BERITA TERKINI
Oleh-Oleh Tradisional Kian Diminati, UMKM Kuliner Lokal Manfaatkan Digitalisasi

Oleh-Oleh Tradisional Kian Diminati, UMKM Kuliner Lokal Manfaatkan Digitalisasi

JAKARTA – Tren kuliner di Indonesia tidak lagi semata didominasi makanan kekinian. Dalam beberapa tahun terakhir, produk pangan khas daerah dan oleh-oleh tradisional justru semakin diminati karena menawarkan cita rasa autentik sekaligus membawa cerita tentang budaya lokal.

Perkembangan platform digital turut memperluas akses masyarakat terhadap makanan khas dari berbagai daerah tanpa harus datang langsung ke lokasi asalnya. Perubahan perilaku konsumen ini membuka peluang baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kuliner.

Sejumlah pelaku usaha mulai menyesuaikan strategi bisnis dengan mengemas produk tradisional dalam tampilan lebih modern, memperluas pemasaran melalui platform digital, hingga memanfaatkan pembayaran non-tunai agar pengalaman belanja lebih praktis.

Salah satu UMKM yang memanfaatkan peluang tersebut adalah Mama Khas Banjar, usaha oleh-oleh khas Kalimantan yang dirintis Firli Norachim bersama istrinya, Ani Andriani, di Banjarmasin pada 2020. Usaha yang lahir di tengah pandemi COVID-19 itu bermula dari skala rumahan dengan tujuan memperkenalkan ragam kuliner khas Kalimantan Selatan ke pasar yang lebih luas.

Mengusung konsep pusat oleh-oleh modern, Mama Khas Banjar menghadirkan beragam produk khas daerah, mulai dari ikan asin, abon ikan, amplang, sambal, sirup lokal, dodol, hingga aneka makanan beku. Bahan baku utama produk-produk tersebut memanfaatkan hasil laut dari nelayan pesisir Kotabaru dan Pelaihari.

Firli menuturkan, fase awal membangun usaha tidak berjalan mulus. Ia menggunakan tabungan pribadi sebagai modal awal, sementara pengelolaan bisnis dilakukan di luar jam kerja karena ia dan istrinya masih berstatus karyawan. “Dulu, modal, tenaga, dan waktu kami sangat terbatas. Namun, keterbatasan itu bukan alasan untuk berhenti,” kenang Firli.

Seiring meningkatnya permintaan, kapasitas produksi yang semula sekitar 20 kilogram ikan asin per bulan berkembang menjadi 1–2 ton per bulan. Pertumbuhan ini juga mendorong pengembangan variasi produk, termasuk abon ikan yang kini diproduksi dalam jumlah lebih besar dibandingkan saat pertama kali diluncurkan.

Perkembangan usaha tercermin dari bertambahnya kapasitas operasional. Dari yang semula dijalankan di rumah kontrakan, kini Mama Khas Banjar telah memiliki dua outlet dan mempekerjakan belasan karyawan.

Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan. Pada awal pandemi, pemasaran dilakukan melalui marketplace ketika aktivitas masyarakat dibatasi. Seiring perkembangan bisnis, Mama Khas Banjar bergabung sebagai merchant GrabMart pada 2023 agar konsumen dapat memesan produk dengan lebih mudah.

“Sebagai pelaku UMKM, kita harus berani berinovasi. Kami masuk ke GrabMart, menambah katalog, dan mengikuti promo. Ternyata pelanggan suka karena bisa memesan lewat aplikasi dan barang langsung diantar,” ujar Firli.

Digitalisasi juga diterapkan pada sistem pembayaran. Pembayaran berbasis QRIS dinilai membantu transaksi lebih praktis karena notifikasi pembayaran diterima secara langsung, sehingga mempermudah pencatatan dan operasional harian.

Di sisi lain, kebutuhan modal meningkat seiring bertambahnya skala usaha. Firli memanfaatkan fasilitas pendanaan digital GrabModal Mantul by OVO Finansial untuk mendukung pengembangan bisnis, termasuk menambah stok produk dan mengembangkan inovasi baru seperti ikan asin dalam kemasan oleh-oleh.

“Dengan adanya tambahan modal, kami bisa membeli lebih banyak barang untuk dijual kembali. Kalau stok tersedia, penjualan bisa meningkat dan pada akhirnya usaha juga bisa terus berkembang. Ditambah lagi, skema pemotongan harian sangat membantu. Kami tidak perlu memikirkan cicilan bulanan atau tanggal jatuh tempo secara manual. Kami cukup fokus menjaga penjualan harian,” kata Firli.

Selain akses pendanaan, Mama Khas Banjar juga mengikuti program pendampingan digitalisasi UMKM yang memberikan pelatihan mengenai strategi bisnis hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal untuk meningkatkan daya saing di tengah perubahan perilaku konsumen.

Tren meningkatnya minat terhadap kuliner lokal menunjukkan makanan tradisional memiliki peluang besar untuk berkembang, terutama jika diiringi inovasi dan pemanfaatan teknologi.