BERITA TERKINI
Minyak Goreng Bekas Menggoreng Ikan Bisa Dijernihkan, Margarin Jadi Alternatif Selain Terigu

Minyak Goreng Bekas Menggoreng Ikan Bisa Dijernihkan, Margarin Jadi Alternatif Selain Terigu

Menggoreng masih menjadi salah satu cara paling umum mengolah ikan di dapur rumahan. Prosesnya dinilai praktis, mulai dari membersihkan ikan, merendamnya sebentar dengan perasan jeruk nipis dan garam untuk mengurangi bau amis, lalu menggoreng hingga kecokelatan. Namun, setelah ikan diangkat, masalah yang kerap muncul adalah minyak goreng yang tersisa berubah lebih gelap dan beraroma amis, sehingga sering dianggap tidak layak dipakai lagi meski baru sekali digunakan.

Padahal, minyak goreng bekas menggoreng ikan disebut masih bisa diselamatkan. Selama belum berbau tengik dan tidak rusak parah, kejernihan minyak dapat ditingkatkan kembali sekaligus membantu mengurangi aroma amis melalui proses penjernihan.

Salah satu metode yang lebih dulu dikenal adalah menggunakan larutan tepung terigu. Dalam cara ini, larutan terigu dituangkan ke minyak panas sehingga kotoran dan partikel sisa penggorengan menempel, lalu minyak disaring agar kembali lebih bersih. Pati pada terigu disebut berperan sebagai agen adsorpsi yang menyerap kotoran tersuspensi di dalam minyak.

Selain terigu, ada alternatif lain yang dibagikan warganet bernama Risma melalui akun TikTok @justmerisma, yakni menggunakan margarin. Dalam unggahannya, ia memperlihatkan minyak bekas menggoreng ikan yang tampak hitam pekat dan berbau amis, lalu mencoba menjernihkannya dengan bahan yang umumnya tersedia di dapur.

Langkah yang ditunjukkan dimulai dengan memanaskan wajan menggunakan api kecil hingga sedang, lalu memasukkan sejumlah margarin dan membiarkannya meleleh. Setelah margarin mencair, minyak bekas dituangkan ke wajan dan diaduk perlahan agar tercampur merata. Proses pemanasan dilakukan sebentar sambil tetap diaduk. Ketika minyak terlihat lebih jernih, api dimatikan, minyak didinginkan, kemudian disaring menggunakan kain bersih atau saringan halus sebelum disimpan.

Dalam penjelasan yang disertakan, margarin disebut dapat membantu proses penjernihan karena mengandung komponen lemak padat serta pengemulsi seperti lesitin. Pengemulsi ini dinilai mampu mengikat partikel kotoran yang tersuspensi di minyak—termasuk sisa bumbu, protein ikan, dan partikel gosong—sehingga lebih mudah dipisahkan saat minyak didinginkan dan disaring.

Meski demikian, penggunaan kembali minyak goreng tetap perlu dibatasi. Minyak yang sudah sangat gelap dan berbau tengik sebelum diproses disebut tidak dapat dipulihkan hanya dengan penjernihan fisik. Selain itu, pemakaian ulang disarankan maksimal 2–3 kali untuk menjaga kualitas makanan dan mengurangi risiko senyawa hasil oksidasi akibat pemanasan berulang.

Penyimpanan juga menjadi faktor penting. Minyak sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup dan dijauhkan dari paparan cahaya langsung untuk memperlambat oksidasi. Setelah dijernihkan, minyak dinilai lebih cocok dipakai kembali untuk menggoreng makanan sejenis, misalnya ikan lagi, karena sisa aroma bisa tetap terdeteksi dan kurang ideal untuk makanan yang membutuhkan minyak netral.

Jika minyak sudah tidak layak pakai, pembuangannya juga perlu diperhatikan. Minyak jelantah tidak dianjurkan dibuang ke saluran air atau tanah karena berpotensi mencemari lingkungan. Cara yang disarankan adalah menampungnya dalam wadah tertutup, seperti botol plastik bekas, lalu menyerahkannya ke tempat pengumpulan minyak jelantah yang tersedia di sejumlah pasar, supermarket, atau program daur ulang di beberapa daerah.