Polemik seputar menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat setelah sejumlah daerah memasukkan bahan pangan yang dinilai tidak lazim untuk anak sekolah, seperti buah kecapi dan daging ikan hiu. Kemunculan menu tersebut memicu kritik dari orang tua, ahli gizi, dan publik karena dikhawatirkan tidak sesuai dari sisi keamanan konsumsi maupun standar gizi seimbang yang menjadi dasar program.
Perbincangan terbaru muncul dari wilayah Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, setelah buah kecapi masuk dalam paket makan gratis. Sejumlah orang tua dan warganet menilai buah tersebut kurang ideal untuk anak usia dini hingga sekolah dasar karena dinilai sulit dikonsumsi secara mandiri.
Buah kecapi (Sandoricum koetjape) disebut memiliki kandungan nutrisi seperti vitamin C, serat, dan beberapa mineral. Namun, dalam konteks konsumsi anak sekolah, buah ini dipersoalkan karena kulitnya keras dan daging buahnya melekat pada biji besar, sehingga dikhawatirkan menyulitkan anak saat makan dan berpotensi tidak aman. Selain itu, rasa asam yang khas juga dinilai berisiko membuat anak enggan menghabiskan porsi buah.
Selain buah kecapi, menu ikan hiu goreng di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, sempat menjadi sorotan setelah dikaitkan dengan kasus keracunan massal di sekolah. Puluhan siswa dan satu guru dilaporkan mengalami gejala seperti mual dan muntah setelah menyantap ikan hiu sebagai bagian dari paket MBG.
Kepala Regional MBG Kalimantan Barat menyatakan ikan hiu tersebut merupakan produk lokal yang dipilih oleh tim gizi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia juga mengaku marah kepada ahli gizi yang merekomendasikan jenis ikan tersebut karena dinilai tidak lazim untuk menu anak sekolah.
Sejumlah ahli gizi mengingatkan bahwa daging hiu berpotensi mengandung logam berat seperti merkuri dan zat berbahaya lain. Risiko ini dikaitkan dengan posisi hiu sebagai predator puncak di laut yang dapat mengalami biomagnifikasi, yakni akumulasi toksin dari rantai makanan. Paparan merkuri dalam jumlah tinggi dikhawatirkan berdampak pada kesehatan, terutama pada anak-anak yang lebih rentan, termasuk risiko gangguan neurologis.
Di sisi lain, Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan bahwa pemilihan daging hiu di beberapa wilayah dimaksudkan sebagai pemanfaatan pangan setempat dan kearifan lokal, terutama di daerah pesisir yang terbiasa mengonsumsi hasil laut. Namun setelah insiden keracunan, BGN menyatakan akan menghapus ikan hiu dari daftar menu karena potensi dampaknya terhadap kesehatan.
Penggunaan bahan seperti buah kecapi dan ikan hiu disebut tidak terjadi secara nasional, melainkan muncul di daerah tertentu yang menyesuaikan menu dengan ketersediaan bahan lokal dan kebiasaan konsumsi masyarakat. Buah kecapi dilaporkan muncul dalam menu MBG di Gunung Sindur, sementara ikan hiu goreng digunakan di Ketapang.
Penyelenggara MBG di daerah pada prinsipnya diberi ruang untuk menyesuaikan menu dengan bahan lokal agar program lebih terjangkau dan relevan. Namun penyesuaian tersebut tetap harus mengikuti standar keamanan pangan dan prinsip gizi seimbang.
Program MBG dirancang untuk membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi anak sekolah dan kelompok rentan. Dalam pedoman gizi nasional, konsep gizi seimbang menekankan konsumsi makanan beragam yang mencakup karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayur, buah, vitamin, mineral, serta cukup air putih. Protein, vitamin, mineral, dan serat juga perlu hadir secara proporsional dalam setiap porsi, menyesuaikan kebutuhan angka kecukupan gizi (AKG) anak.
Secara umum, komponen menu MBG bagi anak SD hingga SMP/SMA mencakup makanan pokok, lauk pauk sebagai sumber protein, sayur, dan buah dalam porsi sekali makan yang disesuaikan dengan kebutuhan kalori harian. Pakar gizi menekankan bahwa pemenuhan AKG berbeda menurut usia, sehingga penyusunan menu perlu mempertimbangkan kebutuhan kelompok sasaran agar benar-benar mendukung pertumbuhan dan perkembangan.
Dalam penyusunan menu berbasis pangan lokal, sejumlah hal dinilai krusial. Pertama, keamanan makanan: bahan yang disajikan harus aman bagi anak sekolah, termasuk meminimalkan risiko toksin maupun potensi tersedak. Kedua, kesesuaian gizi seimbang: menu perlu memenuhi unsur karbohidrat, protein, sayur, buah, serta mikronutrien sesuai pedoman. Ketiga, kemasan dan cara penyajian: makanan harus higienis, praktis dikonsumsi anak, dan tidak menimbulkan keluhan kesehatan setelah dimakan.
Kasus buah kecapi dan daging hiu dalam menu MBG membuka kembali perdebatan tentang batas penyesuaian menu berbasis kearifan lokal, terutama ketika menyangkut keamanan pangan dan standar gizi untuk anak. Pemanfaatan bahan lokal dinilai dapat dilakukan, namun tetap harus berpijak pada pedoman gizi seimbang dan standar keamanan yang ketat agar tujuan program tercapai.

