BERITA TERKINI
Tren Snackpacking di Kalangan Gen Z Ramai di Media Sosial, Buka Peluang bagi UMKM Kuliner Lokal

Tren Snackpacking di Kalangan Gen Z Ramai di Media Sosial, Buka Peluang bagi UMKM Kuliner Lokal

Tren berburu jajanan lokal atau snackpacking tengah ramai di media sosial dan banyak digemari generasi Z. Aktivitas ini dilakukan dengan mengunjungi warung kelontong, mencari jajanan khas daerah, hingga mencicipi makanan tradisional yang tidak selalu mudah ditemukan di tempat lain.

Selain berburu makanan, snackpacking menjadi cara anak muda mengeksplorasi kekayaan kuliner suatu daerah. Pengalaman tersebut kerap dibagikan melalui konten media sosial, yang kemudian mendorong semakin banyak orang untuk mencoba aktivitas serupa.

Dosen Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University, Hudi Santoso, menjelaskan tren snackpacking muncul seiring perubahan budaya mobilitas anak muda yang bertemu dengan perkembangan algoritma platform digital berbasis visual.

“Di era digital sekarang ini, snackpacking muncul karena bertemunya pergeseran budaya mobilitas, terutama di kalangan gen Z, dengan dinamika algoritma platform berbasis visual,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Jumat (30/10/2026).

Menurut Hudi, fenomena ini juga berkaitan dengan ekonomi atensi atau attention economy. Dalam persaingan konten digital, pembuat konten dituntut mampu menarik perhatian audiens sejak beberapa detik pertama.

Dalam konteks tersebut, jajanan lokal dinilai memiliki daya tarik tersendiri. Warna makanan yang mencolok, proses pembuatan yang unik, hingga suasana pasar tradisional dapat menjadi materi visual menarik untuk dibagikan di media sosial.

Di sisi lain, harga jajanan lokal yang relatif murah dan mudah dijangkau turut mendukung popularitas tren ini. Konten yang menampilkan pengalaman berburu kuliner dengan biaya terjangkau membuat audiens merasa memiliki kesempatan untuk mencoba pengalaman serupa.

Hudi juga mengaitkan fenomena ini dengan konsep social proof, yaitu pengaruh pengalaman orang lain terhadap keputusan seseorang. Ketika seseorang melihat orang lain menikmati jajanan tertentu, ketertarikan untuk ikut mencoba pun dapat muncul.

Fenomena tersebut turut mendorong lahirnya lebih banyak konten dari pengunjung lain atau yang dikenal sebagai user-generated content (UGC). Menurut Hudi, pengalaman yang dibagikan secara berulang dapat membuat suatu tempat kuliner semakin dikenal luas.

“Semakin banyak orang membagikan pengalaman mereka, semakin besar peluang suatu tempat kuliner dikenal luas,” tambahnya.

Hudi menilai, snackpacking memiliki makna lebih dari sekadar aktivitas membeli dan menikmati makanan. Tren ini dapat menjadi kesempatan bagi anak muda untuk mengenal budaya daerah melalui perjalanan, interaksi dengan penjual lokal, serta cerita di balik makanan tradisional.

Dari sisi ekonomi, tren ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di bidang kuliner. Jajanan yang sebelumnya hanya dikenal masyarakat sekitar kini berpotensi menjangkau konsumen lebih luas melalui unggahan di media sosial.

Namun, agar mudah ditemukan para pemburu jajanan, pelaku usaha perlu memperhatikan keberadaan bisnisnya di platform digital. Hudi menekankan pentingnya memastikan lokasi usaha terdaftar secara akurat di Google Maps, memiliki tag lokasi di Instagram dan TikTok, serta menyajikan informasi harga dan jam operasional secara transparan.

Menurutnya, kemudahan akses navigasi dan ketersediaan informasi produk menjadi faktor penting agar tempat kuliner dapat ditemukan oleh para snackpacker. Dengan pengelolaan jejak digital yang baik, pelaku UMKM dinilai memiliki kesempatan lebih besar untuk menarik pengunjung baru, sekaligus membantu memperkenalkan kekayaan kuliner lokal dan memperluas pasar usaha kecil.