BERITA TERKINI
Sis Atuf, Tradisi Atoin Meto Mengolah dan Menyimpan Daging Babi dengan Cara Sederhana

Sis Atuf, Tradisi Atoin Meto Mengolah dan Menyimpan Daging Babi dengan Cara Sederhana

Masyarakat Atoin Meto di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, memiliki tradisi kuliner yang tidak hanya memanfaatkan tumbuhan sebagai bahan pangan, tetapi juga mengembangkan cara khusus mengolah bahan makanan dari hewan. Salah satu yang dikenal adalah Sis Atuf, olahan daging babi yang diwariskan lintas generasi dan menonjol karena proses memasaknya yang sederhana serta kemampuan bertahan dalam penyimpanan tradisional.

Dalam bahasa Uab Meto, hidangan ini disebut Sif Atuf, yang secara harfiah dimaknai sebagai daging yang dimasak hingga hangus atau kering. Penamaan tersebut merujuk pada karakter hasil olahan, meski proses memasaknya tidak semata-mata dilakukan dengan membakar daging langsung di atas api.

Sis Atuf dibuat dari daging babi segar dengan bahan utama garam dan air. Kesederhanaan ini menjadi ciri penting: cita rasa tidak dibangun dari banyak rempah, melainkan dari proses pemasakan daging itu sendiri. Dalam pengetahuan masyarakat yang mengenalnya, penggunaan bumbu berlebihan justru dipandang dapat mengurangi daya tahan makanan saat disimpan.

Karena berbahan dasar daging babi, Sis Atuf merupakan bagian dari tradisi kuliner Atoin Meto dan tidak dikonsumsi oleh semua kalangan tanpa memandang latar belakang agama. Pengenalan terhadap hidangan ini ditempatkan sebagai upaya mendokumentasikan keragaman pengetahuan kuliner setempat.

Proses pengolahan Sis Atuf dimulai dengan memotong daging babi segar sesuai ukuran, mencucinya hingga bersih, lalu mencampurkannya dengan garam. Air bersih sekitar satu liter kemudian dimasukkan ke dalam periuk tanah, sebelum daging yang telah diasinkan dimasak di atas tungku dengan nyala api yang tidak terlalu besar.

Pemasakan dilakukan hingga daging matang dan minyaknya keluar serta menjadi kental. Penggunaan periuk tanah menjadi salah satu unsur penting dalam praktik ini, bukan sekadar wadah memasak, tetapi bagian dari teknologi pangan tradisional. Dalam praktik sehari-hari, hubungan antara bahan makanan, peralatan, sumber panas, dan pengalaman memasak membentuk rangkaian pengetahuan yang diwariskan lewat kebiasaan dan pembelajaran langsung di keluarga maupun komunitas.

Meski terlihat sederhana, pembuatan Sis Atuf tetap bergantung pada keterampilan pembuatnya, terutama dalam mengatur api, menentukan lama pemasakan, serta mengamati perubahan kondisi daging selama dimasak. Bagi masyarakat setempat, proses ini tidak hanya dipahami sebagai kegiatan memasak, melainkan juga pengetahuan praktis yang tumbuh dari interaksi dengan bahan pangan dan peralatan yang tersedia.

Aspek lain yang menonjol dari Sis Atuf adalah tradisi penyimpanannya. Berdasarkan pengetahuan lokal masyarakat yang mengenalnya, hidangan ini dapat bertahan hingga satu tahun tanpa pendingin. Setelah matang, daging biasanya dibiarkan beberapa saat di dalam periuk tanah yang digunakan untuk memasak.

Sis Atuf juga disebut lebih nikmat jika disajikan dalam keadaan dingin dan telah tersimpan lebih dari satu minggu. Karena itu, hidangan ini tidak selalu dikonsumsi segera setelah selesai dimasak, melainkan dapat disimpan dan disantap pada kesempatan berikutnya sebagai bagian dari strategi pemenuhan konsumsi dalam keseharian.