Usaha kuliner Ratu Mentai di Banda Aceh berkembang dari hobi menjadi bisnis yang diminati anak muda. Produk yang ditawarkan antara lain dimsum dan nasi mentai, yang dirintis sejak 2022 oleh Darin Najla, A.Md.Kes.
Darin menjelaskan, awal mula usaha ini berangkat dari ketertarikannya mencoba makanan yang sempat viral di media sosial. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian mengembangkan racikan resep sendiri hingga dinilai sesuai dengan selera pasar.
“Awalnya coba-coba dari yang viral, lalu kami racik sendiri sampai cocok di lidah,” ujarnya dalam Dialog UMKM TALKS, Senin, 16 Maret 2026.
Pada masa awal merintis usaha, sistem penjualan masih dilakukan melalui pre order (PO). Promosi dijalankan lewat jaringan pertemanan dan media sosial, yang kemudian mendorong peningkatan pesanan dari waktu ke waktu.
Ia menyebut dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam menjalankan usaha. Orang tua memberikan izin dengan syarat pendidikan tetap menjadi prioritas. Darin mengakui tantangan terbesar yang dihadapinya adalah membagi waktu antara kuliah dan mengelola usaha.
“Tantangan terbesar itu membagi waktu antara kuliah dan usaha, jadi harus pintar mengatur jadwal,” katanya.
Seiring perkembangan usaha, Ratu Mentai menambah varian menu dimsum sejak 2024. Produk dimsum tersebut dipadukan dengan saus mentai yang menjadi ciri khas.
Selain menjaga rasa, Darin juga menekankan perhatian pada kualitas bahan baku. Seluruh produk diolah sendiri dengan standar kebersihan yang ketat, termasuk penggunaan sarung tangan dan pemilihan bahan untuk memastikan keamanan produk bagi konsumen.
Saat ini, Ratu Mentai tidak hanya melayani penjualan secara online, tetapi juga telah membuka gerai offline. Gerai tersebut berlokasi di kawasan Prada, Banda Aceh. Pemasaran dilakukan melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok, serta pemesanan dapat dilakukan lewat layanan pesan singkat.
Darin menyampaikan produknya mampu bertahan hingga 12 jam, meski ia tetap menyarankan agar makanan segera dikonsumsi untuk menjaga kualitas rasa. Permintaan disebut terus meningkat, termasuk dari luar daerah, dan beberapa pelanggan mengusulkan pembukaan cabang di wilayah lain.
Meski demikian, Darin mengatakan pihaknya belum membuka cabang karena masih berfokus mengembangkan usaha di Banda Aceh. Rencana ekspansi baru akan dipertimbangkan setelah usaha dinilai lebih stabil.
“Yang penting mulai dulu, jangan takut gagal, dan tetap konsisten,” ucapnya.
Ia menambahkan, inovasi dan pelayanan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan pelanggan. Masukan dari konsumen juga terus digunakan sebagai bahan evaluasi agar produk tetap mampu bersaing di tengah banyaknya usaha kuliner serupa.

