BERITA TERKINI
NTT Dampingi Pelaku Ekraf Sumba Timur Kembangkan Tenun dan Pangan Lokal agar Bernilai Ekonomi

NTT Dampingi Pelaku Ekraf Sumba Timur Kembangkan Tenun dan Pangan Lokal agar Bernilai Ekonomi

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Sumba Timur agar tidak berhenti pada pelestarian budaya semata, tetapi mampu mengubahnya menjadi kekuatan ekonomi. Upaya itu dilakukan melalui Pelatihan, Bimbingan Teknis, dan Pendampingan Ekonomi Kreatif yang digelar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT pada 27–29 Oktober 2026 di Kampung Raja Prailiu, Waingapu.

Kegiatan ini melibatkan 40 pelaku ekonomi kreatif yang terbagi dalam empat kelompok usaha, yakni Fashion Anakawini Collection, Fashion Ndula Luri, Kuliner Bukit Wairinding, dan Kuliner Uma Witu. Para peserta membawa potensi yang sudah hidup di masyarakat, mulai dari tenun ikat dan perca tenun, hingga pangan lokal seperti Manggulu dan Kaparak, beserta pengetahuan turun-temurun yang menyertainya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta didorong untuk tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga memahami cara memasarkan produk. Arah yang ditekankan adalah menjadikan produk lokal tidak sekadar dikenal, melainkan memiliki pasar, sekaligus membuka peluang pendapatan dan lapangan kerja.

Program ini disebut sejalan dengan arah pembangunan Gubernur Melki Laka Lena, khususnya Dasa Cita “Milenial dan Perempuan Motor Kreatif Lokal” serta “Wisata NTT, Penggerak Ekonomi Lokal.”

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Doris Alexander Rihi, menegaskan pengembangan ekonomi kreatif perlu dimulai dari potensi lokal yang benar-benar dimiliki masyarakat. Menurutnya, penguatan tidak dilakukan dengan menyeragamkan produk, melainkan menggali kekhasan tiap daerah dan memberi sentuhan inovasi.

Kegiatan dibuka oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Sumba Timur, Yulius Ngenju. Ia mengingatkan bahwa potensi besar tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan tanpa keterampilan, standar kualitas, dan akses pasar. “Potensi harus bertemu keterampilan. Kreativitas harus bertemu pasar. Produk lokal harus bertemu standar kualitas,” ujarnya.

Salah satu terobosan yang didorong dalam pendampingan ini adalah memandang perca tenun bukan sebagai sisa produksi, melainkan bahan bernilai untuk produk fesyen dan cendera mata. Sementara itu, pangan lokal Manggulu dan Kaparak diarahkan untuk dikembangkan dari sisi pengolahan, higienitas, kemasan, hingga pemasaran, dengan tetap mempertahankan identitasnya agar dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.

Selain praktik produksi, peserta juga menyusun prototipe serta rancangan usaha sederhana yang dapat dikembangkan setelah kegiatan berakhir. Materi pelatihan mencakup aspek produksi hingga legalitas dan akses pembiayaan, di antaranya keamanan pangan oleh BPOM Sumba Timur, Hak Kekayaan Intelektual oleh Kemenkumham NTT, akses pembiayaan usaha oleh Bank NTT, serta NIB dan perizinan melalui DPMPTSP Provinsi NTT. Kegiatan juga melibatkan praktisi dan instruktur berpengalaman untuk penguatan kreativitas dan produksi.

Menurut penyelenggara, tujuan pendampingan adalah memastikan pelaku usaha tidak hanya bisa membuat produk, tetapi juga mampu mengemas, memberi merek, melindungi karya, mengurus izin, mengakses modal, dan menjualnya.

Perhatian khusus diberikan kepada perempuan, mengingat banyak proses produksi tenun dan pangan lokal selama ini ditopang oleh kerja perempuan di tingkat rumah tangga. Pemberdayaan perempuan dinilai berdampak langsung pada penguatan ekonomi keluarga, sejalan dengan semangat “Perempuan Motor Kreatif Lokal.”

Yulius Ngenju menekankan keberhasilan program tidak diukur dari kehadiran selama tiga hari, melainkan dari tindak lanjut setelahnya, seperti konsistensi produksi, peningkatan kualitas, bertambahnya omzet, dan kemandirian usaha. Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi digital dan media sosial sebagai etalase baru agar produk lokal tidak hanya menunggu pembeli datang ke Sumba Timur.

Melalui kegiatan di Kampung Raja Prailiu, pesan yang ingin ditegaskan adalah pembangunan daerah dapat bertumpu pada kekuatan yang sudah dimiliki masyarakat. Warisan budaya, mulai dari tenun hingga pangan lokal, didorong untuk menjadi sumber kesejahteraan melalui peningkatan kualitas, identitas, legalitas, serta perluasan pasar.