BERITA TERKINI
Peta Kuliner Digital Da Nang Didorong untuk Perkuat Promosi Wisata dan UMKM

Peta Kuliner Digital Da Nang Didorong untuk Perkuat Promosi Wisata dan UMKM

Upaya menempatkan kuliner Da Nang ke dalam peta digital terus didorong sebagai bagian dari strategi memperkuat pariwisata sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku usaha makanan dan minuman. Melalui peta makanan digital yang terintegrasi dalam aplikasi seluler, wisatawan dapat menemukan berbagai titik kuliner unggulan hanya melalui beberapa ketukan di ponsel.

Salah satu inisiatif yang diperkenalkan adalah peta makanan digital yang menampilkan lokasi lebih dari 200 gerai unggulan dalam program Da Nang Food Tour 2026. Peta ini disebut telah terhubung luas dengan jaringan bisnis makanan dan minuman di seluruh kota, sehingga pengunjung dapat mengakses ekosistem kuliner Da Nang dengan lebih mudah.

Pengalaman tersebut dirasakan Nguyen Thi Minh Huyen, wisatawan asal Hanoi yang baru pertama kali mengunjungi Da Nang. Setelah mencicipi sejumlah makanan khas seperti lumpia babi, sate babi bakar, dan mi Quang, ia menilai cita rasa kuliner setempat unik dan memikat. Menurutnya, keberadaan hidangan-hidangan tersebut di platform GrabFood membantu wisatawan menemukan dan menikmatinya, sekaligus menjadi cara baru menghubungkan kuliner dengan perjalanan.

Di sisi pelaku usaha, model “Transformasi Digital Pasar Con” juga resmi diluncurkan. Dalam program ini, Grab bekerja sama dengan Dewan Pengelola Pasar Con untuk mendampingi pedagang membuka gerai di GrabFood dan GrabMart, mengelola pesanan, menerapkan pembayaran nontunai, serta berpartisipasi dalam program promosi daring.

Program tersebut tidak hanya menekankan aktivitas penjualan, tetapi juga pembekalan keterampilan digital bagi pemilik usaha. Materi pendampingan mencakup penyusunan informasi produk, penentuan harga jual, hingga pemilihan jumlah kemasan yang tepat.

Huynh Thi Xuan Mai, pedagang makanan di Pasar Con, menyampaikan bahwa ketika makanan khas Da Nang dibawa ke ruang digital di luar pasar tradisional, lebih banyak wisatawan berpeluang mengenalnya. Ia menyebut pelanggan juga dapat memesan beberapa hidangan dalam satu pesanan, sementara kode diskon dan fitur periklanan di aplikasi dinilai membantu mendekatkan kuliner Da Nang kepada wisatawan.

CEO Grab Vietnam, Ma Tuan Trong, mengatakan program ini ditujukan untuk membantu pedagang kecil dan rumah tangga usaha agar cepat mengakses teknologi dan memperluas saluran penjualan. Menurutnya, melalui perluasan akses tersebut, produk dan kuliner khas Da Nang memiliki lebih banyak peluang menjangkau warga lokal maupun wisatawan, sekaligus mendukung promosi destinasi dan perekonomian setempat.

Untuk mendorong belanja, sejumlah program promosi bagi produk OCOP dan makanan khas lokal direncanakan berjalan di platform Grab. Setelah fase awal, Pemerintah Kota Da Nang dan Grab akan mengevaluasi efektivitas bisnis, volume penjualan, serta umpan balik konsumen untuk menyempurnakan model, dengan target perluasan ke kawasan lain yang memiliki konsentrasi usaha tinggi.

Di sektor pariwisata, Pusat Promosi Pariwisata Da Nang melaporkan bahwa kota ini tengah menerapkan ekosistem pariwisata digital multi-platform untuk promosi, penyediaan informasi, panduan, dan dukungan bagi wisatawan. Salah satu bentuknya adalah Peta Kuliner Digital Pariwisata Da Nang yang dikembangkan melalui kolaborasi industri pariwisata kota dengan ShopeeFood, guna membantu wisatawan mencari, menjelajahi, dan mengakses pengalaman kuliner lokal secara digital.

Penggabungan teknologi dengan masakan tradisional dinilai mencerminkan adaptasi terhadap tren konsumsi baru, sekaligus mendukung penyebaran nilai kuliner Quang Nam dan tujuan membangun Da Nang sebagai destinasi cerdas yang kaya budaya. Ke depan, Da Nang juga berencana bekerja sama dengan Foody Joint Stock Company (ShopeeFood) untuk mendorong transformasi digital, meningkatkan daya saing bisnis, dan mempromosikan wisata kuliner.

Wakil Ketua Komite Rakyat Kota Da Nang, Nguyen Thi Anh Thi, menekankan bahwa promosi kuliner di platform digital perlu dikaitkan dengan promosi merek destinasi dan pelestarian budaya lokal. Ia menyebut Departemen Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata ditugaskan meneliti serta mengembangkan kriteria pemilihan tempat makan teladan, sekaligus mengevaluasi informasi, kisah merek, dan konten promosi terkait budaya dan warisan sebelum diunggah ke peta dan aplikasi.

Selain itu, peta kuliner digital juga diarahkan untuk terhubung dengan aplikasi pariwisata cerdas kota, program stimulus, serta rangkaian acara dan festival. Koordinasi juga ditujukan untuk mengangkat Festival Wisata Kuliner Da Nang ke tingkat internasional.

Salah satu keunggulan peta digital ini adalah aspek transparansi. Data terperinci mengenai asal dan sumber produk pertanian serta spesialisasi regional disinkronkan melalui sistem kode QR, yang diharapkan meningkatkan rasa aman wisatawan sekaligus memperkuat reputasi pelaku usaha.

Wakil Direktur Dinas Perindustrian dan Perdagangan Da Nang, Do Thi Quynh Tram, menyatakan bahwa dalam waktu dekat instansinya akan memimpin dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memilih 10 pasar tradisional khas guna menerapkan model “Pasar Kuliner Da Nang”. Fokusnya mencakup digitalisasi kios, penerapan pembayaran nontunai, dan pengendalian keamanan pangan. Dinas juga berencana menghubungkan produk OCOP dan makanan khas lokal ke rantai pasokan makanan di ShopeeFood, serta berkolaborasi meneliti dan mengembangkan “Kartu Kuliner Da Nang” untuk promosi kota kepada wisatawan.

Secara lebih luas, pariwisata Da Nang disebut tengah bertransformasi dari model penyediaan informasi tradisional menuju ekosistem pariwisata digital terintegrasi yang menargetkan pengalaman pengunjung lebih personal. Kombinasi nilai budaya dan teknologi digital diharapkan membentuk wajah baru pariwisata kota, dengan orientasi pada pengalaman yang aman, nyaman, modern, dan berkelanjutan, serta memperkuat posisi Da Nang dalam peta pariwisata dunia.