BERITA TERKINI
Program Japfa for Kids Menjangkau 8 SD di Teluk Bintan untuk Dukung Penanganan Stunting

Program Japfa for Kids Menjangkau 8 SD di Teluk Bintan untuk Dukung Penanganan Stunting

PT Japfa Comfeed Indonesia kembali menjalankan program Japfa for Kids dengan menyasar delapan sekolah dasar di Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan. Program ini diarahkan untuk membantu penanganan stunting dan persoalan malnutrisi anak yang masih menjadi tantangan di sejumlah daerah.

Corporate Affairs Director PT Japfa Comfeed Indonesia, Rachmat Indrajaya, mengatakan program tersebut telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir dan kini diperluas sebagai dukungan terhadap upaya pemerintah menurunkan angka stunting di Kabupaten Bintan.

“Program yang sudah dijalankan beberapa tahun terakhir ini kembali dilaksanakan untuk membantu upaya pemerintah dalam menanggulangi stunting,” ujar Rachmat di Teluk Bintan, Kamis (21/5/2026).

Menurut Rachmat, Japfa for Kids memiliki dua fokus utama, yakni menekan angka malnutrisi serta membangun kebiasaan hidup sehat sebagai langkah pencegahan jangka panjang. Untuk memastikan program tepat sasaran, Japfa bekerja sama dengan puskesmas dalam melakukan penyaringan (screening) terhadap anak-anak yang mengalami kekurangan gizi maupun gizi buruk.

Melalui unit usahanya di Kabupaten Bintan, PT Indojaya Agrinusa, perusahaan akan menyalurkan telur ayam sebagai sumber protein hewani kepada anak-anak penerima manfaat. Namun, intervensi tidak berhenti pada pemberian pangan. Japfa juga akan melakukan pemantauan rutin terhadap tumbuh kembang anak-anak penerima manfaat guna memastikan program berjalan efektif.

“Penerima manfaat akan dimonitor secara rutin untuk mengawasi tumbuh kembang anak-anak yang menerima manfaat program tersebut,” kata Rachmat.

Selain distribusi telur ayam, program ini juga disertai edukasi pembiasaan perilaku hidup sehat di sekolah-sekolah binaan. Setiap pekan, siswa dijadwalkan mengikuti kegiatan senam bertema empat pilar gizi seimbang yang dipadukan dengan edukasi kesehatan dasar, seperti cuci tangan dan pemeriksaan kebersihan kuku sebelum makan bekal.

“Nanti senam dengan treatment musik yang mengajak anak-anak berperilaku hidup sehat, habis senam kita edukasi cuci tangan dan pemeriksaan kuku baru memakan bekal yang dibawanya,” ujar Rachmat.

Ia menilai persoalan gizi anak tidak selalu berkaitan dengan keterbatasan makanan. Dalam sejumlah kasus, anak yang asupannya dinilai cukup tetap dapat mengalami gangguan gizi akibat pola hidup tidak sehat, misalnya infeksi cacingan. Karena itu, pembiasaan perilaku hidup sehat dinilai sama pentingnya dengan pemenuhan nutrisi sebagai langkah pencegahan.

Rachmat menegaskan, keberhasilan penanganan stunting tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah atau perusahaan. Keterlibatan orang tua, sekolah, dan puskesmas disebut menjadi faktor penting agar program berlangsung efektif dan berkelanjutan.

“Nah peran orang tua, sekolah dan juga puskesmas sangat penting dalam menyukseskan program ini,” tambahnya.

Pelaksanaan Japfa for Kids di Bintan menjadi salah satu contoh keterlibatan sektor swasta dalam mendukung penanganan stunting. Di tengah berbagai program yang telah digulirkan, persoalan malnutrisi di sejumlah daerah masih memerlukan pengawasan serta intervensi berkelanjutan, terutama pada anak usia sekolah dasar.