BERITA TERKINI
Mengapa Kuliner Mandalika Mendadak Jadi Tren: Rasa, Identitas Sasak, dan Masa Depan Pariwisata Indonesia

Mengapa Kuliner Mandalika Mendadak Jadi Tren: Rasa, Identitas Sasak, dan Masa Depan Pariwisata Indonesia

Dalam beberapa hari terakhir, pencarian tentang “wisata kuliner Lombok” dan “kuliner Mandalika” ikut menguat di ruang digital.

Isu ini tampak sederhana, tetapi ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam.

Orang tidak sekadar mencari tempat makan.

Mereka sedang mencari pengalaman yang terasa “asli”, dapat diceritakan ulang, dan memberi makna pada perjalanan.

-000-

Isu yang Membuatnya Menjadi Tren

Berita tentang rekomendasi kuliner di sekitar Mandalika menjadi menonjol karena Mandalika sudah terlanjur menjadi kata kunci pariwisata nasional.

Ketika sebuah destinasi naik kelas, pertanyaan berikutnya selalu sama.

Apa yang harus dicicipi, di mana, dan apa ceritanya.

-000-

Tren ini juga dipantik oleh sifat kuliner Lombok yang tegas.

Rempah, cabai, dan terasi membentuk rasa yang mudah dikenali.

Rasa yang tegas memudahkan orang mengingat, lalu membagikan pengalamannya.

-000-

Di Mandalika, wisata tidak lagi hanya soal pantai dan sirkuit.

Ia bergerak menjadi paket pengalaman.

Dalam paket itu, makanan adalah pintu masuk paling cepat menuju kebudayaan Sasak.

-000-

Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Viral

Pertama, kuliner adalah konten yang paling mudah “ditangkap” publik.

Foto ayam panggang, sambal, dan nasi hangat bekerja cepat di media sosial.

Ia melampaui bahasa dan kelas sosial.

-000-

Kedua, berita ini menawarkan panduan yang konkret.

Nama menu, asal desa, kisah tradisi, sampai jam operasional rumah makan membuat orang merasa siap berangkat.

Internet menyukai daftar yang praktis.

-000-

Ketiga, ada elemen identitas dan legitimasi.

Ayam merangkat dan sate kuncung disebut sudah terdaftar sebagai Kekayaan Intelektual Komunal.

Label ini mengubah makanan menjadi warisan, bukan sekadar dagangan.

-000-

Empat Rasa, Empat Cerita

Di sekitar Lombok Tengah, empat kuliner yang sering disebut adalah ayam merangkat, sate kuncung, nasi balap puyung, dan sambal beberuk terung.

Keempatnya bukan hanya soal kenyang.

Masing-masing menyimpan cara masyarakat memaknai hidup.

-000-

Ayam merangkat berasal dari Desa Bonjeruk.

Ia hadir sebagai ayam kampung panggang, ditemani sambal monte, sayur bening, dan telur rebus.

Di lidah, pedasnya tegas.

-000-

Namun yang membuatnya bergetar adalah konteksnya.

Ayam merangkat biasa disajikan dalam prosesi adat pernikahan, saat calon pengantin perempuan dibawa ke rumah calon pengantin laki-laki pada malam hari.

Makanan menjadi penanda perpindahan.

-000-

Dalam tradisi itu, pembagian menu pun punya makna sosial.

Ayam panggang untuk pengantin dan pengantar, sementara ayam suwir dan sayur bening untuk tamu.

Telur rebus dikupas pengantin perempuan sebagai tanda dimulainya makan.

-000-

Sate kuncung juga berasal dari Bonjeruk.

Bahannya unik, pisang batu muda dan belut, yang dapat diganti ayam atau sapi.

Ia dibumbui cabai rawit, bawang, terasi, gula merah, daun jeruk, kelapa parut, dan minyak kelapa.

-000-

Tekniknya pun khas.

Adonan dibungkus daun pisang berbentuk kerucut, ditusuk, lalu dipanggang.

Bentuk kerucut itu tidak netral.

Ia mengacu pada kisah Gunung Rinjani, yang dianggap sakral.

-000-

Nasi balap puyung lahir dari Desa Puyung, Kecamatan Jonggat.

Dalam berita, ia disebut berkembang sejak 1970-an melalui sosok bernama Inaq Esun.

Ia menjadi semacam sarapan yang menantang, karena pedasnya terkenal.

-000-

Komposisinya ramai, tetapi terukur.

Nasi putih bertemu ayam suwir pedas, abon, ayam goreng, sambal, kedelai goreng, kelapa parut, dan tumisan sayuran.

Secara tradisional, ia disajikan di piring anyaman rotan beralas kertas nasi berbentuk bunga.

-000-

Sambal beberuk terung adalah pelengkap yang justru sering menjadi pusat perhatian.

Terung mentah dan tomat dicampur sambal cabai merah, bawang, garam, dan terasi.

Ditambah jeruk nipis atau asam jawa, serta sedikit minyak kelapa.

Rasanya pedas dan asam, segar, dengan tekstur renyah.

-000-

Catatan menarik datang dari buku “Sambel Beberuk di Lombok Nusa Tenggara Barat” terbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali.

Di masa lalu, beberuk dibuat tanpa tomat dan jeruk limau.

Keduanya kemudian dipakai karena banyak tumbuh di kebun masyarakat.

Perubahan bahan menunjukkan budaya yang hidup.

-000-

Tempat Makan dan Peta Ekonomi Kecil

Rekomendasi tempat makan dalam berita ini membantu membaca denyut ekonomi lokal.

Nama-nama tempat bukan sekadar titik di peta.

Ia adalah simpul rantai pasok, tenaga kerja, dan tradisi.

-000-

Pawon 21 Bonjeruk berada di Kampung Batujering, Desa Bonjeruk.

Jam operasionalnya 10.00 sampai 18.00 WITA.

Menunya mencakup ayam merangkat, sate kuncung, sambal beberuk, sampai serbat.

Harga berkisar Rp 18.000 hingga Rp 150.000.

-000-

Pawon Nusantara Kuta Lombok berada di Jalan Raya Kuta Nomor 7.

Buka 12.00 sampai 23.00 WITA.

Ia menyajikan hidangan Nusantara, termasuk ayam taliwang dan sambal beberuk.

Rentang harga Rp 20.000 hingga Rp 195.000.

-000-

Nasi Balap Puyung Inaq Esun berlokasi di Desa Puyung.

Buka 07.00 sampai 23.00 WITA.

Pengunjung dapat memilih tingkat kepedasan, dari tidak pedas hingga super pedas.

Harga Rp 25.000 sampai Rp 50.000 per orang.

-000-

Riset yang Membantu Memahami: Kuliner sebagai Warisan dan Daya Tarik

Fenomena “mencari kuliner saat berwisata” bukan kebetulan.

Dalam kajian pariwisata, makanan sering dipahami sebagai bagian dari identitas destinasi.

Ia memberi wisatawan sensasi kedekatan dengan tempat.

-000-

Kerangka UNESCO tentang warisan budaya takbenda menekankan bahwa tradisi hidup bertahan melalui praktik, pengetahuan, dan keterampilan komunitas.

Kuliner berada di wilayah itu.

Ia bukan hanya produk, melainkan praktik sosial yang diwariskan.

-000-

Ketika ayam merangkat dan sate kuncung dicatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal, ada pesan yang ingin ditegaskan.

Bahwa asal-usul dan komunitas pembawanya penting.

Di tengah ekonomi perhatian, pencatatan semacam ini menjadi pagar.

-000-

Riset-riset tentang gastrotourism juga menunjukkan pola yang relevan.

Wisata kuliner cenderung memperpanjang lama tinggal wisatawan dan memperluas belanja ke usaha kecil.

Efeknya menyebar, dari petani cabai hingga pengrajin piring anyaman.

-000-

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Pariwisata, Pemerataan, dan Identitas

Tren kuliner Mandalika terkait langsung dengan arah besar pembangunan pariwisata Indonesia.

Pertanyaannya bukan hanya bagaimana menarik wisatawan.

Yang lebih penting, siapa yang mendapat manfaat.

-000-

Ketika destinasi tumbuh, risiko yang mengintai adalah homogenisasi.

Menu bisa diseragamkan demi selera umum.

Rasa pedas dikurangi, cerita dipendekkan, tradisi dipoles sekadarnya.

Di titik itu, yang hilang adalah konteks.

-000-

Padahal berita ini justru menonjolkan konteks.

Ayam merangkat terkait prosesi pernikahan.

Sate kuncung terkait imajinasi tentang Rinjani.

Nasi balap puyung terkait sejarah berkembangnya sejak 1970-an.

Beberuk terung terkait perubahan bahan karena kebun masyarakat.

-000-

Isu besar lain adalah perlindungan pengetahuan lokal.

KIK memberi sinyal bahwa negara mengakui komunalitas.

Namun pengakuan perlu diikuti tata kelola, agar manfaat ekonomi tidak lari dari warga.

-000-

Di Indonesia, perdebatan tentang pariwisata sering berputar pada infrastruktur.

Jalan, bandara, hotel, dan kawasan.

Berita kuliner ini mengingatkan sisi lain.

Infrastruktur rasa dan cerita sama pentingnya.

-000-

Referensi Luar Negeri yang Serupa

Di luar negeri, banyak destinasi mengalami lonjakan minat lewat pintu kuliner.

Salah satu pola yang sering muncul adalah penguatan identitas lokal melalui makanan khas.

-000-

Jepang, misalnya, mengembangkan konsep meibutsu, yakni makanan khas daerah yang dicari wisatawan.

Ketika orang mendatangi suatu kota, pertanyaan yang muncul adalah “apa rasa khas tempat ini”.

Pola itu mirip dengan pencarian kuliner Mandalika.

-000-

Thailand juga memanfaatkan kuliner sebagai wajah bangsa.

Beberapa kota menjadi tujuan karena hidangan yang dianggap otentik, bukan sekadar karena pemandangan.

Di sana, perpaduan rasa pedas, asam, dan gurih menjadi identitas yang mudah diingat.

-000-

Namun contoh luar negeri juga memberi peringatan.

Ketika sebuah makanan menjadi terlalu populer, ia rentan dikomodifikasi.

Resep dipercepat, bahan diganti, dan cerita dipangkas.

Yang tersisa hanya nama, sementara ruhnya memudar.

-000-

Bagaimana Publik Sebaiknya Menanggapi

Pertama, wisatawan perlu mendekati kuliner sebagai pertemuan budaya, bukan sekadar daftar buruan.

Makanlah dengan rasa hormat pada konteks.

Tanyakan asal-usul menu, dan dengarkan penjelasan penjual.

-000-

Kedua, pelaku usaha sebaiknya menjaga konsistensi rasa dan cerita.

Jika ayam merangkat terkait prosesi adat, sampaikan narasinya dengan jujur.

Jika sate kuncung punya simbol kerucut, jelaskan maknanya tanpa melebih-lebihkan.

-000-

Ketiga, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan pariwisata dapat memperkuat literasi kuliner.

Caranya bukan dengan menyeragamkan.

Melainkan dengan mendukung standar kebersihan, pelatihan layanan, dan dokumentasi resep tradisional.

-000-

Keempat, media dan pembuat konten perlu berhati-hati pada efek viral.

Daftar rekomendasi memang membantu.

Namun yang lebih penting adalah mengangkat ekosistemnya, dari petani bahan hingga tradisi yang melahirkannya.

-000-

Menutup dengan Kontemplasi

Di hadapan sepiring nasi balap puyung, orang sering mengira yang diuji hanya level pedas.

Padahal yang sedang bekerja diam-diam adalah ingatan kolektif.

Cabai, terasi, dan kelapa membawa jejak kebun, pasar, dan dapur keluarga.

-000-

Di Mandalika, wisata kuliner yang sedang tren ini menunjukkan satu hal.

Indonesia tidak kekurangan destinasi.

Yang kita butuhkan adalah cara memuliakan cerita lokal, agar pertumbuhan tidak memutus akar.

-000-

Jika pariwisata ingin berkelanjutan, ia harus adil pada warga dan setia pada konteks.

Rasa tidak boleh dipisahkan dari asal-usulnya.

Dan kemajuan seharusnya tidak membuat tradisi menjadi sekadar dekorasi.

-000-

Seperti kutipan yang sering diulang karena sederhana namun benar, “Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur, kita meminjamnya dari anak cucu.”

Dalam urusan kuliner, kita juga meminjam rasa dari mereka yang menjaga dapur lebih dulu.