Petani cabai rawit Ebra Farm di Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, menyalurkan hasil panen ke sejumlah tujuan, mulai dari distributor Mie Gacoan hingga pasar lokal di wilayah Banyumas dan Purbalingga.
Pengelola lahan Ebra Farm, Sutopo, menjelaskan pemetikan cabai dilakukan dua kali dalam sepekan. Lahan seluas sekitar 8.000 meter persegi itu ditanami kurang lebih 14.000–15.000 tanaman cabai rawit varietas ori.
Menurut Sutopo, hasil panen dipasarkan melalui beberapa jalur, yakni distributor Mie Gacoan, pasar Segamas Purbalingga, serta wilayah Ajibarang. Dalam satu kali petik, hasil panen dapat mencapai sekitar 300 kilogram dan dibagi ke beberapa tujuan pemasaran.
“Di Gacoan kita pasarkan separuhnya, nanti sisanya kita pasarkan ke pasar lokal,” kata Sutopo.
Ia menuturkan, cabai yang didistribusikan ke Gacoan harus memenuhi standar kualitas tertentu. Cabai yang dikirim, kata dia, harus masuk Grade A, berbobot, bersih, dan bebas penyakit.
“Kalau untuk distributor Gacoan yang jelas kualitas baik, yakni di Grade A yang berbobot, bersih, tanpa ada penyakit kena ulet. Kalau ada yang sampai kena virus antraknos kita buang, kita sortir,” ujarnya.
Selain soal kualitas, Sutopo menyebut petani juga menghadapi kendala perbedaan harga. Ia mengatakan, harga yang diketahui melalui media sosial kerap berbeda dengan harga yang ditawarkan saat penjualan kepada tengkulak, sehingga petani perlu menyesuaikan pemasaran dengan harga yang berlaku pada saat transaksi.
Ia menambahkan, penjualan secara ecer atau langsung kepada konsumen berpotensi memberi keuntungan lebih besar. Namun, cara tersebut dinilai kurang praktis untuk menangani panen dalam jumlah besar. Karena itu, pemasaran melalui tengkulak masih menjadi salah satu pilihan petani dalam mendistribusikan hasil panen.