Masalah gizi pada remaja, termasuk meningkatnya risiko obesitas, tidak bisa lagi dipahami semata-mata sebagai akibat pilihan individu. Lingkungan tempat remaja beraktivitas sehari-hari turut membentuk kebiasaan makan mereka, dan sekolah menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh.
Selain sebagai ruang belajar, sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk kebiasaan hidup sehat, termasuk pola makan. Hal ini dinilai penting karena remaja menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, dan sekitar 40% asupan makanan harian dikonsumsi di lingkungan sekolah, terutama saat jam istirahat dan makan siang.
Penelitian Augundhooa dkk. (2025) yang melibatkan 118 siswa sekolah menengah negeri di Malaysia menyoroti kaitan antara persepsi remaja terhadap lingkungan makanan di sekolah dengan praktik makan mereka sehari-hari. Studi tersebut menempatkan lingkungan kantin sekolah sebagai faktor kunci dalam upaya pencegahan obesitas dan persoalan gizi pada remaja.
Dalam temuan penelitian itu, persepsi siswa terhadap lingkungan kantin sekolah secara umum berada pada kategori sedang. Praktik makan sehat siswa juga tercatat pada kategori yang sama. Ini menunjukkan sebagian besar siswa memiliki kesadaran dasar mengenai makanan sehat, namun belum sepenuhnya menerapkannya dalam pilihan makanan sehari-hari di sekolah.
Analisis penelitian juga menemukan hubungan positif yang signifikan antara persepsi dan praktik makan sehat. Siswa yang memandang kantin sekolah sebagai lingkungan yang mendukung pilihan makanan sehat cenderung menunjukkan perilaku makan yang lebih baik.
Studi tersebut turut mengungkap adanya perbedaan persepsi berdasarkan etnis serta latar belakang sosial ekonomi orang tua, seperti tingkat pendidikan dan pekerjaan. Siswa dari keluarga dengan latar belakang sosial ekonomi lebih rendah justru menunjukkan persepsi yang lebih positif terhadap makanan kantin sekolah. Salah satu dugaan yang disampaikan adalah kantin sekolah menjadi sumber makanan yang relatif terjangkau dan lebih terkontrol dibandingkan jajanan di luar sekolah.
Adapun siswa dari keluarga dengan sosial ekonomi lebih tinggi cenderung lebih kritis terhadap kualitas makanan kantin, seiring dengan ketersediaan lebih banyak alternatif makanan di rumah maupun dari luar sekolah.
Temuan penelitian ini menegaskan bahwa edukasi gizi saja belum cukup untuk mengubah perilaku makan remaja. Dalam praktiknya, pilihan makanan di sekolah kerap ditentukan oleh ketersediaan, harga, rasa, dan kemudahan akses. Ketika makanan sehat sulit ditemukan, kurang menarik, atau lebih mahal, remaja cenderung beralih ke makanan tinggi lemak, gula, dan garam.
Sebaliknya, ketika lingkungan kantin mendukung pilihan makanan sehat, persepsi positif dapat terbentuk dan mendorong perilaku makan yang lebih baik. Faktor seperti ketersediaan makanan, harga, rasa, tampilan, dan tingkat kenyang disebut masih menjadi pertimbangan utama remaja dalam memilih makanan.
Karena itu, penciptaan lingkungan kantin sekolah yang sehat dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh. Upaya yang disebutkan meliputi penerapan pedoman kantin sehat secara konsisten, pengawasan kualitas dan variasi menu, pelibatan siswa serta orang tua dalam evaluasi kantin, hingga penyediaan pilihan makanan sehat yang terjangkau dan menarik.
Penelitian ini dipandang memberi kontribusi bagi pengembangan kebijakan kesehatan sekolah dan dapat menjadi rujukan bagi institusi pendidikan, peneliti, serta pemangku kebijakan dalam merancang intervensi berbasis lingkungan sekolah. Perguruan tinggi, khususnya di bidang kesehatan dan gizi, disebut memiliki peran dalam mendukung riset, edukasi, dan pendampingan sekolah menuju lingkungan pangan yang lebih sehat.
Secara keseluruhan, membangun kebiasaan makan sehat pada remaja dinilai membutuhkan pendekatan kolaboratif antara sekolah, keluarga, dan institusi pendidikan tinggi. Lingkungan kantin sekolah yang sehat dan mendukung dipandang dapat memperkuat persepsi positif remaja dan mendorong praktik makan yang lebih baik, sehingga berkontribusi pada peningkatan kualitas kesehatan generasi muda.