BERITA TERKINI
Sinopsis Novel Tabula Rasa Karya Ratih Kumala: Kisah Raras, Violet, dan Galih di Tengah Isu LGBT

Sinopsis Novel Tabula Rasa Karya Ratih Kumala: Kisah Raras, Violet, dan Galih di Tengah Isu LGBT

Ratih Kumala merilis novel berjudul Tabula Rasa pada awal Januari 2004. Novel ini mengangkat isu seputar LGBT melalui tokoh utama bernama Raras, sekaligus menyoroti sejumlah persoalan lain seperti keluarga, pelecehan seksual, dan isu sosial.

Cerita berpusat pada Raras, seorang lesbian yang mengalami duka setelah ditinggal meninggal oleh perempuan yang dicintainya, Violet. Setelah kehilangan itu, Raras kemudian bertemu Galih, yang juga berada dalam situasi serupa karena kekasihnya, Krasnaya, telah meninggal.

Dalam novel ini, Ratih Kumala membangun karakter Raras sebagai sosok yang kompleks, terutama terkait identitasnya yang kerap tidak diterima oleh masyarakat. Perubahan dalam diri Raras digambarkan bukan tanpa sebab. Ia disebut sebagai korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang terdekat, sebuah peristiwa yang juga berdampak pada saudara kembarnya, Rimbang, hingga meninggal.

Tabula Rasa turut menggambarkan upaya Raras menunjukkan cintanya kepada Violet. Namun, Violet kemudian meninggal karena overdosis. Kematian Rimbang dan Violet menjadi dua dari rangkaian kejadian yang membentuk perubahan karakter Raras sepanjang cerita.

Sementara itu, Galih digambarkan seperti “kosong” setelah kehilangan Krasnaya, kekasihnya yang berasal dari Rusia. Pertemuannya dengan Raras membuka petualangan cinta baru, meski Galih masih bergulat dengan upaya untuk melepaskan masa lalu. Ratih Kumala menampilkan proses Galih dari fase penyangkalan setelah kehilangan orang terkasih, mencoba melepaskan, hingga menjalin hubungan dengan orang baru.

Relasi Raras dan Galih juga digambarkan berjalan dengan dinamika yang tidak sederhana. Keduanya diceritakan hampir memiliki bayi, sebelum pada akhirnya sama-sama memilih melanjutkan hidup masing-masing. Di akhir, novel ini menampilkan pilihan hidup yang dinilai realistis: Galih dan Raras digambarkan sebagai dua orang yang berusaha pulih dari luka masa lalu, dengan Raras tetap memilih melanjutkan hidup sebagai dirinya sendiri.

Selain narasi dan alur cerita, Tabula Rasa memuat sejumlah kutipan yang muncul dari narasi maupun dialog para tokohnya. Beberapa di antaranya adalah:

“Ternyata, berapapun umur manusia atau makhluk apa pun, kematian adalah pantas untuk semua.”

“Face my fear. Aku ingin menyangkal, tapi tidak bisa. Ternyata memang ada yang kutakuti. Maka aku diam saja.”

“Tidak ada hubungan cinta atau asrama mana pun yang bisa memberi jaminan apa pun.”

“Waktu memang selalu membawa manusia kepada gerbang paling menakutkan. Kerentaan. Sebuah ketidakabadian umum yang menjadi rahasia Tuhan karena siklusnya selalu berputar seperti kincir air pada dam, sumber yang terinjak justru menghasilkan energi.”

“Waktu adalah musuh masa dan menjadi teman terbaik sekaligus. Ketidakabadian yang abadi. Karenanya orang-orang takut sendiri. Waktu adalah gambaran kerentaan bumi seperti pemintal yang menyebalkan benangnya lalu menggulung dan menjalin apda tiap lembarannya.”

“Jalanku memang berbeda, tapi jangan khawatirkan aku, apalagi menangisi lukaku. Sebab aku telah belajar berdiri pasti dan kelak aku akan terbang tinggi.”