Data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mencatat jumlah usaha kuliner di Indonesia pada 2018 mencapai 5,55 juta unit atau 67,66% dari total 8,20 juta usaha ekonomi kreatif. Dalam tujuh tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan usaha ekonomi kreatif tercatat 9,82%.
Namun, pandemi COVID-19 memukul sektor ini. Sekitar 60% usaha kuliner di Indonesia disebut terdampak sehingga roda bisnis mereka terhenti sementara. Di tengah tekanan tersebut, sebagian pelaku usaha berupaya bertahan dengan menyesuaikan cara berjualan, termasuk memaksimalkan layanan daring.
Salah satu contoh datang dari Restoran Mie Kedondong di Surabaya yang berdiri sejak 1977 dan dikelola Clarissa Suwijono. Ia mengatakan pendapatan usahanya menurun selama pandemi, tetapi tetap melihat peluang untuk bertahan. Clarissa menyebut perubahan perilaku konsumen ke layanan online sudah terlihat bahkan sebelum pandemi, sehingga ia memilih bergabung dengan GrabKitchen untuk mengembangkan bisnis keluarga tersebut.
Menurut Clarissa, kemitraan itu membantunya tetap melayani pelanggan sekaligus mempertahankan operasional dan penghidupan karyawan di masa sulit.
Di Bandung, Martabak Mertua yang dikelola Alan Okadanan juga mengalami penurunan pendapatan selama pandemi. Meski begitu, Alan mengaku terbantu dengan keberadaan GrabKitchen, terutama dalam menghadapi masa new normal. Ia menekankan aspek kebersihan makanan sebagai perhatian utama untuk menjaga kepercayaan pelanggan yang ragu membeli makanan di luar.
Restoran yang didirikan pada 2015 itu telah bergabung dengan GrabKitchen sekitar enam bulan. Alan mengatakan, salah satu manfaat yang dirasakan adalah akses terhadap data terkait pemilihan lokasi dan jenis makanan yang diminati konsumen di suatu area, yang dinilainya membantu menangkap peluang dan mengembangkan variasi menu.
Pengalaman serupa disampaikan Hendri Prabowo, pemilik Ayam Geprek COC di Medan. Ia menyebut pandemi mulai sangat memengaruhi bisnisnya, sehingga mengikuti imbauan pemerintah dengan tidak melayani makan di tempat dan berfokus pada penjualan online. Di sisi operasional, ia meningkatkan kebersihan dapur dengan mewajibkan pegawai memakai masker dan sarung tangan, serta rutin mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer.
Hendri mengatakan, pada bulan Ramadhan biasanya restorannya ramai oleh pengunjung yang berbuka puasa bersama, tetapi situasi pandemi membuat seluruh pesanan beralih ke online. Ia menilai bergabung dengan GrabKitchen membantu usahanya tetap berjalan dan menjaga keberlangsungan kerja karyawan.
Sementara itu, Rudi Ardiansyah selaku pengelola restoran Nona Judes menilai inovasi menjadi hal penting dalam menjalankan bisnis, termasuk saat pandemi. Ia menyebut tantangan akan selalu ada, dan pada masa ini bentuknya adalah pandemi, sehingga pelaku usaha perlu terus menyesuaikan diri untuk memenuhi permintaan pelanggan. Rudi mengatakan keputusan bergabung dengan GrabKitchen menjadi salah satu langkah inovasi yang ditawarkan kepada pelanggan di tengah kondisi sulit.