Soto Bonjok menjadi salah satu kuliner lokal di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang menyimpan perjalanan panjang usaha keluarga sekaligus tradisi rasa. Dirintis sejak 1997, usaha ini dipertahankan melalui racikan bumbu, pengolahan kaldu, serta komitmen menjaga kualitas sajian.
Kisah Soto Bonjok diangkat dalam dokumenter “Semangkuk Cerita dari Bonjok | Soto Bonjok: Merawat Rasa, Menjaga Warisan” yang disiarkan di Pro 1 RRI Purwokerto pada Minggu (25/10/2026). Dokumenter tersebut menghadirkan Rasini selaku pemilik Soto Bonjok, Wawan Hermawan sebagai pelanggan, serta Kristian Passarela yang menjadi penerus usaha keluarga.
Melalui cerita ketiganya, pendengar diajak mengenal sejarah Soto Bonjok, proses pengolahan, pengalaman pelanggan, hingga upaya mempertahankan kuliner lokal agar tetap dikenal generasi berikutnya. Kristian menuturkan usaha ini bermula saat ibunya berjualan di Pasar Sokawera. Karena kondisi di sekitar perempatan yang dinilai rawan kecelakaan, lokasi berjualan kemudian dipindahkan ke Bonjok.
“Awal mula dirintis itu dari tahun 97, Mas. Jadi pas tahun 97 itu Mama saya kan dulunya di Pasar Sokawera, di tempat Mbah itu jualan rames sama soto juga di sana. Ramai, tapi di sana banyak terjadi kecelakaan di perempatan, jadi pindah ke Bonjok buat jualan soto di Bonjok,” ujar Kristian.
Selain cerita perpindahan tempat, perjalanan usaha ini juga ditandai oleh konsistensi menjaga cita rasa. Sejak awal, Soto Bonjok mengandalkan kaldu alami dari daging tanpa tambahan penyedap rasa. Proses perebusan dilakukan hingga sari daging keluar dan menghasilkan kuah yang gurih.
Rasini menyebut kunci kelezatan soto terletak pada pengolahan kaldu yang tepat, termasuk menyesuaikan waktu perebusan berdasarkan jenis dan bagian daging agar rasa serta teksturnya sesuai.
“Sebetulnya dari kaldunya aja, mas. Kalau saya kan kaldunya tanpa penyedap. Asli dari kaldu daging sapi, mas….yang penting kaldunya sampai keluar, ya rasa enak gurih,” kata Rasini.
Proses memasak dengan kayu bakar juga masih dipertahankan. Menurut Rasini, api kecil dari kayu bakar membantu mengeluarkan sari daging secara perlahan, sebuah cara yang telah digunakan sejak usaha dirintis.
“Jadi kalau pakai kayu bakar itu kan api enggak terlalu nyala besar gitu, mas. Cukup mintip-mintip seperti ini. Juga rasanya sari juga, mas, keluar kaldu. Kalau di kompor gas itu enggak keluar, mas,” tutur Rasini.
Baginya, menjaga rasa juga berarti mempertahankan proses pengolahan yang menjadi ciri khas. Rasini memilih terlibat langsung dalam memasak karena menilai bumbu dan takaran yang sama belum tentu menghasilkan rasa identik jika diolah oleh orang berbeda.
Komitmen kualitas juga diterapkan pada bahan makanan yang disajikan. Rasini menegaskan tidak ingin menjual makanan yang dianggap belum memenuhi standar rasa maupun kesegaran. Jika bahan atau kuah tidak habis, ia memilih membuangnya daripada menyajikan kembali.
“Pokoknya saya enggak mau jual sembarangan, mas. Jadi kalau belum ngaldu, belum apa, saya enggak mau jual,” tegas Rasini.
Konsistensi tersebut, menurut cerita dalam dokumenter, ikut membangun kepercayaan pelanggan yang datang dari berbagai daerah. Wawan Hermawan mengaku kerap merekomendasikan Soto Bonjok kepada keluarga atau tamu yang berkunjung ke Banyumas. Ia menilai rasa dan porsi menjadi daya tarik yang membuatnya ingin kembali.
“Kalau enggak mampir ke soto kalau ada acara, kalau lewat Banyumas pokoknya mampir ke Soto Bonjok. Sekali saya nyicipin memang satu ya, enak. Rasa soto memang hampir sama, cuma memang satu porsinya jelas lebih banyak. Dagingnya terasa dibandingkan yang lain, volumenya juga lebih banyak,” ungkap Wawan.
Popularitas Soto Bonjok juga terlihat dari pelanggan yang datang karena rekomendasi orang lain. Dalam sejumlah kesempatan, tamu dari luar daerah yang berkunjung ke Banyumas disebut sudah mengetahui keberadaan Soto Bonjok sebelum diajak mencicipinya.
Di sisi lain, keberlanjutan usaha turut ditopang generasi penerus. Kristian menjelaskan, sebelum dirintis ibunya pada 1997, keluarga mereka telah menjalankan usaha soto sejak generasi sebelumnya.
“Usaha ini sih dimulai dari Mama saya itu dari 97, cuma untuk sebelumnya itu memang dari Mbah itu memang jualan soto. Jadi sudah ada keturunan kuliner, makanan,” jelas Kristian.
Dalam perkembangannya, Soto Bonjok menambah pilihan menu. Pada awalnya, sajian berfokus pada soto ayam kampung. Seiring waktu, menu bertambah dengan soto sapi dan soto babat, sementara soto balungan ayam disebut menjadi salah satu yang banyak diminati pelanggan.
Meski ada penambahan menu, karakter dasar soto tetap dijaga: kaldu disesuaikan dengan jenis daging, bumbu diracik secara tradisional, dan proses memasak dengan kayu bakar dipertahankan. Kristian menekankan pentingnya menjaga rasa dan tidak mengubah cara pengolahan menjadi serba modern.
“Pertama dari segi rasa jangan sampai dirubah. Jangan memakai alat-alat modern, jangan diblender. Kacang itu masih ditumbuk untuk jadi masakan, jangan ditambahin bumbu-bumbu penyedap. Jadi benar-benar murni,” ujar Kristian.
Ia juga menyebut dua hal penting bagi keberlangsungan usaha: mempertahankan kualitas makanan dan menjaga pelayanan agar hubungan dengan pelanggan tetap baik dalam jangka panjang. Ke depan, Kristian berharap Soto Bonjok tetap menjaga cita rasa, mempertahankan ikatan dengan pelanggan, serta dapat membuka cabang di tempat lain agar lebih banyak orang bisa merasakan sajian tersebut.
“Harapan saya semoga Soto Bonjok selalu mempertahankan cita rasanya, terus mempertahankan ikatan batin sama pelanggan-pelanggan saya dan pelanggan-pelanggan Mama. Terus kemudian dapat membuka cabang lagi di lain tempat agar orang juga dapat merasakan Soto Bonjok. Kemudian dapat berguna juga buat lingkungan,” ungkapnya.
Perjalanan Soto Bonjok menunjukkan bahwa mempertahankan kuliner tradisional tidak hanya soal resep, tetapi juga ketekunan dalam proses memasak, komitmen pada kualitas, kepercayaan pelanggan, serta peran penerus dalam melanjutkan usaha keluarga. Melalui dokumenter “Semangkuk Cerita dari Bonjok”, Soto Bonjok ditampilkan bukan sekadar sajian, melainkan bagian dari cerita kuliner Banyumas yang terus dijaga sejak 1997.