lain tampak mengenakan kostum kucing serta rubah. Mereka bertengger di dahan pohon dan menjaga jarak dari para pengunjung taman.
Kelompok remaja ini dikenal sebagai therian, yakni individu yang merasa memiliki keterikatan identitas dengan hewan non-manusia. Di Argentina, tagar Therian disebut telah digunakan lebih dari dua juta kali. Perkembangan tren ini pun memicu beragam respons di ruang publik.
Psikolog dari Therapeutic Center di Buenos Aires, Debora Pedace, menilai tren tersebut dapat memunculkan campuran emosi di masyarakat. “Kalau dilihat dari sudut pandang psikologis, ini menjadi bentuk identifikasi simbolis dengan hewan,” kata Pedace.
Namun, kondisi itu dinilai dapat menjadi patologis atau mengkhawatirkan apabila berubah menjadi keyakinan mendalam untuk mengambil peran sebagai hewan dan berpotensi menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain.

