Tolitoli — Ramadan kembali memunculkan ragam kuliner yang ramai diperbincangkan. Tahun ini, risol matcha menjadi salah satu jajanan yang menarik perhatian warganet karena memadukan camilan klasik dengan cita rasa kekinian yang banyak diminati, terutama kalangan anak muda.
Matcha, bubuk teh hijau khas Jepang, sebenarnya sudah lama populer sebagai bahan minuman dan dessert. Namun, ketika dipadukan dengan risol—camilan gurih berisi ragout—muncul sensasi rasa baru yang memancing rasa penasaran publik.
Fenomena tersebut turut dimanfaatkan pelaku usaha rumahan. Risol matcha kini dijual dalam beragam varian isian, mulai dari coklat lumer, keju, hingga custard. Warna hijau khas matcha juga menjadi daya tarik visual, terlebih saat diunggah ke media sosial seperti Instagram dan TikTok.
Salah satu pelaku UMKM kuliner di Tolitoli, Rina (27), mengatakan tren ini berdampak positif pada penjualannya selama Ramadan. “Awalnya hanya coba-coba karena ramai di media sosial, tapi ternyata respons pembeli bagus. Dalam sehari bisa habis puluhan risol,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Pengamat kuliner lokal, Andi Pratama, menilai tren kuliner Ramadan kerap dipengaruhi efek viral. Menurutnya, produk yang unik, estetik, dan mudah dibagikan secara visual cenderung cepat menarik minat. Meski demikian, ia menekankan keberlanjutan tren tetap ditentukan oleh cita rasa dan konsistensi kualitas. “Kalau hanya mengandalkan tampilan tanpa rasa yang seimbang, tren seperti ini biasanya cepat meredup setelah Ramadan,” katanya.
Terlepas dari soal tren yang bertahan atau tidak, risol matcha mencerminkan kreativitas pelaku UMKM dalam menggabungkan jajanan tradisional dengan sentuhan modern. Ramadan pun kembali menjadi ruang eksperimen rasa, dengan risol matcha sebagai salah satu kuliner viral yang mencuat tahun ini.

