BERITA TERKINI
Festival 28 Bahasa di Pangandaran: Ketika Anak-anak dari 18 Provinsi Menjaga Indonesia Tetap Utuh

Festival 28 Bahasa di Pangandaran: Ketika Anak-anak dari 18 Provinsi Menjaga Indonesia Tetap Utuh

Ada berita yang terasa sederhana, tetapi diam-diam menggetarkan. Festival 28 Bahasa di Pangandaran menjadi tren karena ia menyentuh urat nadi paling peka bangsa ini: identitas.

Di halaman SMK Bakti Karya Parigi, Desa Cintakarya, batu-batu dipanaskan hingga membara. Tradisi bakar batu Papua hidup di tanah Jawa Barat, disaksikan teman-teman sebaya.

Di sudut lain, pakaian adat berwarna-warni memenuhi ruang. Rumah-rumah adat berdiri di area sekolah, dibangun oleh tangan siswa yang merindu kampung halaman.

Yang terdengar bukan sekadar keramaian acara sekolah. Yang terdengar adalah beragam bahasa daerah, menyatu dalam Festival 28 Bahasa yang digelar setiap tahun.

Festival ini menjadi ruang bagi siswa dari berbagai daerah untuk mengenalkan kebudayaan asalnya. Mereka membawa kuliner, tarian, puisi, dan cara menyapa dunia.

Di panggung, ada tarian tradisional dari Flores. Ada Bunga Silat dari Bugis. Ada pembacaan puisi dengan diksi bahasa daerah yang tak selalu dipahami, tetapi terasa.

Seorang siswa asal Papua membacakan puisi berjudul Cendrawasih Berbicara. Di situ, bahasa bekerja bukan hanya sebagai alat bicara, melainkan cara merawat ingatan.

Persiapan festival dimulai sekitar sebulan sebelumnya. Para siswa mendirikan rumah adat khas daerah, mencari bahan alami di lingkungan Pangandaran, termasuk ilalang.

Mereka mengenakan pakaian adat asli dari kampung halaman. Makanan yang disajikan dimasak sendiri bersama teman-teman, seperti sebuah keluarga besar yang baru dibentuk.

Di salah satu sudut, sejumlah siswa asal Papua memasak dengan tradisi bakar batu. Batu dipanaskan hingga membara untuk memasak bersama-sama.

Tradisi itu dikenal dalam kehidupan masyarakat adat Papua, khususnya wilayah pegunungan tengah. Di festival, ia hadir sebagai pengetahuan yang bisa disentuh dan dicicipi.

Selin Jumagal, siswa kelas 10 asal Mimika, Papua Tengah, menyiapkan makanan khas daerah. Ada masakan bakar batu dan ikan kuah kuning dengan papeda berbahan sagu.

“Di sini kami lagi Festival 28 Bahasa dan kami lagi masak makanan adat, pakaian adat, pokoknya semuanya,” kata Selin saat ditemui di lokasi kegiatan.

Selin menyebut makanan dimasak sendiri bersama teman-teman. Mereka juga membuat perlengkapan tradisional, seperti tas noken dari benang, yang mengajarkan ketekunan.

Selama festival berlangsung, para siswa menggunakan bahasa daerah sesuai asalnya. Bahasa hadir dalam percakapan, puisi, dan pertunjukan, seolah sekolah berubah menjadi peta hidup.

-000-

Mengapa Festival Ini Menjadi Tren

Festival 28 Bahasa menjadi tren bukan semata karena unik. Ada sesuatu yang terasa langka: perjumpaan lintas daerah yang tidak dipaksa, tetapi tumbuh dari keseharian siswa.

Alasan pertama, festival menawarkan narasi persatuan yang konkret. Publik lelah pada persatuan yang hanya slogan, lalu menemukan bukti persatuan dalam kerja tangan dan rasa.

Di sini, persatuan tidak diperdebatkan di ruang komentar. Persatuan dimasak, dijahit, ditarikan, dan diucapkan, dari satu bahasa daerah ke bahasa daerah lain.

Alasan kedua, festival menyentuh emosi tentang bahasa yang kian rapuh. Banyak orang menyadari bahasa ibu sering kalah oleh bahasa dominan di sekolah dan media.

Ketika siswa justru sengaja memakai bahasa daerah dalam percakapan dan puisi, publik menangkap pesan: bahasa bukan beban, melainkan kebanggaan.

Alasan ketiga, festival menawarkan pengalaman visual dan simbolik yang kuat. Bakar batu, rumah adat, noken, pakaian adat, semuanya mudah dibayangkan dan mudah dibagikan.

Namun tren bukan hanya soal tampilan. Tren juga soal kebutuhan batin kolektif: kebutuhan untuk percaya bahwa Indonesia masih bisa saling memahami.

-000-

Ruang Kecil Bernama Sekolah, Dampak Besar Bernama Indonesia

Apa yang terjadi di Pangandaran sebenarnya membicarakan isu besar: bagaimana Indonesia menjaga kebinekaan di tengah perubahan sosial yang cepat.

Festival ini memperlihatkan sekolah sebagai ruang pertemuan identitas. Bukan sekadar tempat belajar mata pelajaran, melainkan tempat belajar menjadi warga Indonesia.

Ketika siswa dari 18 provinsi berkumpul, mereka membawa logat, selera, dan cara pandang. Yang dipertaruhkan bukan hanya acara tahunan, tetapi rasa saling percaya.

Dalam konteks Indonesia, rasa saling percaya adalah modal sosial yang menentukan. Tanpanya, perbedaan mudah berubah menjadi kecurigaan, lalu menjadi jarak.

Festival 28 Bahasa memberi contoh bahwa perbedaan bisa dikelola lewat pengalaman bersama. Makan bersama, membangun bersama, dan tampil bersama menurunkan ketegangan.

Di Pangandaran, siswa tidak hanya memamerkan budaya. Mereka mempraktikkan kerja kolektif lintas identitas, sesuatu yang kerap hilang dalam percakapan publik.

-000-

Bahasa sebagai Rumah: Kerangka Konseptual untuk Memahami Maknanya

Bahasa sering dianggap alat komunikasi. Padahal, bahasa juga rumah: tempat nilai, humor, kesedihan, dan cara melihat dunia disimpan.

Penelitian sosiolinguistik banyak membahas hubungan bahasa dan identitas. Bahasa ibu kerap menjadi penanda kedekatan sosial, sekaligus sumber rasa aman.

Ketika bahasa daerah jarang dipakai, yang hilang bukan hanya kosakata. Yang memudar adalah jalur pewarisan cerita keluarga, adat, dan pengetahuan lokal.

Di festival ini, bahasa daerah dipakai secara sengaja. Itu penting, karena pemakaian sengaja adalah bentuk perlawanan halus terhadap lupa.

Dalam studi tentang pemertahanan bahasa, salah satu faktor kunci adalah domain pemakaian. Bahasa bertahan jika dipakai di rumah, komunitas, dan ruang publik.

Festival menciptakan domain baru: sekolah sebagai ruang publik yang memberi legitimasi pada bahasa daerah. Siswa tidak merasa aneh saat berbicara dengan bahasa asalnya.

Kita juga bisa melihat festival sebagai praktik pendidikan multikultural. Pendidikan semacam ini menekankan pengakuan, dialog, dan kesetaraan simbolik.

Kesetaraan simbolik artinya tidak ada budaya yang diperlakukan sebagai aksesori. Semua diberi ruang tampil, didengar, dan diapresiasi, tanpa harus seragam.

-000-

Bakar Batu, Papeda, dan Politik Kehangatan

Tradisi bakar batu yang ditampilkan siswa Papua menyimpan makna lebih dari teknik memasak. Ia adalah ritual kebersamaan, kerja, dan pembagian.

Api dinyalakan, batu dipanaskan, makanan disiapkan bersama. Proses ini menuntut koordinasi, kesabaran, dan rasa saling menjaga.

Dalam masyarakat modern, banyak relasi dibangun lewat transaksi cepat. Festival mengingatkan bahwa relasi juga bisa dibangun lewat proses lambat yang hangat.

Ketika papeda dan ikan kuah kuning hadir di Pangandaran, yang berpindah bukan hanya menu. Yang berpindah adalah cerita tentang tanah, sagu, dan cara bertahan hidup.

Di saat yang sama, siswa dari daerah lain memperkenalkan kuliner khas masing-masing, termasuk dari Sulawesi. Pertukaran ini memperluas rasa ingin tahu.

Rasa ingin tahu adalah awal dari empati. Empati adalah awal dari persatuan yang tidak memaksa, karena ia tumbuh dari pengenalan, bukan dari perintah.

-000-

Pelajaran Global: Ketika Bahasa Minoritas Dipulihkan

Isu pemertahanan bahasa bukan hanya milik Indonesia. Banyak negara menghadapi dilema yang sama: modernisasi sering mendorong satu bahasa dominan.

Di Selandia Baru, bahasa Māori pernah mengalami penurunan penggunaan. Upaya pemulihan dilakukan melalui pendidikan, komunitas, dan penguatan kebanggaan budaya.

Di Wales, Britania Raya, bahasa Welsh dipertahankan melalui kebijakan publik dan pendidikan. Pengalaman itu menunjukkan bahasa bisa bertahan ketika diberi ruang formal.

Contoh lain terlihat di Irlandia dengan bahasa Gaelic. Meski tantangannya besar, gerakan budaya dan pendidikan tetap menjadi strategi penting.

Indonesia tentu berbeda dalam jumlah bahasa dan sebarannya. Namun pelajaran utamanya sama: bahasa tidak hidup hanya karena dicintai, tetapi karena dipakai.

Festival 28 Bahasa menunjukkan strategi pemakaian itu dalam skala mikro. Ia tidak menunggu kebijakan besar, tetapi memulai dari pertemuan manusia.

-000-

Membaca Tren sebagai Cermin Kecemasan Kolektif

Ketika festival sekolah menjadi perbincangan luas, itu pertanda publik sedang mencari kabar baik tentang kebinekaan.

Di tengah polarisasi opini dan arus informasi cepat, banyak orang rindu contoh yang tidak berisik. Contoh yang mempertemukan, bukan memisahkan.

Festival ini juga mengingatkan bahwa identitas lokal tidak harus berhadapan dengan identitas nasional. Keduanya bisa saling menguatkan.

Indonesia tidak dibangun dari satu cerita. Indonesia dibangun dari banyak cerita yang sepakat hidup bersama, meski tidak selalu sepakat dalam segala hal.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik sebaiknya melihat festival seperti ini bukan sebagai hiburan sesaat. Ia perlu dibaca sebagai praktik baik pendidikan kebinekaan.

Apresiasi publik penting, tetapi apresiasi yang sehat tidak mengubah budaya menjadi konten semata. Fokusnya tetap pada penghormatan dan pembelajaran.

Kedua, sekolah-sekolah lain dapat meniru prinsipnya, bukan sekadar formatnya. Prinsipnya adalah memberi ruang aman bagi bahasa dan budaya asal siswa.

Ruang aman berarti tidak menertawakan logat, tidak mengecilkan tradisi, dan tidak memaksa siswa meninggalkan identitasnya demi dianggap modern.

Ketiga, orang tua dan komunitas perlu mendukung penggunaan bahasa ibu di rumah. Festival setahun sekali akan lebih kuat jika sehari-hari bahasa tetap dipakai.

Keempat, media sebaiknya meliput dengan perspektif yang menghormati, tidak eksotis, dan tidak menyederhanakan. Budaya bukan benda pajangan, melainkan cara hidup.

Kelima, pembuat kebijakan pendidikan dapat menjadikan praktik semacam ini inspirasi penguatan muatan lokal. Bukan untuk menyeragamkan, tetapi untuk merawat keragaman.

-000-

Penutup: Indonesia yang Dimasak Perlahan

Di Pangandaran, anak-anak dari 18 provinsi menyalakan api, memanaskan batu, membangun rumah adat, dan mengucapkan puisi dalam bahasa yang mungkin asing bagi sebagian orang.

Namun justru dari keasingan itu, mereka belajar saling mendekat. Mereka belajar bahwa Indonesia bukan hanya peta, melainkan perjumpaan yang harus dirawat.

Festival 28 Bahasa mengajarkan satu hal sederhana: kebinekaan tidak bertahan karena kita sering membicarakannya, tetapi karena kita terus mempraktikkannya.

Dan mungkin, kita perlu lebih sering meniru cara mereka. Menjaga Indonesia seperti memasak bersama: sabar, hangat, dan saling berbagi.

“Kebudayaan tidak diwariskan melalui pidato, melainkan melalui kebiasaan yang dihidupi setiap hari.”