BERITA TERKINI
Patung Macan Putih di Kediri Viral, Ini Asal Usul, Biaya Pembuatan, dan Rencana Perbaikan

Patung Macan Putih di Kediri Viral, Ini Asal Usul, Biaya Pembuatan, dan Rencana Perbaikan

Patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, menjadi perbincangan warganet dalam beberapa hari terakhir. Patung tersebut viral di media sosial karena tampilannya dinilai unik dan memunculkan beragam respons, mulai dari komentar serius hingga candaan. Ramainya perhatian di dunia maya juga mendorong sejumlah warga dari berbagai daerah datang langsung untuk melihat dan berfoto di lokasi.

Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menjelaskan patung itu bukan dibuat secara acak. Monumen tersebut merupakan hasil musyawarah desa yang melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemuda. Nama “Macan Putih” diambil dari legenda lokal yang hidup dalam tradisi lisan warga setempat, yang meyakini Macan Putih sebagai simbol penjaga atau danyang yang melindungi desa dari mara bahaya.

Pengerjaan patung dilakukan oleh seniman lokal bernama Suwari, yang telah berkecimpung dalam pembuatan patung sejak era 1980-an. Suwari menuturkan ia sempat mengalami mimpi terkait figur Macan Putih yang kemudian menjadi inspirasi batin sebelum memulai pengerjaan. Proses pembuatan patung disebut dikerjakan sendiri selama sekitar 19 hari.

Setelah foto dan video patung beredar di platform seperti TikTok dan Instagram, warganet ramai mengomentari wujudnya yang dianggap tidak menyerupai harimau pada umumnya. Sejumlah komentar menyebut patung itu mirip zebra atau kuda nil karena garis-garis dan proporsinya, sementara yang lain menyebutnya sebagai “macan gemoy” atau “macan versi lucu.” Terlepas dari kritik dan candaan, daya tarik patung justru meningkat dan memunculkan gelombang kunjungan dari warga Surabaya, Malang, dan kota-kota lain.

Dari sisi anggaran, Safi’i menegaskan biaya pembuatan patung tidak menggunakan dana desa maupun anggaran pemerintah. Ia menyebut pendanaan berasal dari dana pribadi sekitar Rp3,5 juta, dengan rincian biaya tukang sekitar Rp2 juta dan material sekitar Rp1,5 juta. Informasi tersebut turut memengaruhi respons publik, meski masukan terkait tampilan patung tetap bermunculan.

Pemerintah desa menyatakan terbuka terhadap kritik dan berencana melakukan penataan ulang serta perbaikan desain agar bentuk monumen lebih mendekati gambaran awal dan lebih menonjol secara estetis. Rencana tersebut disampaikan sebagai upaya merespons perhatian publik sekaligus memperbaiki kualitas visual patung.

Di luar kontroversi bentuknya, patung Macan Putih mulai memberi dampak sosial-ekonomi di tingkat lokal. Meningkatnya kunjungan warga yang ingin berfoto membuka peluang bagi pelaku usaha mikro di sekitar lokasi, seperti warung kopi, kuliner, dan layanan foto. Warga setempat mulai melihat potensi patung itu sebagai ikon desa yang dapat mendorong aktivitas ekonomi.

Jika ditata lebih matang, monumen ini dinilai berpeluang menjadi bagian dari wisata budaya dan sejarah desa, dengan menggabungkan cerita legenda, karya seniman lokal, dan daya tarik media sosial. Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana interaksi budaya lokal dan platform digital dapat menciptakan magnet kunjungan yang tidak terduga bagi wilayah di luar pusat kota besar.

Viralnya patung Macan Putih di Balongjeruk memperlihatkan bahwa seni publik tidak hanya dinilai dari bentuk, tetapi juga dari cerita dan konteks sosial yang menyertainya. Di saat yang sama, media sosial terbukti mampu mengangkat hal-hal unik menjadi perhatian luas. Ke depan, perbaikan desain dan penataan yang terencana diharapkan dapat mengubah perhatian warganet menjadi peluang yang lebih nyata bagi masyarakat setempat.