JAKARTA — Di tengah maraknya kuliner asing, makanan tradisional Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan untuk merebut perhatian anak muda. Pendiri sekaligus Ketua Indonesia Gastronomy Network, Vita Datau, menilai cara memperkenalkan cerita kuliner perlu dibarengi strategi yang lebih menyeluruh.
Hal itu disampaikan Vita dalam konferensi pers Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Culinary Festival 2026 di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2026). Menurutnya, upaya mengenalkan kuliner tidak cukup berhenti pada storytelling, yakni menyampaikan kisah di balik makanan, termasuk sejarah dan budaya yang menyertainya.
Vita menjelaskan, sejumlah negara menerapkan pendekatan yang lebih terintegrasi melalui konsep storynomics. Konsep ini memadukan cerita, ekonomi kreatif, dan budaya lokal untuk membangun pengalaman yang lebih berkesan. Ia mencontohkan Korea Selatan yang memanfaatkan film sebagai bagian dari rangkaian ekonomi kreatif untuk memperkenalkan makanan dan destinasi.
Selain pendekatan promosi, Vita juga menyoroti besarnya anggaran pemasaran yang dikeluarkan negara lain untuk memperkenalkan produk kuliner mereka. Menurutnya, biaya pemasaran yang besar membuat promosi kuliner dari negara pesaing berjalan lebih masif.
Di luar strategi pemasaran, Vita menilai keluarga memiliki peran penting dalam membangun kedekatan anak dengan makanan tradisional. Ia mengatakan gerakan mencintai kuliner bangsa dapat dimulai dari rumah, melalui kebiasaan orangtua memperkenalkan makanan Indonesia sejak dini.
Vita juga memaparkan beberapa langkah agar makanan tradisional tetap lestari sekaligus diminati generasi muda. Pertama, mengenalkan makanan khas Indonesia kepada anak-anak sejak kecil melalui lingkungan keluarga.
Kedua, ia menilai pemerintah daerah perlu berperan menjaga kelestarian kuliner tradisional lewat program-program yang berkelanjutan. Vita menyinggung pencatatan kuliner sebagai warisan budaya tak benda di bawah Kementerian Kebudayaan, yang menurutnya jumlahnya sekitar 207, sehingga pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk melestarikannya melalui berbagai cara, termasuk program di sekolah.
Ketiga, Vita mendorong adanya ruang bagi anak muda untuk berinovasi dengan makanan tradisional, tanpa menghilangkan pengetahuan tentang asal-usulnya. Ia menilai variasi penyajian dapat dilakukan selama pelaku inovasi tetap memahami dari mana makanan tersebut berasal.
Vita menambahkan, media sosial seperti TikTok dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan makanan tradisional dengan cara yang relevan bagi anak muda saat ini. Menurutnya, kreativitas perlu disatukan agar generasi muda tertarik dan semakin mengenal kuliner Indonesia.
Gastronomi sendiri merupakan bidang yang berkaitan dengan makanan, termasuk cara pengolahan, kebiasaan makan, serta sejarah dan budaya masyarakat setempat.