Gaya hidup sehat di era digital kini tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan pribadi, tetapi juga bagian dari citra yang ditampilkan di media sosial. Aktivitas olahraga seperti lari yang sebelumnya identik dengan menjaga kebugaran atau sekadar hobi, belakangan turut menjadi ruang untuk menunjukkan pencapaian melalui berbagai aplikasi pelacak aktivitas, salah satunya Strava.
Seiring tren berbagi hasil olahraga ke publik, muncul fenomena “joki Strava”. Dalam artikel LPM Didaktika berjudul “Tren Joki Strava: Tekanan Validasi Diri dalam Masyarakat Cair”, praktik ini digambarkan sebagai tindakan menyewa orang lain untuk melakukan aktivitas olahraga atas nama pengguna, sehingga data yang terekam di aplikasi tampak tinggi dan mengesankan saat dibagikan di media sosial.
Fenomena tersebut menunjukkan pergeseran makna olahraga. Jika sebelumnya olahraga lebih lekat dengan tujuan kesehatan fisik dan mental, kini sebagian orang memaknainya sebagai simbol status sosial di ruang digital. Dorongan untuk mengikuti tren agar tidak tertinggal, atau Fear Of Missing Out (FOMO), disebut ikut memicu munculnya praktik instan seperti penggunaan jasa joki.
Tren ini mulai terlihat di berbagai daerah, termasuk di Komplek Stadion Bima, Kota Cirebon. Riza, warga Kota Cirebon yang rutin berolahraga di Stadion Bima, menilai meningkatnya minat masyarakat terhadap lari tidak terlepas dari pengaruh media sosial, sekaligus menyinggung fenomena joki Strava yang ikut mengemuka.
“Biasanya di sini ada yang namanya joki Strava. Terutama saya sebagai penjoki di sini, banyak orang jadi lari karena ikut tren atau FOMO,” ujar Riza kepada RRI, Senin, 27 April 2026.
Meski demikian, Riza menilai fenomena itu tidak sepenuhnya negatif. Menurutnya, tren tersebut tetap membawa dampak positif karena mendorong masyarakat lebih aktif bergerak dan menjalani pola hidup sehat.
Di sisi lain, praktik joki Strava memunculkan dilema. Meningkatnya minat olahraga dapat menjadi kabar baik bagi kesehatan masyarakat, namun penggunaan jasa joki mencerminkan adanya tekanan sosial untuk memperoleh pengakuan. Hal ini sejalan dengan konsep “masyarakat cair” yang dijelaskan dalam artikel LPM Didaktika, yakni ketika identitas dan nilai seseorang menjadi lebih fleksibel tetapi sekaligus rentan dipengaruhi faktor eksternal, terutama media sosial.
Dalam konteks tersebut, joki Strava dipandang bukan sekadar tren sesaat, melainkan cerminan perubahan perilaku masyarakat di era digital, ketika validasi sosial menjadi kebutuhan yang dianggap penting. Karena itu, masyarakat dinilai perlu kembali memahami esensi olahraga sebagai aktivitas untuk menjaga kesehatan, bukan semata memenuhi ekspektasi digital.

