Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM-PM) menggagas solusi untuk mengatasi krisis tanaman bumbu dapur di Desa Sumbermanjing Kulon, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. Upaya yang dilakukan berupa edukasi pemanfaatan lahan serta pengelolaan lahan yang tersedia di sekitar permukiman warga.
Dalam program tersebut, tim memperkenalkan pengelolaan budidaya tanaman bumbu dapur yang kerap digunakan masyarakat, yakni cabai, bawang putih, dan bawang merah. Tanaman ini dipilih karena tim menilai pengetahuan warga terkait pengelolaan lahan pertanian masih terbatas.
Desa Sumbermanjing Kulon disebut memiliki tantangan geografis dan kondisi lahan yang tidak mudah. Wilayah ini merupakan dataran rendah yang sering mengalami banjir, berada di area pegunungan kering, serta didominasi tanah yang kurang subur. Meski demikian, desa ini memiliki potensi lahan yang luas karena banyak lahan kosong di sekitar rumah warga, namun belum dimanfaatkan optimal akibat minimnya pengetahuan pengelolaan lahan dengan metode tertentu untuk menghasilkan tanaman buah maupun sayuran.
Berdasarkan kondisi tersebut, tim menilai diperlukan upaya yang disesuaikan dengan kondisi geografis sekaligus potensi masyarakat setempat. Tim yang menamai programnya Ladang Berbagi Bersama kemudian mengenalkan cabai katokkon (Capsicum annum L.var.sinensis), cabai yang dikenal sangat pedas dan berasal dari Tana Toraja.
Setelah melakukan eksperimen bersama warga dengan metode vertikultur, tim menyatakan tanaman cabai katokkon dapat tumbuh dan berbuah dengan baik. Tim juga menyebut cabai tersebut menjadi cabai pertama yang berhasil tumbuh di Jawa Timur.
Ketua tim, Shalsa Bila Agustina, menyampaikan program yang dikenalkan kepada masyarakat diharapkan berdampak berkelanjutan dan memberi manfaat ekonomis. Ia menjelaskan, hasil yang ingin dicapai adalah terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat yang bersumber dari tanaman bumbu dapur seperti cabai dan bawang merah, serta tumbuhnya kemandirian warga dalam mengembangkan keterampilan menanam melalui metode vertikultur.
“Kami memiliki harapan besar atas keberlanjutan terkait program Ladang Berbagi Bersama untuk dapat terus bermanfaat bagi warga di Desa Sumbermanjing Kulon dan meningkatkan pemenuhan kebutuhan bahan pokok, yaitu cabai dan bawang merah, serta dapat mengembangkan keterampilan dalam menanam dengan metode vertikultur yang telah kami bimbing,” ujar Shalsa.
Program Ladang Berbagi Bersama berlangsung selama enam minggu, mulai 1 Juli 2023 hingga 15 Oktober 2023, dengan total 10 kali kunjungan. Selama periode tersebut, tim berupaya memberdayakan masyarakat untuk mengembangkan potensi perekonomian desa melalui kegiatan edukatif.
Tim berharap, melalui edukasi yang diberikan, Desa Sumbermanjing Kulon dapat memperkuat ketahanan pangan rumah tangga sekaligus menjadi desa percontohan dalam upaya mengentaskan krisis pangan. Konsep pertanian berkelanjutan yang ditawarkan berfokus pada metode vertikultur, khususnya untuk tanaman bumbu dapur, yang dinilai dapat dikembangkan lebih lanjut untuk menggali potensi pertanian atau perkebunan warga.
Kepala Desa Sumbermanjing Kulon, Kariyuti, menyatakan kedatangan Tim PKM-PM UB membantu meningkatkan keterampilan warga dalam penanaman cabai dan bawang merah menggunakan metode vertikultur yang baru mereka ketahui. Ia menilai metode tersebut efektif untuk mengembangkan model penanaman bumbu dapur dan menyatakan komitmennya untuk melanjutkan serta mengembangkan program yang telah dirintis mahasiswa.
“Harapannya semoga dengan rencana pengembangan tersebut Desa Sumbermanjing Kulon dapat menjadi desa percontohan bagi desa-desa lainnya,” kata Kariyuti.
Tim Ladang Berbagi Bersama terdiri dari empat mahasiswa Fakultas Hukum UB, yakni Shalsa Bila Agustina, Dhenasya Sukma Hardaningtyas, Sinatrya Vian Firdaus, dan Nico Ari Wijaya. Mereka lolos seleksi PKM-PM dan dijadwalkan berkompetisi pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-36 di Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, pada akhir November 2023, dengan bimbingan Rumi Suwardiyatidan dan Daru Adianto.

