Tren kuliner manis di Kota Yogyakarta terus berkembang seiring hadirnya berbagai inovasi makanan yang menarik minat konsumen. Salah satu kudapan yang mulai dilirik sebagai peluang usaha adalah soft cookies. Kue bertekstur lembut di bagian dalam dan sedikit renyah di bagian luar ini menjadi pilihan bagi pelaku usaha muda, termasuk mahasiswa dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), untuk mengembangkan bisnis kuliner.
Berbeda dari kukis yang umumnya kering dan renyah, soft cookies menawarkan tekstur chewy dengan bagian tengah yang lembut. Rasa kukis ini berasal dari perpaduan bahan seperti mentega, gula merah atau brown sugar, tepung terigu, telur, serta cokelat atau bahan pelengkap lainnya. Proses pemanggangan dengan suhu dan durasi yang tepat menjadi faktor penting untuk menghasilkan tekstur sesuai karakter soft cookies.
Dari sisi produksi, usaha soft cookies dapat dimulai dari dapur rumah dengan peralatan yang relatif sederhana. Pelaku usaha dapat menyesuaikan jumlah produksi dengan kemampuan modal dan permintaan pasar. Sistem pemesanan awal atau pre-order juga bisa diterapkan untuk membantu mengatur kebutuhan bahan baku, mengurangi risiko produk tidak terjual, serta menjaga kesegaran kukis sebelum dikirim kepada konsumen.
Keisya, pelaku usaha soft cookies rumahan di kawasan Bantul, menceritakan usahanya berawal dari kegiatan mencoba resep untuk konsumsi pribadi. Respons positif dari orang-orang di sekitarnya kemudian mendorongnya mulai berjualan melalui media sosial. “Awalnya cuma coba-coba resep buat konsumsi sendiri. Tapi melihat antusiasme teman-teman, akhirnya coba buka sistem pre-order lewat media sosial. Ternyata responsnya sangat bagus, dalam seminggu bisa memproduksi belasan hingga puluhan boks,” ujarnya.
Menurut Keisya, variasi rasa dan kemasan menjadi bagian penting untuk menarik perhatian pembeli. Selain varian klasik chocolate chip, pelaku usaha dapat menghadirkan pilihan rasa seperti matcha, red velvet, dan Lotus Biscoff. Kemasan yang menarik juga membuat produk lebih mudah dipasarkan sebagai hadiah ulang tahun, bingkisan wisuda, maupun hampers untuk berbagai kesempatan. “Kreativitas rasa dan kemasan membantu produk lebih mudah dikenali. Saya juga berusaha menjaga kualitas agar pelanggan tetap tertarik untuk membeli kembali,” katanya.
Peluang pemasaran soft cookies di Yogyakarta dinilai terbuka melalui media sosial, layanan pesan antar, serta kerja sama dengan kedai kopi. Budaya berkumpul dan mengerjakan tugas di kafe dapat menjadi pasar potensial bagi kudapan manis tersebut. Pelaku usaha dapat menawarkan sistem titip jual atau consignment kepada kafe lokal, dengan tetap memperhitungkan pembagian keuntungan, biaya produksi, masa simpan produk, dan risiko barang tidak terjual.
Meski berpeluang berkembang, bisnis soft cookies tetap membutuhkan perencanaan matang. Pelaku usaha perlu menghitung biaya bahan baku, energi, kemasan, tenaga kerja, dan distribusi sebelum menentukan harga jual. Konsistensi rasa, kebersihan proses produksi, keamanan pangan, serta pelayanan kepada pelanggan juga perlu dijaga. Dengan strategi pemasaran yang tepat dan pengelolaan usaha yang cermat, soft cookies berpotensi menjadi salah satu pilihan bisnis kuliner bagi anak muda dan UMKM di Yogyakarta.