BERITA TERKINI
Tren Matcha Menguat di Indonesia, Dipengaruhi Media Sosial dan Membuka Peluang Usaha

Tren Matcha Menguat di Indonesia, Dipengaruhi Media Sosial dan Membuka Peluang Usaha

Matcha kian populer di Indonesia dan menjadi salah satu tren kuliner yang banyak menarik perhatian, terutama di kalangan generasi muda. Bubuk teh hijau yang berasal dari tradisi Jepang ini kini mudah ditemukan dalam beragam produk, mulai dari matcha latte, es krim, kue, hingga berbagai makanan penutup.

Perkembangan media sosial turut mendorong meluasnya tren tersebut. Warna hijau khas, tampilan minuman yang dinilai menarik, serta ragam kreasi rasa membuat matcha sering muncul dalam konten di TikTok dan Instagram. Kondisi ini mendorong kafe maupun pelaku usaha kuliner menghadirkan menu berbahan matcha untuk menjangkau minat konsumen.

Selain faktor media sosial, perubahan preferensi konsumen juga ikut memperkuat tren. Survei Jakpat yang dipublikasikan pada 7 Juli 2026 terhadap 1.238 responden di Indonesia mencatat, 34 persen responden Generasi Z dan 32 persen generasi milenial mengaku mengonsumsi matcha dalam enam bulan terakhir. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Generasi X yang tercatat sebesar 17 persen.

Di balik popularitasnya, matcha memiliki karakter yang membedakannya dari teh hijau biasa. Matcha dibuat dari daun teh yang diolah menjadi bubuk halus sehingga dapat dikonsumsi bersama air atau dicampurkan ke berbagai makanan dan minuman. Cita rasanya cenderung khas, dengan perpaduan sedikit pahit, sepat, dan umami. Karakter tersebut dapat berubah ketika dipadukan dengan susu, gula, atau bahan tambahan lainnya.

Matcha juga menarik perhatian karena kandungan antioksidannya. Menurut Harvard Health Publishing, matcha mengandung polifenol, termasuk katekin, serta berbagai senyawa tumbuhan yang berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan. Meski demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan sejumlah klaim manfaat kesehatan. Konsumen juga perlu memperhatikan kandungan kafein dan gula, terutama pada produk seperti matcha latte yang menggunakan pemanis tambahan.

Meningkatnya minat terhadap matcha ikut membuka peluang bagi pelaku usaha kuliner. Produk matcha kini tidak hanya terbatas pada minuman, tetapi juga berkembang menjadi aneka kreasi makanan seperti brownies, donat, cheesecake, puding, dan es krim. Inovasi menu serta pemasaran melalui media sosial dinilai dapat membantu menjangkau konsumen lebih luas.

Namun, pelaku usaha tetap dihadapkan pada sejumlah faktor penting agar mampu bertahan di tengah persaingan, seperti kualitas bahan baku, konsistensi rasa, dan penetapan harga. Di sisi lain, tren matcha juga menghadirkan tantangan terkait ketersediaan bahan baku dan penjagaan kualitas produk. Peningkatan permintaan perlu diimbangi pemilihan bahan yang sesuai serta informasi produk yang transparan kepada konsumen.

Fenomena matcha menunjukkan bagaimana produk tradisional dapat berkembang menjadi bagian dari gaya hidup modern. Dukungan media sosial, kreativitas pelaku usaha, dan perubahan selera konsumen menjadi sejumlah faktor yang mendorong popularitasnya. Bagi masyarakat, matcha menjadi pilihan untuk mengeksplorasi cita rasa baru, sementara bagi pelaku usaha, tren ini menghadirkan peluang yang dapat dikembangkan melalui inovasi dan pengelolaan bisnis yang tepat.