BERITA TERKINI
Street Food Perkotaan Menopang Hidup Kota, Namun Masih Kerap Dipinggirkan

Street Food Perkotaan Menopang Hidup Kota, Namun Masih Kerap Dipinggirkan

Di balik gemerlap lampu kota dan hiruk-pikuk kehidupan malam, pedagang street food bekerja di ruang terbuka dengan peralatan sederhana, ruang terbatas, dan ritme kerja yang nyaris tak berhenti. Aktivitas ini bukan semata potret kuliner, melainkan bagian dari sektor informal yang menopang kehidupan urban sehari-hari. Namun, di tengah perannya yang penting, street food masih kerap diposisikan sebagai “masalah kota”, meski secara global jutaan orang menggantungkan pangan dan penghidupan pada sektor ini.

Street food kerap menjadi penopang akses makanan terjangkau sekaligus pintu ekonomi bagi warga yang tidak terserap sektor formal. Penelitian di Surabaya menyebut pedagang street food merupakan bagian vital dari sistem pangan kota, tetapi belum mendapatkan dukungan regulasi dan pembinaan yang memadai. Kondisi ini menampilkan kontradiksi: kota bergantung pada street food, namun enggan mengakuinya sebagai bagian resmi dari sistem perkotaan.

Meski demikian, pengakuan atas peran street food tidak menghapus persoalan yang menyertainya, terutama soal higienitas. Studi terhadap 120 pedagang di Surabaya menunjukkan praktik sederhana—seperti mencuci tangan, penggunaan sarung tangan, dan ketersediaan air bersih—memiliki hubungan signifikan dengan risiko penyakit, termasuk hepatitis. Temuan ini sejalan dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut ratusan juta kasus penyakit bawaan makanan terjadi setiap tahun secara global.

Persoalan higienitas juga tidak selalu selesai hanya dengan penataan ruang. Studi di Jakarta menunjukkan bahwa relokasi pedagang ke tempat yang lebih tertata belum tentu membuat praktik higiene membaik. Artinya, masalah tidak berhenti pada lokasi berjualan, melainkan berkaitan dengan sistem yang membentuk perilaku, termasuk dukungan fasilitas dan pengawasan.

Ada anggapan bahwa praktik higiene yang kurang terjadi karena pedagang tidak memahami sanitasi. Namun riset di Malang menemukan sebagian pedagang sudah mengetahui pentingnya sanitasi, tetapi tidak selalu menerapkannya secara konsisten. Hal serupa terlihat di Surakarta: pengetahuan berhubungan dengan perilaku, tetapi implementasinya masih belum stabil. Temuan-temuan ini mengindikasikan bahwa edukasi saja tidak cukup; perubahan perilaku memerlukan sistem pendukung yang berkelanjutan.

Fenomena tersebut bukan hanya persoalan lokal. Sejumlah kajian menunjukkan praktik higiene yang buruk pada pengolah makanan menjadi salah satu faktor meningkatnya risiko penyakit bawaan makanan. Studi lain juga menegaskan konsumsi street food tanpa pengawasan sanitasi yang baik berkorelasi dengan peningkatan kasus diare, terutama pada kelompok rentan. Street food pun berada di antara dua kutub: kebutuhan ekonomi dan risiko kesehatan.

Di sisi kebijakan, penertiban dan relokasi masih sering dianggap sebagai solusi utama, seolah persoalan selesai dengan memindahkan pedagang. Padahal, penelitian menunjukkan perubahan fisik tidak otomatis diikuti perubahan perilaku tanpa pembinaan berkelanjutan. Pendekatan yang terlalu menitikberatkan penataan ruang dinilai belum menyentuh akar persoalan, karena aspek sistem pendukung—seperti akses air bersih dan pengawasan higiene—sering tidak menjadi fokus.

Pada akhirnya, cara kota memperlakukan street food kerap mencerminkan cara kota memperlakukan warganya: diberi ruang untuk berkembang atau didorong ke pinggir. Street food bukan sekadar aktivitas ekonomi kecil, melainkan ruang sosial, sumber penghidupan, dan bagian dari identitas budaya kota. Jika dikelola lebih serius melalui pengakuan dan dukungan sistem yang jelas, sektor ini berpotensi menjadi kekuatan kota, bukan sekadar persoalan yang terus diperdebatkan.