BERITA TERKINI
Polytron Ajak UMKM Kuliner Semarang Manfaatkan Data Pelanggan dan WhatsApp untuk Dorong Repeat Order

Polytron Ajak UMKM Kuliner Semarang Manfaatkan Data Pelanggan dan WhatsApp untuk Dorong Repeat Order

SEMARANG, 27 Oktober 2026 — Polytron mengajak pelaku UMKM kuliner di Semarang memanfaatkan data pelanggan dan WhatsApp untuk mengubah percakapan menjadi pembelian berulang. Strategi ini dinilai penting untuk membangun loyalitas pelanggan sekaligus meningkatkan omzet.

Ajakan tersebut disampaikan melalui program UMKM Naik Level bareng Polytron. Dalam kegiatan ini, lebih dari 100 pelaku UMKM mengikuti workshop yang membahas pengelolaan hubungan pelanggan, peningkatan kualitas layanan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pertumbuhan bisnis.

Program ini merupakan bagian dari komitmen Polytron dalam pemberdayaan UMKM. Sebelumnya, Polytron juga berkolaborasi dengan platform riset Populix meluncurkan UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level yang merangkum hasil riset mengenai tantangan dan kebutuhan pelaku usaha di Indonesia.

Head of Public Communications Polytron Vina Julita Wijaya mengatakan, banyak pelaku UMKM menghadapi hambatan karena asumsi yang kurang tepat dalam menjalankan bisnis. Berdasarkan riset yang dirangkum dalam UMKM Handbook, sebanyak 80 persen pelaku UMKM merupakan perintis usaha. Sebanyak 57 persen memulai bisnis karena ingin mandiri, sementara 46 persen melihat peluang pasar yang menjanjikan. Dari sisi usia, 65 persen pelaku UMKM berasal dari generasi Z dan milenial.

Riset tersebut juga mencatat, sebagian besar pelaku usaha mengandalkan tabungan pribadi sebagai modal (63 persen), disusul keuntungan usaha yang digunakan kembali untuk mengembangkan bisnis (46 persen).

Dalam handbook itu, terdapat lima anggapan yang dinilai perlu diluruskan. Pertama, bisnis tidak harus memiliki banyak cabang untuk berkembang. Sebanyak 25 persen pelaku usaha mengaku terkendala karena sistem dan standar operasional prosedur (SOP) belum tertata. Bahkan, 48 persen masih mencatat transaksi secara manual sehingga pengambilan keputusan dan pengembangan usaha belum didukung data yang memadai.

Kedua, akses modal tidak semata soal sulitnya pinjaman. Sebanyak 32 persen pelaku UMKM menyebut modal sebagai tantangan utama dan 50 persen mengaku kesulitan meminjam dana dari bank. Namun, 26 persen belum memahami cara mengajukan pinjaman, sementara 19 persen tidak memiliki akses ke lembaga keuangan. Dalam konteks ini, pencatatan keuangan yang baik dipandang penting untuk membantu menunjukkan kelayakan usaha.

Ketiga, menaikkan harga bukan satu-satunya cara meningkatkan keuntungan. Tantangan pengelolaan sumber daya manusia menjadi perhatian bagi 35 persen pelaku UMKM. Sebanyak 67 persen usaha mikro hanya memiliki satu hingga dua karyawan yang menangani berbagai pekerjaan, yang dapat memengaruhi kecepatan pelayanan terutama saat jam sibuk.

Keempat, omzet besar tidak selalu menjamin bisnis aman. Kelalaian dalam penggunaan dan perawatan peralatan dapat menimbulkan biaya tambahan, mulai dari perbaikan alat, kerusakan bahan baku, hingga terhentinya operasional.

Kelima, peralatan usaha tidak harus mahal, tetapi harus tepat guna. Sebanyak 60 persen UMKM disebut belum memiliki peralatan elektronik pendukung. Sementara pelaku usaha yang telah menggunakannya merasakan manfaat berupa peningkatan kecepatan pelayanan dan efisiensi bahan baku. Pemilihan peralatan juga perlu mempertimbangkan daya tahan dan garansi, bukan semata harga.

Polytron kemudian merumuskan empat pilar UMKM Naik Level, yakni konsep usaha yang memperhatikan identitas dan kenyamanan pelanggan, sistem kerja yang lebih tertata, pemilihan aset untuk investasi jangka panjang, serta ekspansi yang dilakukan secara terukur.

Selain penguatan operasional, pemahaman terhadap pelanggan juga ditekankan sebagai kunci keberlangsungan bisnis kuliner. Pemilik Moaci Gemini Stefania Catharine menilai keluhan pelanggan seharusnya tidak dipandang sekadar kritik, melainkan masukan untuk memperbaiki produk dan pelayanan.

“Keluhan pelanggan bukan sekadar kritik, tetapi juga masukan berharga bagi pelaku usaha untuk memahami kebutuhan dan ekspektasi konsumen. Dengan mendengarkan dan mengevaluasi setiap masukan, pelaku UMKM dapat mengetahui aspek yang perlu diperbaiki sehingga kualitas produk maupun layanan dapat terus ditingkatkan,” ujarnya.

Materi utama workshop juga menyoroti strategi membangun pembelian berulang (repeat order). Dalam sesi bertajuk Membangun Engine Repeat Order Bisnis Kuliner, Grace Amazia menjelaskan pentingnya pengelolaan data pelanggan dan komunikasi yang relevan untuk menjaga hubungan dengan konsumen.

Peserta diperkenalkan pada cara menyusun database pelanggan yang memuat informasi dasar seperti nama, nomor WhatsApp, tanggal lahir, menu favorit, hingga transaksi terakhir. Data tersebut dapat digunakan untuk mengenali kebiasaan belanja pelanggan dan menyusun penawaran yang lebih sesuai, misalnya mengirimkan informasi menu favorit, memberikan promo pada momen tertentu, atau menyapa kembali pelanggan yang sudah lama tidak bertransaksi.

WhatsApp juga didorong sebagai sarana komunikasi langsung dengan pelanggan. Pesan promosi disarankan dibuat singkat, jelas, dan relevan, serta tetap memperhatikan persetujuan pelanggan agar komunikasi tidak terasa mengganggu.

“Pengelolaan data pelanggan yang terstruktur membantu pelaku usaha memahami karakteristik dan kebutuhan konsumennya. Dengan memanfaatkan teknologi CRM, UMKM dapat mengelompokkan pelanggan, mencatat riwayat interaksi, dan menyusun komunikasi yang lebih relevan. Dengan begitu, hubungan dengan pelanggan dapat terjaga dan peluang terjadinya pembelian berulang pun semakin besar,” kata Grace Amazia.

CRM (Customer Relationship Management) merupakan sistem untuk mengelola data dan interaksi pelanggan agar komunikasi serta pelayanan dapat dilakukan lebih terarah.

Dalam workshop, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga melakukan latihan praktis. Pada sesi strategi repeat order, peserta berlatih menyusun database dan mengelompokkan pelanggan, membuat tiga contoh pesan WhatsApp untuk situasi berbeda, serta merancang rencana aksi tujuh hari untuk mulai menjalankan strategi tersebut.

Sebagai dukungan lanjutan, peserta juga memperoleh informasi mengenai penawaran berlangganan Mekari Qontak secara gratis hingga enam bulan, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Layanan ini diperkenalkan sebagai salah satu sarana untuk mengenal pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan hubungan pelanggan.

Melalui program ini, Polytron berharap pelaku usaha tidak hanya meningkatkan kualitas produk dan layanan, tetapi juga membangun hubungan pelanggan yang lebih kuat. Dengan pengelolaan data yang tepat, komunikasi yang relevan, serta pemanfaatan teknologi digital, peluang pembelian berulang diharapkan meningkat untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang lebih efektif dan berkelanjutan.