BERITA TERKINI
Perundungan di Media Sosial dan Pentingnya Membangun Percaya Diri Anak Perempuan

Perundungan di Media Sosial dan Pentingnya Membangun Percaya Diri Anak Perempuan

Media sosial belakangan diramaikan kabar perundungan yang dialami Meisya, anak perempuan komedian Kiwil. Gadis berusia 10 tahun itu disebut diejek warganet karena dinilai terlalu mirip dengan ayahnya.

Kabar tersebut pertama kali mencuat melalui unggahan Meggy Wulandari, ibu Meisya, di akun Instagramnya. Meggy menyebut anaknya menangis setelah mendapat komentar yang menyakitkan, termasuk karena dianggap tidak mirip dengan ibunya yang berkulit putih. Menurut Meggy, kata-kata kasar dari orang yang tidak dikenal telah melukai hati dan berdampak pada mental anaknya.

Perundungan terkait tampilan fisik atau body shaming dinilai rentan dialami anak perempuan, terutama saat mulai beranjak remaja. Jika sebelumnya pelaku kerap berasal dari lingkungan sekitar seperti teman sekolah, kini media sosial membuat perundungan bisa datang dari siapa saja.

Situasi tersebut menegaskan pentingnya menanamkan rasa percaya diri pada anak perempuan sejak dini agar lebih terlindungi dari dampak body shaming. Di sisi lain, budaya modern sering kali melekatkan citra perempuan pada standar tubuh dan penampilan yang tidak realistis.

Berikut sejumlah cara yang dapat dilakukan orangtua untuk membantu anak membangun kepercayaan diri terhadap dirinya, termasuk penampilannya.

1. Menjadi teladan dalam penerimaan tubuh
Orangtua, terutama ibu, disarankan menjadi role model dalam menerima tubuh. Caranya, menghindari obsesi berlebihan pada bentuk tubuh, pola diet, atau kebiasaan merendahkan penampilan sendiri. Psikolog klinis Catherine Steiner-Adair, EdD, juga menyarankan agar orangtua menghindari “moralitas kelisanan”, yakni memberi label baik-buruk pada makanan atau diri sendiri, misalnya menyebut makan pizza sebagai “pelanggaran” lalu menghukum diri dengan tidak makan malam.

2. Meningkatkan literasi media anak
Orangtua dapat mendampingi anak memahami konten media dan membahasnya bersama. Anak diajak menilai mana pesan yang baik dan buruk berdasarkan pengamatan, sekaligus mengembangkan sikap kritis terkait body acceptance serta kemampuan menyaring pesan media.

3. Mengajarkan anak tidak menjadi people pleaser
Anak perlu dibiasakan berani berpendapat dan tidak selalu mengikuti kemauan orang lain. Anea Bogue, MA, salah satu penulis buku anak, menekankan pentingnya bertanya kepada anak, “Apa yang kamu inginkan?”, memberi ruang untuk memilih, lalu menghormati pilihan tersebut.

4. Menghindari kebiasaan meminjam pakaian anak
Kebiasaan berbagi pakaian dan sepatu antara ibu dan anak perempuan yang mulai remaja dinilai bisa berdampak kurang baik karena anak tidak leluasa memilih gaya sendiri. Risiko ini dapat terasa lebih besar bila penampilan ibu dianggap lebih sesuai dengan standar kecantikan umum.

5. Tidak berfokus memuji penampilan
Orangtua disarankan membiasakan memuji anak atas prestasi, proses, dan kepribadian, bukan semata penampilan. Penekanan pada proses, kemampuan baru, serta keterampilan yang dikuasai dinilai lebih efektif membangun rasa percaya diri. Anak juga perlu belajar menoleransi kegagalan agar tumbuh ketahanan diri.

6. Mengajak anak mengembangkan keterampilan yang tidak bergantung pada penampilan
Anak dapat dilibatkan dalam kegiatan yang tidak menitikberatkan pada fisik, seperti musik, seni, olahraga, atau keterampilan IT. Aktivitas semacam ini membantu anak mengekspresikan diri melalui kreativitas dan kemampuan, bukan sekadar penampilan.

7. Memeriksa koleksi majalah di rumah
Bacaan di rumah dapat memengaruhi cara anak memandang tubuh dan penampilannya. Disebutkan, penelitian menunjukkan suasana hati dapat berubah setelah 15 menit melihat majalah mode, dari rasa ingin tahu menjadi kecenderungan membandingkan diri dan merendahkan diri sendiri. Karena itu, orangtua disarankan mengurangi koleksi majalah yang hanya menekankan penampilan fisik dan memperbanyak bacaan yang lebih bermanfaat.

8. Tidak membiasakan bergosip tentang perempuan lain
Orangtua perlu berhati-hati agar tidak terbiasa membicarakan perempuan lain, termasuk soal penampilan dan gaya hidup. Anak, termasuk anak laki-laki, juga perlu diajari untuk tidak menyepelekan atau menyinyiri soal makanan maupun penampilan orang lain, karena kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga dewasa.

9. Menegaskan kasih sayang tanpa syarat
Anak perempuan perlu tahu bahwa dirinya disayangi apa adanya. Apa pun warna kulit, jenis rambut, atau penampilannya, anak perlu diyakinkan bahwa dirinya berharga. Penerimaan anak terhadap penampilannya sangat dipengaruhi lingkungan terdekat, terutama orangtua, sehingga pandangan dan sikap orangtua berperan besar dalam membentuk rasa percaya diri anak.