Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut menjadi salah satu agenda terbesar pemerintah, dengan alokasi anggaran Rp71 triliun dalam APBN 2026 dan target penerima 82,9 juta orang. Program ini diarahkan untuk mendukung perbaikan gizi anak sekolah dan memutus rantai stunting.
Namun, besarnya skala dan anggaran dinilai berisiko tidak efektif jika menu yang disajikan hanya berorientasi pada rasa kenyang. Dalam sejumlah keluhan yang muncul setelah tiga bulan pelaksanaan, menu sederhana seperti nasi putih, ayam tepung, sayur bening, dan susu kotak disebut belum tentu memenuhi tujuan gizi sekaligus membentuk kebiasaan makan sehat pada anak.
Kekhawatiran lain adalah dampak jangka panjang bila pola makan yang diberikan tidak seimbang. Program yang seharusnya menjadi investasi kesehatan anak dinilai dapat berbalik menjadi beban kesehatan di masa depan jika konsumsi yang terbentuk cenderung tinggi karbohidrat, minim protein, dan kurang variasi.
Dalam evaluasi lapangan, setidaknya ada tiga persoalan yang disorot. Pertama, tingginya sisa makanan. Data Badan Gizi Nasional (BGN) per September 2026 menyebut sisa makanan di beberapa sekolah mencapai 30%, dengan alasan sederhana dari siswa: makanan dianggap tidak enak.
Kedua, munculnya risiko pola katering industrial. Untuk mengejar skala dan harga Rp15.000 per porsi, penyedia makanan dinilai berpotensi memilih komposisi yang tidak seimbang, seperti karbohidrat dominan, protein hewani minimal, dan sayur sekadar pelengkap. Padahal, standar Kementerian Kesehatan menyebut sepiring MBG seharusnya terdiri dari 30–40% karbohidrat, 15–20% protein hewani, dan sisanya sayur-buah.
Ketiga, hilangnya aspek edukasi rasa. MBG tidak hanya dipandang sebagai bantuan pangan, tetapi juga kesempatan membangun kebiasaan makan anak sejak dini. Jika anak terbiasa dengan menu hambar atau ultra-proses, ada kekhawatiran mereka akan lebih mudah memilih makanan dan minuman tinggi gula saat remaja.
Di sisi lain, gagasan “food healthy” dinilai tidak harus identik dengan bahan impor atau mahal. Konsep pangan sehat dipaparkan sebagai makanan lokal yang beragam, minim proses, dan padat gizi—yang sebenarnya banyak ditemukan dalam kuliner Nusantara. Bahan seperti ikan lele, kembung, mujair, telur, dan tempe disebut sebagai sumber protein yang terjangkau. Sementara kelor, daun singkong, dan pepaya muda dipandang dapat menjadi sumber mikronutrien alami.
Kuliner Nusantara kemudian diajukan sebagai opsi yang lebih masuk akal untuk MBG, terutama karena pertimbangan gizi, harga, dan logistik. Rantai pasok yang lebih pendek dinilai dapat menekan biaya sekaligus menjaga kesesuaian menu dengan kebiasaan makan setempat.
Sejumlah usulan disampaikan untuk menerjemahkan resep tradisional menjadi format MBG yang lebih presisi. Pertama, perubahan paradigma penyedia makanan dari sekadar vendor menjadi “chef gizi komunitas”. Perencanaan menu diusulkan melibatkan perguruan tinggi terkait, PKK desa, SMK tata boga, serta juru masak tradisional yang memahami selera lokal. Dengan pendekatan ini, anggaran Rp15.000 disebut bisa dioptimalkan untuk menu yang tetap enak dan bernilai gizi.
Kedua, usulan penyusunan “Indeks Pangan Lokal MBG” per kabupaten. Pendekatan ini menekankan bahwa menu tidak dapat diseragamkan antarwilayah. Contohnya, MBG di Papua diusulkan lebih menonjolkan sagu dan ikan, sementara di NTT dapat mengangkat jagung bose dan ikan. Di Jawa, variasi pangan seperti tiwul, botok, atau tempe bacem disebut dapat menjadi pilihan.
Ketiga, MBG diusulkan menjadi laboratorium pengenalan pangan sehat sekaligus kekayaan kuliner. Salah satu gagasan adalah penetapan satu hari dalam sepekan untuk menu “warisan leluhur”, seperti papeda, gudeg, kapurung, atau rujak cingur, agar siswa mengenal ragam kuliner Indonesia dan lebih menghargai makanan yang disajikan.
Keempat, perlunya menghentikan anggapan bahwa makanan sehat harus hambar. Pelatihan juru masak MBG dengan penggunaan bumbu Nusantara seperti kunyit, jahe, sereh, dan kemiri dianggap dapat meningkatkan penerimaan anak, sekaligus menjaga karakter makanan yang minim proses. Pilihan kaldu alami juga disebut dapat memperkaya rasa.
Program MBG dipandang sebagai investasi jangka panjang. Keberhasilannya dinilai tidak hanya bergantung pada distribusi makanan, tetapi juga pada ketepatan komposisi gizi, penerimaan rasa, serta kemampuan program membangun kebiasaan makan sehat sejak dini.

