Puluhan kapal nelayan bergerak perlahan meninggalkan Pelabuhan Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Minggu (4/10/2026). Kapal-kapal yang dihias bendera itu membelah ombak menuju tengah laut, mengiringi puncak tradisi nadran atau sedekah laut yang kembali digelar masyarakat pesisir Desa Eretan Kulon.
Di salah satu kapal, tampak replika perahu yang disebut meron. Di dalamnya terdapat kepala kerbau, aneka buah-buahan, dan beragam makanan. Meron menjadi bagian penting dalam tradisi turun-temurun yang dimaknai sebagai ungkapan syukur nelayan atas hasil tangkapan, sekaligus doa agar laut terus memberi keberkahan.
Sejak prosesi dimulai, suasana pelabuhan dipenuhi warga. Meron yang telah dihias menjadi perhatian, sebelum kemudian dibawa dalam konvoi kapal nelayan menuju tengah laut untuk dilarung. Deru mesin kapal yang saling bersahutan menghadirkan pemandangan konvoi maritim yang jarang terlihat pada hari-hari biasa.
Konvoi pelarungan meron tidak hanya diikuti nelayan. Pemilik kapal mempersilakan warga—mulai dari ibu-ibu, anak-anak, hingga pendatang—untuk ikut menaiki kapal dan menyaksikan prosesi di tengah laut. Di atas kapal yang bergoyang diterjang ombak, tawa dan obrolan hangat terdengar di antara penumpang.
Sementara itu, warga yang tidak ikut melaut berkumpul di sekitar pelabuhan. Mereka melambaikan tangan dan mendoakan agar prosesi berjalan lancar.
Salah seorang warga, Maman (46), mengaku ikut menumpang kapal nelayan sambil membawa anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun. “Saya ajak anak, buat edukasi, kaya gini loh tradisi nadran itu,” ujarnya. Maman bukan nelayan, melainkan pedagang warung kelontong asal Kecamatan Losarang.
Menurut Maman, kemeriahan nadran tidak hanya dinanti masyarakat nelayan, tetapi juga menjadi perayaan bagi warga Indramayu secara umum. Ia mengaku telah beberapa kali mengikuti tradisi tersebut sejak remaja dan ingin mengenalkan pengalaman serupa kepada anaknya. Di tengah deburan ombak Laut Eretan Kulon, ia turut memanjatkan doa agar nelayan selalu mendapat hasil tangkapan melimpah.
“Jadi memang tidak cuma nelayan saja yang bersukacita. Ya semoga saja dengan terus lestarinya tradisi ini nelayan makin sukses, tangkapannya banyak,” tutur Maman.
Bagi nelayan, nadran memiliki makna yang lebih dalam. Asep (57), salah seorang nelayan, mengatakan laut telah menjadi bagian dari kehidupannya selama puluhan tahun dan menjadi sumber penghidupan keluarganya. Ia menyebut nadran sebagai cara nelayan mengungkapkan rasa syukur atas keberkahan yang didapat dari laut.
“Nadran adalah cara kami nelayan mengucapkan rasa syukur,” kata Asep. Menurutnya, tradisi ini juga menjadi ruang sosial bagi nelayan dan warga untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan mempererat hubungan antarmasyarakat. “Di sini masyarakat kumpul semua, bahagia semua, semoga nelayan makin sejahtera,” ujarnya.
Kemeriahan nadran di Eretan Kulon berlanjut setelah prosesi pelarungan di tengah laut. Di pelabuhan, panggung hiburan didirikan untuk warga. Berdasarkan poster yang terpasang di lokasi, sejumlah pertunjukan dijadwalkan, mulai dari wayang kulit, sandiwara, hingga orkes.
Pasar rakyat juga disiapkan di sekitar lokasi. Para pedagang memanfaatkan ramainya pengunjung untuk mendapatkan penghasilan.
Pemerhati budaya Indramayu sekaligus Ketua Yayasan Indramayu Historia, Nang Sadewo, menilai nadran merupakan salah satu khazanah kearifan lokal Indramayu yang mampu menarik animo masyarakat. Khusus bagi nelayan, tradisi ini menjadi sarana mengungkapkan rasa syukur.
Sadewo menambahkan, pelaksanaan nadran tidak hanya berupa prosesi pelarungan yang terlihat oleh masyarakat. Menurutnya, ada rangkaian kegiatan yang dilakukan sebelumnya, seperti upacara ruwatan dan doa bersama. Harapannya, laut terus memberikan keberkahan melalui hasil tangkapan yang melimpah.
Ia berharap tradisi nadran tetap hidup dan tidak lekang oleh zaman, sekaligus menjadi ciri khas Indramayu sebagai daerah pesisir utara Pulau Jawa. “Dengan adanya nadran ini, semoga budaya lokal Indramayu bisa terus hidup dan mudah-mudahan nelayan bisa selalu sejahtera,” pungkas Nang Sadewo.