Istilah “aura farming” belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, terutama TikTok. Tren ini mencuat seiring banyaknya pengguna yang mengunggah konten dengan gaya tertentu untuk terlihat menarik dan memikat perhatian audiens.
Popularitas istilah tersebut ikut terdorong oleh penampilan Rayyan Arkan Dikha, seorang anak Indonesia yang tampil dalam perlombaan Pacu Jalur di Kuantan Singingi, Riau. Di atas perahu, Dikha memperlihatkan gerakan tarian dengan penuh percaya diri. Aksinya kemudian viral dan ditiru oleh sejumlah pengguna media sosial.
Secara umum, “aura farming” merujuk pada upaya seseorang membangun versi dirinya yang dianggap paling menarik. Istilah ini merupakan slang yang berkembang di kalangan generasi Z dan Alpha. Kata “farming” sendiri berasal dari konteks video game, yang berarti melakukan tindakan berulang untuk mendapatkan item atau poin tertentu.
Dalam konteks media sosial, konsep tersebut bergeser menjadi semacam “pengumpulan poin aura”, yakni ketika seseorang melakukan aksi yang dinilai keren dengan tujuan memperoleh perhatian dan pengikut. Meski berbeda latar, baik di video game maupun media sosial, keduanya sama-sama berorientasi pada hasil: terlihat menonjol.
Sejumlah ulasan menyebut “aura farming” sebagai tindakan memamerkan gaya hidup untuk mendapatkan pengakuan sosial, yang sering disebut sebagai “poin aura”. Remaja yang terlibat dalam tren ini kerap berusaha memancarkan pesona yang dinilai positif oleh orang lain, baik saat tampil sendiri maupun bersama teman.
Contoh yang sering muncul di media sosial adalah unggahan foto barang favorit, seperti pakaian atau sepatu yang sedang tren, tanpa perlu dibuat secara berlebihan. Di sisi lain, fenomena ini juga memunculkan kekhawatiran ketika dilakukan semata-mata demi perhatian. Upaya yang berlebihan untuk mengejar pengakuan dikhawatirkan membuat seseorang kehilangan esensi diri.
Dalam situasi ini, peran orang tua dinilai penting untuk membimbing anak agar tetap menampilkan diri secara autentik dan tidak merasa harus selalu terlihat luar biasa. Pemahaman bahwa nilai diri tidak semata ditentukan oleh penilaian orang lain dapat membantu anak terhindar dari tekanan untuk mengejar “aura” demi pengakuan.

