Pangkalpinang — SMP Santa Theresia Pangkalpinang menggelar kegiatan kokurikuler bertema besar kearifan lokal untuk mengajak murid mengenal, menghargai, dan melestarikan kekayaan budaya daerah. Secara khusus, murid kelas IX mengangkat topik “Merawat Warisan Rasa, Melestarikan Budaya Bangka Belitung” melalui proyek kuliner tradisional yang berlangsung pada 12–15 Oktober 2026.
Dalam kegiatan ini, murid diajak mengeksplorasi kuliner lokal sekaligus merancang proyek kelompok. Program tersebut dirancang untuk mengasah kreativitas, memperkuat kerja sama, serta mengembangkan keterampilan perencanaan sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya daerah.
Kegiatan diawali dengan pengenalan rangkaian program kokurikuler, lalu dilanjutkan eksplorasi kuliner tradisional melalui tayangan video. Murid diperkenalkan pada sejumlah makanan khas Bangka Belitung, seperti lempah kuning, lempah darat, mi ikan, martabak Bangka, dan jongkong. Salah satu tayangan yang menarik perhatian adalah pengenalan kue pelite, kue tradisional yang disebut sebagai salah satu kudapan kesukaan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.
Penayangan video tentang kue pelite menambah wawasan murid karena masih ada yang belum mengenal kue tradisional tersebut. Dari sesi ini, murid mendapatkan pengetahuan bahwa kuliner daerah juga menyimpan cerita dan nilai sejarah yang dapat dipelajari, sekaligus menjadi pengingat bahwa masih banyak warisan kuliner lokal yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.
Dalam proses pengenalan, guru juga mengajak murid memahami makna “tradisional” dan kaitannya dengan kuliner daerah. “Kalau kita kaitkan dengan kata tradisional, artinya sesuatu yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, baik dari segi resep, cara pengolahan, maupun nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Jadi, kuliner tradisional bukan sekadar makanan yang kita makan, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan budaya yang perlu kita kenal, jaga, dan lestarikan,” ujar Feby, salah satu fasilitator kegiatan.
Setelah menyimak tayangan, murid berdiskusi untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai kuliner tradisional. Mereka diajak memahami keunikan makanan khas daerah serta pentingnya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Kegiatan kemudian berlanjut ke perencanaan proyek kuliner secara berkelompok. Setiap kelompok mendiskusikan dan menentukan satu jenis makanan serta satu jenis minuman yang akan dijadikan proyek. Pemilihan dilakukan dengan mempertimbangkan kriteria seperti identitasnya sebagai kuliner lokal, kemudahan memperoleh bahan, keamanan dalam proses pembuatan, serta kesesuaian dengan fasilitas yang tersedia.
Setelah menentukan pilihan, murid menyusun rancangan proyek melalui pembagian peran dan tugas. Mereka diarahkan mengumpulkan informasi mengenai asal-usul kuliner, bahan yang digunakan, cara pembuatan, keunikan, serta resep. Informasi tersebut akan dikembangkan menjadi infografis, sementara dummy food disiapkan sebagai representasi visual dari kuliner yang dipilih.
Selain menargetkan hasil karya, kegiatan ini juga menekankan pentingnya perencanaan yang matang. Murid mengidentifikasi kebutuhan alat dan bahan serta memperkirakan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan praktik memasak. Setiap anggota kelompok diharapkan memiliki tanggung jawab dan berkontribusi dalam penyelesaian proyek.
Pada tahap akhir, setiap kelompok mempresentasikan rancangan kuliner yang telah disusun di depan kelas. Presentasi ini menjadi sarana untuk menilai kesiapan rencana sekaligus memperoleh masukan sebelum memasuki tahap praktik memasak. Kegiatan ditutup dengan refleksi agar murid dapat mengevaluasi proses belajar dan mempersiapkan diri untuk kegiatan berikutnya.
Melalui proyek ini, murid kelas IX SMP Santa Theresia Pangkalpinang tidak hanya memperluas pengetahuan tentang kuliner tradisional Bangka Belitung, tetapi juga mengembangkan keterampilan bekerja sama, berpikir kreatif, berkomunikasi, dan bertanggung jawab. Kegiatan tersebut menjadi salah satu penerapan tema kearifan lokal dalam program kokurikuler sekolah.