Menjelang pernikahan, calon pengantin biasanya sibuk menyiapkan berbagai hal, mulai dari lokasi acara, busana, hingga rencana hidup setelah menikah. Di tengah rangkaian persiapan itu, perhatian pada kesiapan kesehatan kerap menjadi bagian yang tidak boleh terlewat, terutama bagi pasangan yang merencanakan kehidupan berkeluarga dan kehamilan.
Namun, kesehatan tidak selalu cukup dinilai dari angka-angka pemeriksaan seperti kadar hemoglobin (Hb), berat badan, atau Lingkar Lengan Atas (LiLA). Kesehatan yang utuh juga mencakup aspek yang tidak bisa diukur alat medis: rasa aman dalam kehidupan dan hubungan yang dijalani.
Stunting dan pentingnya persiapan sejak sebelum kehamilan
Stunting masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional tercatat 19,8%, menurun dari 21,5% pada 2023. Penurunan ini menunjukkan perkembangan positif, tetapi pencegahan tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Secara global, UNICEF, WHO, dan World Bank melalui Joint Child Malnutrition Estimates 2025 melaporkan sekitar 150,2 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting pada 2024, atau sekitar 23,2% balita di dunia. Data tersebut menegaskan bahwa pencegahan stunting membutuhkan perhatian sejak berbagai tahap kehidupan, termasuk sebelum kehamilan.
Bagi calon pengantin yang merencanakan kehamilan, masa prakonsepsi dapat menjadi kesempatan untuk mengenali kondisi tubuh dan membangun kebiasaan yang lebih baik. Salah satu fokusnya adalah status gizi. Dalam pemeriksaan kesehatan, kondisi gizi dapat dinilai melalui beberapa indikator sesuai kebutuhan. LiLA dapat digunakan sebagai bagian dari penilaian atau skrining pada kelompok tertentu, sementara pemeriksaan Hb membantu tenaga kesehatan mengenali kemungkinan masalah seperti anemia.
Meski demikian, hasil pemeriksaan tidak seharusnya menjadi dasar untuk memberi label seseorang sebagai “sehat” atau “tidak sehat”. Pemeriksaan bertujuan membantu mengenali kondisi lebih dini agar langkah yang tepat bisa diambil bersama tenaga kesehatan. Calon pengantin dapat memulai dari hal sederhana seperti memperhatikan pola makan yang beragam dan seimbang, memahami kondisi kesehatan, serta melakukan pemeriksaan sesuai kebutuhan.
Namun, pembicaraan tentang kesehatan tidak berhenti pada pertanyaan apakah tubuh sudah sehat. Ada pertanyaan lain yang juga penting: apakah seseorang merasa aman dalam hubungan yang dijalani.
Kesehatan juga mencakup rasa aman
Kesehatan sering dipahami melalui makanan bergizi, aktivitas fisik, dan pemeriksaan medis. Semua itu penting, tetapi kesehatan tidak hanya soal fisik. Seseorang juga membutuhkan rasa aman, terlebih saat mempersiapkan kehidupan bersama pasangan. Pernikahan dan keluarga idealnya menjadi ruang untuk saling mendukung, berkomunikasi, dan saling menghargai.
WHO menempatkan kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan oleh pasangan dan kekerasan seksual, sebagai persoalan kesehatan masyarakat sekaligus pelanggaran hak asasi manusia. Kekerasan dapat berdampak pada kesehatan fisik, mental, seksual, dan reproduksi. Karena itu, kesiapan calon pengantin tidak hanya berkaitan dengan kesiapan fisik, tetapi juga kualitas relasi yang ditandai komunikasi yang sehat, penghormatan terhadap keputusan pasangan, serta kesadaran atas batasan dan rasa aman.
Dalam konteks ini, pembahasan mengenai stunting dan kekerasan seksual tidak disederhanakan sebagai hubungan sebab-akibat langsung. Keduanya dipertemukan dalam gagasan yang lebih luas: kesehatan perlu dipersiapkan secara menyeluruh—mencakup gizi, kesehatan reproduksi, kesehatan mental, keselamatan, dan relasi yang bebas dari kekerasan.
Dari kesehatan fisik menuju kesadaran perlindungan
Persiapan menuju keluarga sehat tidak hanya berbicara tentang apa yang dikonsumsi atau hasil pemeriksaan. Ada aspek lain yang juga perlu dibangun, yakni saling menghargai dan perlindungan terhadap tubuh serta batasan pribadi. Data UNICEF 2024 menunjukkan lebih dari 370 juta perempuan dan anak perempuan yang hidup saat ini—sekitar 1 dari 8—diperkirakan pernah mengalami pemerkosaan atau kekerasan seksual sebelum usia 18 tahun. Angka tersebut menggambarkan bahwa kekerasan seksual merupakan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan tidak bisa dianggap jauh.
Dalam rangka memperkuat kesadaran tentang perlindungan tubuh dan hubungan yang sehat, Sanicatin dikaitkan dengan WIRA sebagai brand mitra yang mengangkat pentingnya ruang aman bagi remaja. Jika Sanicatin mengajak calon pengantin mempersiapkan kesehatan sebelum membangun keluarga, WIRA menekankan bahwa kesehatan juga membutuhkan rasa aman dan relasi yang saling menghargai.