Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai dapat menjadi pintu masuk membangun sekolah sehat, tidak hanya melalui penyediaan makanan, tetapi juga lewat pendidikan gizi, pembiasaan hidup bersih, dan pembentukan karakter peserta didik. Dengan pendekatan itu, sekolah dipandang bukan semata tempat anak memperoleh pengetahuan akademik, melainkan ruang awal membangun kebiasaan yang memengaruhi kualitas hidup mereka di masa depan.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menyatakan MBG perlu berjalan beriringan dengan pendidikan gizi dan pembiasaan hidup sehat di sekolah. Menurutnya, asupan bergizi bukan hanya mendukung kecukupan nutrisi, tetapi juga membantu kesiapan peserta didik mengikuti pembelajaran, sehingga makanan yang diterima anak berkaitan langsung dengan proses pendidikan.
Tatang menekankan, pemahaman tentang makanan tidak selalu tumbuh otomatis dari pengalaman makan. Anak perlu mengetahui alasan tubuh membutuhkan protein, karbohidrat, vitamin, mineral, dan serat, serta memahami kaitan makanan dengan energi, pertumbuhan, konsentrasi, dan kesehatan.
Pendidikan gizi, lanjut Tatang, dapat dimulai dari hal sederhana yang dekat dengan keseharian siswa. Guru dapat mengajak anak mengenali isi piring mereka, menjelaskan manfaat setiap jenis makanan, membiasakan minum air yang cukup, hingga mendorong siswa memilih makanan sehat ketika berada di luar sekolah.
Ia juga menyebut sekolah tidak harus menerapkan model pendidikan gizi yang seragam. Setiap sekolah dapat menentukan prioritas sesuai kondisi dan sumber daya, misalnya dengan memperkuat kualitas kantin, meningkatkan aktivitas fisik, mengembangkan kebun sekolah, melibatkan orang tua, atau menjalankan kegiatan lain yang mendukung budaya hidup sehat.
Sejalan dengan itu, Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menyampaikan edukasi gizi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan MBG. Ia mengatakan Kemendikdasmen menyiapkan modul, petunjuk teknis, panduan, serta contoh kegiatan yang dapat diterapkan melalui pembelajaran di kelas, kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, pembiasaan sehari-hari, hingga saat siswa menikmati makanan.
Integrasi pendidikan gizi dinilai turut membuka ruang pembentukan karakter. Anak dapat belajar disiplin saat mengikuti aturan makan, bersyukur ketika menerima makanan, bertanggung jawab dengan menghabiskan makanan secukupnya, serta peduli ketika memahami makanan yang tersedia merupakan hasil kerja banyak pihak.
Kebiasaan tidak membuang makanan disebut sebagai salah satu contoh sederhana yang memiliki nilai pendidikan besar. Setiap makanan yang sampai ke meja siswa melewati proses panjang, mulai dari petani dan nelayan, pengolah bahan pangan, pekerja dapur, hingga petugas distribusi. Karena itu, menghargai makanan dipandang berarti menghargai kerja orang lain.
Pengalaman siswa di Sulawesi Tengah menunjukkan manfaat MBG dapat dirasakan dalam keseharian. Gayatri Kalyani Taha, siswi kelas 6 SDN 1 Ratolindo, menyebut orang tuanya lebih tenang karena tidak lagi terlalu khawatir ia kelaparan saat berada di sekolah. Sementara itu, Andi Arkan Raffi dari SD IT Al-Wahdah Tojo Una-Una mengaku mulai memahami kandungan gizi makanan yang dikonsumsinya.
Raffi juga menyampaikan dirinya mulai terbiasa mengonsumsi sayur dan buah yang sebelumnya kurang disukai. Pengalaman tersebut menggambarkan bahwa MBG dapat mengubah cara anak memandang makanan, dari sekadar penghilang lapar menjadi sumber zat gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan belajar.
Dalam pelaksanaannya, peran guru dan orang tua dinilai penting karena kebiasaan sehat yang dibangun di sekolah perlu diteruskan di rumah. Anak yang belajar memilih makanan sehat di sekolah akan lebih mudah mempertahankan perilaku tersebut apabila keluarga memberi contoh dan lingkungan rumah mendukung pilihan yang sama.
Selain itu, MBG disebut dapat menjadi pintu masuk membangun budaya sekolah yang lebih luas. Pembiasaan mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan meja, membuang sampah pada tempatnya, memilah sisa makanan, serta menghormati teman saat makan dipandang sebagai kebiasaan sederhana yang jika dilakukan berulang dapat membentuk karakter.
Pada akhirnya, sekolah sehat dinilai tidak cukup dibangun hanya dari makanan bergizi yang datang setiap hari. Sekolah sehat lahir dari kebiasaan yang dilakukan berulang, lingkungan yang mendukung, pengetahuan yang dipahami, serta keteladanan orang dewasa di sekitar anak. Melalui MBG, kebiasaan sehari-hari di meja makan sekolah dipandang dapat menjadi sarana pendidikan karakter agar anak tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, mandiri, dan berkarakter.