Pelaku usaha kuliner di Palembang, Nissya Thamrin, mengembangkan Sakura Kita dengan menggarap pasar olahan sushi tanpa bergantung pada gerai fisik. Di tengah persaingan bisnis kuliner yang ketat, ia memilih mengandalkan penjualan berbasis digital untuk menjangkau konsumen, terutama di wilayah perkotaan.
Menurut Nissya, daya tarik produk Sakura Kita terletak pada keberanian meracik hidangan khas Jepang yang disesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Penyesuaian itu juga tercermin dari nama usahanya.
“Sakura Kita bergerak di bidang kuliner khusus makanan Jepang. Nama Sakura diambil dari bunga khas Jepang sebagai penanda produk, sedangkan kata Kita menjelaskan bahwa kami menjual masakan Jepang dengan cita rasa Indonesia yang dipasarkan secara online,” kata Nissya Thamrin dalam program Teras UMKM Lokak Kito RRI Palembang, Selasa, 20 Oktober 2026.
Dengan memanfaatkan kanal penjualan daring, Nissya menilai promosi dan pengenalan varian produk dapat dilakukan lebih efisien. Ia juga menekankan pentingnya penyampaian informasi yang jelas, mulai dari pilihan bahan baku, rincian rasa, hingga alur pemesanan, untuk membangun pengalaman belanja yang nyaman bagi pelanggan.
Meski demikian, ia mengakui bisnis yang sepenuhnya mengandalkan platform digital memiliki tantangan tersendiri. Ketiadaan interaksi tatap muka menuntut pengelolaan komunikasi yang responsif serta informasi produk yang akurat agar tidak menimbulkan kekecewaan pembeli.
“Supaya pelanggan setia, aspek penting yang harus diperhatikan adalah pemahaman terhadap kebutuhan dan selera konsumen. Selain itu, kejujuran adalah hal utama yang harus dijaga untuk merawat kepercayaan pelanggan,” ujarnya.
Untuk menjaga relevansi bisnis, Sakura Kita rutin menyesuaikan strategi promosi dan melakukan evaluasi berdasarkan masukan pelanggan. Nissya juga menempatkan ketepatan waktu pengolahan, pengemasan yang aman untuk pengiriman, serta konsistensi rasa sebagai standar yang dijaga agar pelanggan melakukan pembelian berulang.
Kiprah Sakura Kita menunjukkan bahwa keterbatasan sarana fisik tidak selalu menjadi penghalang untuk bertumbuh. Pemanfaatan teknologi digital, kejelian membaca preferensi pasar, serta konsistensi kualitas dan integritas dinilai menjadi faktor penting bagi UMKM kuliner untuk bersaing di era serbadigital.