BERITA TERKINI
Tilapia Mulai Masuk Pasar Kuliner Premium, Bali Dinilai Jadi Target Potensial

Tilapia Mulai Masuk Pasar Kuliner Premium, Bali Dinilai Jadi Target Potensial

BALI — Ikan tilapia mulai dilirik untuk masuk ke pasar kuliner premium seiring meningkatnya kebutuhan hotel dan restoran terhadap bahan baku ikan yang konsisten, baik dari sisi ukuran, tekstur, maupun hasil masak. Peluang ini juga ditopang oleh kinerja ekspor tilapia Indonesia yang meningkat 14,4 persen pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.

Pengembangan pasar tilapia kini tidak hanya menyasar ekspor, tetapi juga kebutuhan industri kuliner domestik. Bali disebut menjadi salah satu pasar potensial karena memiliki ekosistem hotel, restoran, dan usaha kuliner yang ditopang aktivitas pariwisata.

Regal Springs menjadi salah satu produsen yang memperluas pengembangan tilapia premium untuk pasar tersebut. Perusahaan memperkenalkan KING Tilapia kepada pelaku industri kuliner dan hospitality di Legian, Bali, Selasa (27/10/2026), bekerja sama dengan PT Dineta Jaya.

President Director Regal Springs Indonesia Rudolf Hoeffelman menyatakan Indonesia memiliki posisi penting sebagai produsen perikanan sekaligus pasar bahan baku kuliner. Menurut dia, diferensiasi kualitas menjadi salah satu faktor yang dapat memperluas penggunaan tilapia di dapur profesional.

“Indonesia memiliki potensi besar dalam industri perikanan, baik sebagai pemasok bagi pasar internasional maupun sebagai sumber bahan baku untuk industri kuliner domestik. Melalui KING Tilapia, kami ingin membuka lebih banyak ruang untuk berdiskusi dengan para chef dan pelaku hospitality mengenai bagaimana diferensiasi kualitas ikan Tilapia premium dapat diterapkan untuk kebutuhan dapur profesional,” ujar Rudolf dalam siaran pers, Rabu (28/10/2026).

KING Tilapia dikembangkan sebagai tingkatan premium dalam The Global Open Standard for Tilapia Quality. Kerangka tersebut mencakup praktik budidaya, ukuran ikan, kualitas pengolahan, sertifikasi, kesejahteraan ikan, dan performa kuliner.

Regal Springs menyebut produk itu memiliki potongan loin dengan berat minimum 106 gram dan ketebalan 25 milimeter. Perusahaan juga mencatat cooking yield lebih dari 85 persen, dengan karakter rasa yang ringan dan daging berwarna putih alami.

Karakteristik tersebut ditujukan untuk menjawab kebutuhan dapur profesional yang mengandalkan konsistensi porsi dan hasil pengolahan. Efisiensi bahan baku serta fleksibilitas penggunaan dalam berbagai menu juga menjadi pertimbangan bagi restoran dan hotel.

Chef Bara R. Pattiradjawane menilai tilapia memiliki karakter yang dapat digunakan untuk beragam teknik memasak dan profil rasa.

“KING Tilapia memiliki karakter yang cukup unik untuk ikan air tawar. Potongannya yang tebal, teksturnya yang kokoh, dan juiciness-nya memberikan fleksibilitas dalam pengolahan dengan berbagai teknik dan metode memasak yang sesuai untuk kebutuhan industri kuliner. Karakter rasanya yang ringan juga membuat ikan ini mudah dipadukan dengan beragam profil bumbu dan masakan, mulai dari hidangan Asia, Western, Afrika Utara, hingga tentunya masakan Indonesia,” ujar Bara.

Potensi pasar tilapia premium juga dikaitkan dengan perkembangan sektor pariwisata Bali. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Bali yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mencapai hampir 6,95 juta sepanjang 2025, atau meningkat 9,72 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Aktivitas wisata tersebut mendorong kebutuhan bahan baku yang relatif stabil untuk hotel, restoran, dan usaha kuliner. Dalam konteks ini, tilapia dinilai berpeluang memperluas perannya dari komoditas ekspor menjadi bahan baku bernilai tambah untuk pasar domestik.

Selain aspek kuliner, standar produksi juga menjadi faktor dalam pengembangan pasar. Regal Springs menyatakan menerapkan sejumlah sertifikasi, antara lain Aquaculture Stewardship Council (ASC), Best Aquaculture Practice (BAP), Brand Reputation through Compliance Global Standard (BRCGS), International Featured Standard (IFS), serta sertifikasi halal.

Regal Springs telah beroperasi di Indonesia sejak akhir 1988 dan mulai membudidayakan tilapia di Danau Toba, Sumatera Utara, pada 1998. Perusahaan mengintegrasikan pembenihan, budidaya, dan pengolahan untuk memasok tilapia ke pasar Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.

Penguatan pasar domestik dinilai dapat menjadi ruang baru bagi pengembangan tilapia Indonesia. Selain menjaga pasar ekspor, peningkatan nilai tambah melalui segmen kuliner premium berpotensi memperluas pemanfaatan komoditas ini di dalam negeri.