Antrean panjang terlihat di sebuah mal di Jakarta Selatan. Kerumunan anak muda menunggu giliran di sebuah kedai kecil yang menjual tteokbokki, kue beras khas Korea yang disajikan dengan saus gochujang berwarna merah menyala, lengkap dengan topping keju mozzarella dan nori yang dipanggang di depan pembeli.
Sejumlah pengunjung merekam proses penyajian dan momen saat makanan disantap. Di layar ponsel mereka, tagar seperti #TteokbokkiViral, #KoreanStreetFood, dan #MukbangKorea tampak mendominasi konten yang segera diunggah ke media sosial.
Di koridor yang sama, sebuah warung gudeg Yogyakarta baru membuka layanan. Menu tradisional seperti nasi putih, gudeg manis, sambal goreng krecek, opor ayam, dan telur pindang tersedia. Namun suasananya kontras: meja-meja terlihat sepi dan nyaris tanpa antrean, dengan hanya satu pembeli yang kebetulan melintas.
Gambaran tersebut mencerminkan perubahan selera yang kian terasa pada 2026, ketika makanan Korea disebut menjadi salah satu tren kuliner terkuat di tingkat global. Data global yang dikutip dalam naskah menunjukkan Korean fried chicken menempati peringkat pertama dengan 28,3% popularitas, disusul kimchi 28%, bibimbap 19,9%, ramen 16,6%, dan bulgogi 14%. Gochujang juga disebut telah menjadi bahan yang semakin umum di dapur anak muda di berbagai negara.
Dalam perkembangan lain, tteokbokki bahkan disebut masuk dalam daftar street food ikonik versi National Geographic. Namun, dorongan popularitas ini tidak berhenti pada rasa dan variasi menu. Korean food dalam konteks Gen Z dipotret sebagai bagian dari identitas gaya hidup yang menyatu dengan budaya populer Korea.
Di Indonesia, ketertarikan itu disebut berjalan seiring dengan konsumsi K-Pop dan K-Drama, penggunaan produk-produk Korea, hingga kebiasaan memamerkan makanan Korea di media sosial. Dalam naskah, Korean food digambarkan bukan sekadar pilihan makan, melainkan “kode sosial” yang menghubungkan anak muda dengan komunitas tertentu.
Sebuah studi terbaru yang dirujuk menyebut persepsi Gen Z terhadap makanan Korea terbentuk melalui masuknya berbagai persepsi Korea yang memengaruhi minat membeli makanan Korea. Dengan kata lain, K-Drama dan K-Pop dipandang turut mendorong ketertarikan pada produk kuliner seperti tteokbokki, samgyeopsal, dan bingsu.
Sementara itu, kuliner tradisional seperti gudeg, tahu gejrot, atau sambal terasi dinilai tidak kalah dari sisi cita rasa. Namun, naskah menyoroti faktor lain yang dinilai memberi keunggulan pada makanan Korea, terutama dalam hal tampilan.
Tteokbokki, misalnya, kerap disajikan dalam paper cup dengan warna saus yang mengilap dan keju yang dilelehkan secara dramatis. Penyajian semacam ini dianggap cocok untuk kebutuhan konten visual di platform seperti TikTok dan Instagram. Kimchi disebut menarik karena tampil dalam wadah transparan yang memperlihatkan lapisan warna, sementara Korean BBQ menawarkan pengalaman memasak di meja dengan asap dan suasana yang dinilai “estetik”.
Di sisi lain, gudeg digambarkan cenderung tampil sederhana: nasi putih, gudeg berwarna cokelat, krecek, dan sambal dalam penyajian yang tidak menonjol secara visual. Dalam logika media sosial, naskah menyimpulkan, makanan yang kurang fotogenik berisiko kalah bersaing dalam perhatian publik.
Perubahan preferensi ini menunjukkan bagaimana tren kuliner kini tidak hanya ditentukan oleh rasa, tetapi juga oleh narasi budaya populer dan kebutuhan visual di ruang digital—faktor yang semakin memengaruhi cara Gen Z memilih makanan.