ENDE — Membangun usaha kuliner membutuhkan keberanian dan konsistensi untuk menghadapi berbagai tantangan selama proses pengembangan bisnis. Hal itu disampaikan Syafitri Permata Putri saat berbagi pengalaman dalam program Muda Kreatif, Sabtu (7/3/2026).
Syafitri menjelaskan, tantangan pada tahap awal tidak hanya terkait modal, tetapi juga hambatan psikologis berupa rasa takut gagal. Keraguan terhadap penerimaan pasar, menurutnya, kerap menjadi beban bagi pelaku usaha pemula dan perlu diatasi agar bisa melangkah.
Selain itu, ia juga pernah menghadapi kendala operasional seperti keterbatasan tenaga serta kondisi kesehatan yang memengaruhi jalannya usaha. Dalam situasi tersebut, dukungan keluarga disebutnya berperan penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis.
Syafitri menilai konsistensi menjaga kualitas produk dan pelayanan menjadi kunci mempertahankan loyalitas pelanggan. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang baik dengan konsumen untuk mengatasi kendala, termasuk ketika terjadi keterlambatan pelayanan maupun distribusi produk.
“Kalau gagal hari ini, kita harus berani mencoba lagi,” kata Syafitri. Ia menegaskan bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar yang perlu dihadapi dengan mental tangguh dan sikap terbuka.
Menurutnya, perkembangan usaha tidak hanya bergantung pada modal finansial, tetapi juga kemampuan dan keterampilan individu. Penguasaan skill dinilai penting untuk menghasilkan produk berkualitas dan mampu bersaing di pasar kuliner.
Di tengah persaingan, Syafitri menyoroti perlunya inovasi produk serta pemanfaatan teknologi digital. Media sosial, menurutnya, dapat membantu memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan visibilitas merek kepada konsumen yang lebih luas.
Ia berharap generasi muda dapat memanfaatkan peluang usaha dari rumah sebagai langkah awal membangun kemandirian ekonomi. Dengan semangat dan kerja keras, ia meyakini usaha kecil dapat berkembang menjadi bisnis yang lebih besar dan berkelanjutan.

