AMBON — Di tengah maraknya kuliner modern, Sibu Sibu Cafe di Kota Ambon memilih mengangkat kembali makanan dan minuman tradisional Maluku agar tetap diminati, terutama oleh generasi muda. Pemilik kafe, Juniske Taihutu, menghadirkan inovasi pada sajian lokal tanpa meninggalkan nilai budaya yang melekat pada kuliner tersebut.
Salah satu menu andalan yang diperkenalkan adalah sinoli, olahan berbahan dasar sagu yang umumnya disajikan dengan ikan. Juniske menilai selera anak muda saat ini cenderung tertarik pada sesuatu yang unik dan berbeda, sehingga sinoli perlu dikemas dengan cara yang lebih menarik.
Di Sibu Sibu Cafe, sinoli dibuat dengan campuran kayu manis dan kelapa. Hidangan ini juga dipadukan dengan kohu-kohu, yakni campuran ikan asap dan sayuran segar yang menghadirkan rasa asam segar. Penyajiannya dibuat menyerupai kebab untuk memberikan tampilan yang lebih modern.
Selain sinoli, kafe tersebut juga menyajikan kopi rarobang, racikan kopi yang dicampur rempah-rempah seperti jahe, serai, cengkeh, dan sedikit pala. Perpaduan rempah ini menjadi pembeda dibanding minuman sejenis, seperti air guraka dan saraba.
Juniske menyebut sinoli memiliki keunggulan dibanding olahan sagu lainnya karena tidak hanya dapat dinikmati dengan ikan, tetapi juga dengan sayuran. Dengan kandungan gizi yang disebutnya lengkap, sinoli dijadikan menu utama yang tersedia setiap hari di kafenya.
Di sisi lain, sinoli kini disebut semakin jarang ditemukan di rumah-rumah masyarakat Maluku. Karena itu, Juniske berharap pemerintah daerah dapat membantu mempromosikan sinoli sebagai warisan budaya Maluku agar lebih dikenal, termasuk oleh generasi muda dan masyarakat di luar Maluku.
Melalui inovasi menu tradisional ini, ia berharap kuliner khas Maluku tidak punah dan tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang, sekaligus menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Maluku.