Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka berencana menata kembali kawasan lapak pedagang di kompleks Lapangan Umum Betun dengan mengusung konsep budaya lokal. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai Pujasera itu akan berganti nama menjadi Labis Wehali dan dikembangkan sebagai sentra kuliner sekaligus hiburan masyarakat.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malaka, Aloysius Werang, mengatakan rencana perubahan nama dan penataan kawasan tersebut telah mendapat persetujuan Bupati Malaka bersama seluruh anggota DPRD Kabupaten Malaka.
“Pak Bupati dan semua anggota dewan setuju. Tahun depan akan kita tata lapak-lapak yang ada dengan konsep budaya Malaka dan kita libatkan bank-bank sebagai pihak ketiga,” kata Aloysius Werang saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (28/10/2026).
Menurut Aloysius, Pujasera yang dibangun pada masa pemerintahan bupati sebelumnya akan dikembangkan dengan identitas baru, yakni Labis Wehali. Nama tersebut dipilih untuk mengangkat nilai budaya Malaka sekaligus menjadi identitas kawasan kuliner yang memadukan makanan tradisional dan kuliner kekinian.
“Kalau saya lebih memilih konsep Labis Wehali, karena ada budayanya dan branding itu yang diangkat. Selain itu, kita jadikan sentra kuliner dan sentra hiburan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penataan tidak hanya menyasar lapak pedagang, tetapi juga penyediaan fasilitas pendukung untuk menunjang aktivitas ekonomi dan hiburan masyarakat. Aloysius menyebut jaringan listrik di sekitar kompleks Lapangan Umum Betun sebelumnya telah dipasang melalui beberapa meteran listrik untuk mendukung kegiatan hiburan, termasuk penyelenggaraan mini konser.
Terkait desain pembangunan, Aloysius menyampaikan Pemkab Malaka telah berkomunikasi dengan konsultan perencana. Saat ini, pemerintah daerah masih menunggu kedatangan konsultan untuk melanjutkan pengembangan desain dan persiapan pembangunan, termasuk penentuan titik nol pekerjaan.
“Yang akan kita bangun itu selain MCK, juga ada paving block, drainase dan lainnya. Kita akan berkolaborasi dengan Bank NTT. Anggaran sudah kita siapkan, tahun depan akan mulai bangun,” katanya.
Lebih lanjut, Aloysius mengatakan pemerintah daerah akan menyurati seluruh pedagang dan pemilik lapak di sekitar Lapangan Umum Betun untuk memberikan pemahaman terkait rencana penataan kawasan. Langkah ini dilakukan agar pedagang memahami proses pembangunan, termasuk kemungkinan pemindahan sementara lapak selama pekerjaan berlangsung.
Pemkab Malaka juga berencana menyiapkan fasilitas berjualan secara mobile bagi pedagang, baik yang menjual kuliner tradisional maupun makanan kekinian, agar aktivitas ekonomi tetap berjalan selama proses penataan. “Kita akan siapkan jualan mobile bagi lapak-lapak yang tradisional ataupun kekinian sehingga mereka juga mendapat pengawasan dari Pemda,” ujarnya.