Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, tidak hanya dikenal dengan lanskap perbukitannya, tetapi juga menyimpan ragam kuliner tradisional. Salah satu hidangan yang masih dijaga keberadaannya adalah pangek pisang, olahan pisang yang dimasak dalam kuah santan berbumbu kunyit.
Hidangan ini memadukan rasa manis dari buah pisang dengan gurihnya santan, serta aroma khas kunyit. Perpaduan tersebut menghasilkan sajian sederhana yang disebut menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Pangek pisang dinilai berbeda dari olahan pisang yang lebih umum, seperti digoreng, dikukus, atau diolah menjadi makanan manis lainnya. Dalam pangek pisang, buah pisang diolah dengan kuah santan berbumbu kunyit sehingga memunculkan kombinasi rasa manis, gurih, dan harum.
Di kalangan masyarakat Minangkabau, khususnya di pedalaman Solok Selatan, pangek pisang juga dipandang memiliki nilai tradisi. Resepnya diwariskan secara turun-temurun dan tetap menjadi bagian dari kekayaan kuliner daerah.
Seorang warga Nagari Lubuk Gadang menggambarkan pangek pisang bukan sekadar makanan sehari-hari. “Pangek Pisang ini bukan sekadar makanan biasa. Bagi masyarakat kami, ini adalah simbol kelembutan dalam kesederhanaan. Rasa yang dihasilkan pun begitu menyatu. Seperti kisah hidup yang hangat dan penuh makna,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang ingin mencoba membuatnya di rumah, pangek pisang disebut dapat dibuat dengan bahan-bahan sederhana. Kunci rasa terletak pada pemilihan jenis pisang yang tepat, perpaduan santan dan kunyit, serta penggunaan daun pandan untuk menghadirkan aroma harum alami.